Image by : Yuniar Trias Fatimah

Sudah satu minggu, semenjak di drop out (DO) dari kampusnya, Bogel mencoba menjadi pedagang pempek. Dia berjualan dari jam 3 sore sampai jam 10 malam. Hari itu, pikirannya kacau, guratan wajahnya suram dan dingin tanpa ekspresi. Jelas sekali pergolakan batinnya bergelombang besar. Hari itu, hari pertama dia berjualan pempek. Dia habiskan separuh waktu berjualannya dengan merenung.

Bogel di DO karena tergabung dalam massa aksi demonstrasi. Dia dan belasan kawan yang lain menggelar aksi demonstrasi untuk menentang kenaikan biaya kuliah yang semakin tak mampu dijangkau. Bogel menentang karena dia sadar kalau orang tuanya tak mungkin mampu menutupi biaya kuliahnya. Pilihannya waktu itu, dia berhenti kuliah atau menggunakan hak menyampaikan aspirasinya ke rektorat. Dan ia memilih pilihan kedua.

Selama satu bulan, Bogel beserta kawan-kawannya sudah meminta audiensi ke rektorat- terutama rektor, untuk musyawarah bersama-sama mencari solusi. Namun, permintaan mereka tak digubris. Tidak ada perwakilan pihak rektorat yang mengakomodasi. Karena kesal sudah bertumpuk, saat itu juga, Bogel menginisiasi untuk menggelar aksi demonstrasi di depan rektorat. Mendengar usulan Bogel, belasan kawan-kawannya ikut berapi-api merespon ajakan Bogel. Mereka langsung memutuskan kalau aksi demonstrasi dilakukan besok pagi. Semuanya berlangsung cepat, tidak ada persiapan khusus. Bagi Bogel, mental perjuangan itulah modal utama dan khususnya.

Keesokan harinya, massa demonstrasi berkumpul di depan kantin kampus, Kantin Melati namanya. Jumlah total demonstran yang ikut hanya lima belas orang. Mereka tidak berhasil mengajak kawan-kawan mahasiswa yang lain. “Ayo-ayo bergerak kawan-kawan,” teriak Bob, salah satu demonstran. “Yang lain memang pengecut! Mau-maunya nurut sama rektorat!” sambung Bogel.

Pagi itu, alam raya seolah mendukung yang diperjuangkan para anak-anak muda itu. Cuaca, angin, semua bergerak seirama dengan langkah kaki mereka. Bogel yang di tengah-tengah massa, menengok ke kiri lalu ke kanan, dia tersenyum, Bogel hanyut bersama semangat perjuangan kawan-kawannya. Bogel mendongak, melihat ke arah matahari, seakan menyerap seluruh energi-energi alam lalu dihimpun untuk menjadi bahan bakar hari itu. Tiba di halaman rektorat, semua berkelebat cepat, para demonstran bergantian berorasi, menumpahkan semua yang sudah menumpuk di dada.

Sudah dua jam, para demonstran menyampaikan aspirasi. Cara pengungkapannya bermacam-macam. Ada yang berteriak-teriak saat berorasi, menjerit menangis, membaca puisi, bernyanyi, dan sebagainya. Akan tetapi, keadaan yang sia-sia tak dapat ditentang. Bogel dan yang lain menyadari bahwa usaha belum membuahkan tercapainya tujuan. Satpam pun nampak tak berniat mengamankan apa yang dilakukan para mahasiswa ini. Mereka bersikap biasa saja sebagaimana seperti biasanya. Ada yang duduk sambil membaca koran, ada yang tertawa saat menonton televisi, ada yang merokok di kursi halaman rektorat.

Demonstransi hari itu dianggap tidak perlu pengamanan ekstra oleh satpam. Biarkan saja para mahasiswa itu melakukan hal yang tidak jelas, begitu batin salah seorang satpam. Mungkin saja semua satpam yang dekat dengan rektorat beranggapan sama seperti itu.

Menyadari begitu banyak detik yang terbuang percuma, para demonstran merangsek masuk ke rektorat. Satpam-satpam kaget bukan main, mereka kelabakan berlarian menuju ke arah para demosntran. Ketika sampai di lobi rektorat, satpam-satpam mencoba menghalang-halangi. Para petugas keamanan tersebut dengan liar mendorong, berusaha menarik keluar massa dari lobi rektorat. Adu fisik tak terelak. Siapa sangka, malapetaka yang tak diprediksi terjadi. Ridwan, salah satu demonstran terdorong jatuh lalu mengenai ujung meja lobi rektorat yang bahannya dari kaca.

Seketika, kerusuhan berubah menjadi keheningan. Wajah-wajah mereka dingin pucat. Ridwan pingsan dengan kepala terluka. Darah mulai keluar membasahi lantai lobi. Melihat kawannya jatuh terjerembab. Bob berusaha menolong Ridwan. Namun, keheningan hanya sesaat. Massa demonstrasi yang lain makin menjadi-jadi. Api-api kemarahan makin membara. Adu fisik makin mengencangkan urat. Satpam terus berusaha membendung. Satu per satu satpam kampus yang berjaga di tiap fakultas datang membantu. Mendapat bantuan tenaga baru, satpam berhasil mendesak para demonstran keluar lobi. Massa demonstrasi kalah tenaga. Mereka terdorong sampai ke halaman rektorat.

Nasib baik mendatangi. Setelah gagal menuju kantor Pak Rektor, massa demonstrasi tak sengaja melihat rektor masuk ke sebuah mobil hitam yang terparkir di salah satu sudut rektorat. Bagai ular lapar bertemu mangsa, tanpa komando, para demonstran berlari mengejar mobil yang dinaiki rektor mereka. Syyuung… dari arah paling belakang massa demonstransi, sebuah batu berukuran kepalan tangan tentara terbang melayang, lalu cetaaar… mengenai kaca belakang mobil. Mobil berhenti. Pak Rektor keluar dengan muka merah. Rektor berteriak meminta para mahasiswa itu untuk berhenti. Para demonstran pun berhasil dilumpuhkan oleh satpam-satpam yang terlihat kelelahan, begitu pun Bogel dan kawan-kawannya.

Bogel tersangka pelempar batu. Pak Rektor kesal dengan ulah mahasiswanya. Dia tidak mau mendengarkan apapun yang para mahasiswanya perjuangkan.

Dua hari pasca demonstrasi, terdengar kabar bahwa rektor mengeluarkan Surat Keputusan tentang pemecatan lima belas mahasiswa terkait aksi demonstrasi. Kampus masih seperti biasanya, monoton, senyap, tidak ada gejolak untuk membela atau memperjuangkan ke-15 mahasiswa tersebut agar tidak dikeluarkan.

Kehidupan kampus terus berjalan. Nasib Bogel dan lainnya luntang-lantung. Mereka kehilangan arah. Mereka kebingungan apa yang mesti dilakukan. Mereka belum siap dengan skenario ini.

Ridwan mendapat tiga jahitan di kepala bagian belakangnya. Kondisinya baik. Dia sudah tidak lagi dirawat di rumah sakit. Bogel bersyukur mendengar kabar itu.

Meski sudah mandi, sarapan seadanya, pagi itu Bogel terlihat tidak bersemangat. Gairah hidupnya lenyap. Beberapa hari semenjak semua peristiwa itu, Bogel membeku.

Mang Jono, pedagang pempek langganan Bogel khawatir semakin hari Bogel tak sedikit pun berekspresi. Mang Jono tahu kalau Bogel di DO dari kampusnya. Kabar itu cepat tersebar di kalangan langganannya. Bogel hanya numpang duduk di warung Mang Jono sore itu.

Kali ini Mang Jono berganti peran. Pedagang pempek ini ingin menghibur Bogel. Sayang, dia gagal. Kelakar dari Mang Jono tidak mempan pada Bogel. Biasanya Bogel yang suka berkelakar dengan Mang Jono.

Mang Jono coba membujuk Bogel agar mau membantu menjualkan pempek. Mang Jono berhasil. Sadar bahwa dia membutuhkan uang, Bogel menerima tawaran Mang Jono.

Pada hari pertama Bogel berjualan pempek, separuhnya dia habiskan dengan merenung. Tiada badai, tiada petir. Berurai air matanya sambil menatap selembar foto yang di dalamnya, ayah, ibunya dan keluarganya tersenyum.

Penulis: Tantowi Alwi – Mahasiswa Teknik Elektro 2012