Oleh: Fajar
 
Ada yang berbeda pada hari pertama kegiatan  Pesona Ta’aruf (PESTA) 2015 dengan PESTA 2014. Tidak ada lagi sikap arogan dan bentakan dari Pemandu Barisan (PB) selama peserta memasuki area utama PESTA. Tahun ini, peserta yang tidak membawa perlengkapan hanya diberi hukuman sederhana, seperti adzan atau melantunkan ayat kursi dan surat pendek. Selain itu, tidak ada pula hukuman fisik yang diterapkan PB terhadap peserta.  Salah seorang PB, Dimas Hilmi mengatakan bahwa PB tidak mengalami kesulitan dalam menertibkan peserta, meskipun tanpa ada bentakan. Enggak, enggak..tetap disiplin. Sama aja (kesulitan yang dihadapi dengan tahun kemarin),” ujar Dimas
Beberapa minggu sebelum kegiatan PESTA berlangsung (3/8/15), pihak Steering Committee (SC) PESTA, Wakil Rektor (Warek) III dan Direktur Kemahasiswaan sudah bersepakat untuk menghilangkan kegiatan yang tidak mendidik, seperti kekerasan fisik maupun verbal.
Poin utama dari kesepakatan tersebut menyebutkan bahwa PESTA sebagai kegiatan orientasi mahasiswa baru UII akan dilaksankan dengan dilandasi prinsip-prinsip keislaman, profesionalisme dan pendidikan manusia dewasa  dengan menghindari aktivitas-aktivitas yang tidak mendidik (pembodohan/perpeloncoan/kekerasan fisik maupun verbal).
Sebagai bentuk komitmen dari realisasi kesepakatan tersebut, Abdul Jamil selaku Warek III juga turun langsung untuk mengawasi pelaksanaan PESTA. Beliau menuturkan bahwa pelaksanaan PESTA tahun ini lebih disiplin dibandingkan dari tahun kemarin. Namun, beliau menambahkan bahwa kedisiplinan peserta tidak diikuti dengan kedisiplinan panitia. Beliau menyampaikan bahwa masih banyak panitia yang menggunakan kendaraan saat memasuki kawasan boulevard dimana seharusnya hal itu tidak diperbolehkan.Saya setuju dengan ini (ospek tanpa kekerasan). Ini kan konsep pendisiplinan, tapi masalahnya, panitianya juga enggak disiplin, itu persoalannya. Masa masih ada panitia masuk (kawasan bulevard). Seharusnya (panitia) memberikan contoh. Kalau mau masuk ya mestinya sebelum jam sekian (jam 5),” terang Abdul Jamil.
Di lain pihak, Ketua SC  Ryan satriya mengatakan bahwa pelanggaran tersebut sudah ditangani oleh Komisi B. Dia mengatakan bahwa panitia yang melanggar telah didata oleh Komisi B untuk dilakukan evaluasi pada acara PESTA hari berikutnya. Dia juga menambahkan bahwa memang ada panitia yang diperbolehkan untuk keluarmasuk boulevard, seperti Departemen Konsumsi dan HUMASTRANS (Humas dan Transportasi). “Kalau masalah itu (pelanggaran panitia) nanti sudah ditangani oleh teman-teman komisi B. Sudah didata temen-temen panitia (yang melanggar)  dan harapannya besok itu tidak ada  hal seperti itu.  Karena kita keluarmasuk motor itu, karna hanya diizinkan untuk temen-temen konsumsi dan humtrans” demikian tambahnya.
Fajar Suryanto selaku salah satu bagian inti Organizing Committe(OC) membenarkan pelanggaran tersebut. Namun dia juga mengatakan bahwa hal itu terjadi karena ada sebagian panitia yang lembur. Alhasil  jadinya telat. “ disurunya dateng jam 03.00. kalau yang mungkin datang itu ( yg makai motor), mungkin telat. Dan kami berusaha nyampe disini dengan cepat. Masalahnya banyak juga yang lembur, perkab pun tadi malam lembur” imbuhnya.
Masalah lain yang timbul di hari pertama kegiatan PESTA  yakni masih ada sebagian orang yang berolahraga pagi di lokasi yang semestinya tidak diperbolehkan  selain peserta PESTA. Andika surya bagaskara selaku staf Departeemn Keamanan mengatakan bahwa hal itu disebabkan karna kurangnya koordinasi antar divisi keamanan. “ itu ada miss komunikasi , koordinasi antara keamanan. Kan setau saya yang diblokir itu hanya kendaraan. Ternyata pihak SC sendiri mintanya orang-orang joging juga ga boleh lewat. Jadi, setelah dapat peringatan seperti itu, kami jadi membenahi diri  langsung.” imbuhnya.
DI sisi lain, Beni Suranto selaku Direktur kemahasiswaan juga terlihat turun langsung di pelaksanaan PESTA tahun ini. Beliau juga memberikan statemen seputar kegiatan PESTA. Beliau mengatakan bahwa seharusnya orientasi kegiatan ini relevan dengan harapan  dosen  maupun orang tua peserta, yaitu berorientasi pada keteladanan, sehingga semestiya panitia menjadi sosok yang dapat di teladani oleh mahasiswa baru. Tidak boleh ada kesenjangan antara panitia dan peserta.” Yang kita inginkan, bahkan beberapa harapan yang berkembang di dosen, orang tua mahasiswa itu adalah bagaimana orientasi itu berbasis keteladanan. Jadi panitia itu harus sosok-sosok yang  bisa di teladani. Kalau ngga bisa di teladani, gimana ? dia yang bimbing adik-adiknya”ujar beliau.
Untuk mendukung hal tersebut, beliau melakukan inspeksi pada sejumlah panitia di berbagai titik lokasi acara. Menurutnya, untuk tahun ini sudah adil. Hukuman bagi peserta yang terlambat juga  berlaku untuk panitia. “ saya tadi di perempatan FTSP saya ngecek misalkan, owh ini ada yang dorong kan motornya (dia bertanya) kenapa  ko’ dorong ? owh telat. Kemudian ta’ cek panitia bagaimana kalau telat ? kemudian ta,liat ternyata panitia juga dorong. Berarti fear” tegas beliau.
Beliau  mengapresiasi panitia PESTA tahun ini karna di tengah waktu yang mepet mereka tetap dapat menjalankan kegiatannya dengan baik. “ saya kira memang yang perlu di apresisasi dari panitia adalah dengan mempetnya waktu, ya Alhamdulillah dengan segala kekurangannya bisa melaksanakn gitu. Karna memang sebenarnya PR terbesar dari lembaga ini ( LEM ) adalah jadi kalau bisa acara sebesar ini seharusnya dipersiapkan jauh-jauh hari. Bahkan kalau saya punya rencana, ada semacam saembara, adu konsep orientasi. Jadi apa yang dilakukan di masa orientasi benar-benar dapat dipertnggungjawabkan.” tuturnya.
Bagikan: