Awalnya aku ingin berpuisi untuk hal ini, namun sepertinya kurang pas. Harus diungkapkan dengan kesederhanaan, apa adanya. Terlalu panjang dan memutar-mutar seperti angka “8”, jika ditulis dengan puisi.
            Di pusat kota, siang hari, ketika sang perwujudan Dewa Rah –matahari sedang ganas-ganasnya memelototi setiap kepala manusia. Di jalan raya yang padat, macet, bahkan sama sekali tidak berjalan. Bus Trans Jogja dengan ketidakpeduliannya menyemburkan asap hitam, tidak karuan. Ingin rasanya aku sumbat knalpot yang tak tahu diri itu, dengan tiang bendera, hingga tembus ke mesin dieselnya yang sudah usang, sumber pembakaran sialan. Lalu, pengendara motor yang saling serobot mencari posisi terdepan, seperti sekumpulan semut yang berebut keluar dari sarang, tak tahu adat. Ingin juga aku membunyikan klakson, menggeber motorku dan turun, lalu melepas helmku. Membantingkannya di aspal yang mengkilap karena kepanasan, lalu meledak seperti bom atom. Belum lagi di sudut trotoar, lampu berkerlap-kerlip berwarna merah, dilihat semua orang, menunjukkan angka 152. Sialan, aku harus seperti ini 152 detik.  Kakiku terasa panas, seperti terbakar. Keringat terasa mengalir dari balik bajuku, deras, mirip Sungai Progo. Di kananku ada motor tua, dengan oli samping yang knalpot dan mulut pengendaranya mengeluarkan asap, karena dia sedang merokok menggunakan robot, vape namanya -kalau tidak keliru. Dihisap dalam, disemburkan, menyatu dengan asap knalpotnya, membentuk reaksi kimia, lalu berhembus menerpa wajahku, sampai ke hati, merangsang saraf-sarafku, lalu menimbulkan emosi.
            Di tengah kesemrawutan yang carut marut, aku melihat seorang bapak paruh baya, berjalan kaki, melawan arus arah kendaraan yang berada di jalurku. Berkeringat, kulitnya hitam, mengacungkan dua jarinya sambil tersenyum dan mengenakan topi yang tidak pernah aku lihat dijual di toko, bertuliskan “Kedaulatan Rakyat”. Oh dia juga membawa koran, jadi dia adalah penjual koran. Maksud acungan dua jari nya adalah dua ribu, itu dugaanku untuk harga salah satu koran yang dijualnya. Dengan senyumnya, serasa di jalan itu bagaikan di sebuah oasis atau di puncak Kaliurang, Telaga Putri yang sedang mendung.  Semua yang dilihatnya berjalan lambat, slow motion. Serasa ia menawarkan dagangannya kepada turis – turis yang berbahagia, seperti sedang menyambut hari lebaran yang tinggal besok pagi
            Saat ia berada tepat di depanku, seperti biasa, aku tidak membeli dagangannya. Alasan yang pertama, aku tidak mau bersusah payah berdiri, merogoh saku belakang celana, mencari uang, menyerahkan kepadanya, lalu menunggu kembalian. Belum lagi aku mengendarai motor yang harus dikopling setiap pindah gigi. Akan kesulitan membawa koran itu, karena seperti biasa, aku sedang tidak membawa tas.
            Lalu ia mulai berjalan meninggalkanku, ke arah pengendara di belakangku. Tapi belum habis pandanganku kepadanya, aku sudah mulai masuk, perlahan namun pasti, ke alamku sendiri, MELAMUN. Aku berfikir, dan berkhayal, tapi tidak ngawur, tidak juga ilmiah, kira-kira saja, aku menerka-nerka. Pertama, aku melamunkan bagaimana ia berpamitan dengan anaknya sebelum berangkat berjualan dengan sepedanya itu, yang dia sandarkan di tiang lampu merah. Berangkat setelah adzan subuh berkumandang. Lalu, dengan sepedanya menuju ke pangkalan koran, tempat dipasoknya koran dari percetakan. Memesan beberapa eksemplar, dicatat oleh petugas yang berada di sana, lalu membawa dan menjualnya ke lampu merah. Begitu dia sampai, jalan masih sepi. Hanya dilalui pedagang yang akan berjualan di pasar, tukang jaga sekolah yang harus membuka gerbang sebelum murid pertama datang, security yang terkantuk setelah jaga malam, orang-orang yang kebetulan libur lalu bersepeda, damai dan sejuk. Lalu ia mengenakan topi pemberian dari salah satu surat kabar yang juga ia jual, tanda dedikasinya selama beberapa tahun. Menyandarkan sepeda setianya, seperti posisi yang saat ini aku lihat.
            Ah bapak itu, betapa tulus hatinya, seakan Dewa Rah memanjanya, menghindarkan pancarannya yang menyengat dari si penjual koran. Melindungi dan mengikuti, seperti tukang ojek payung yang setia mengikuti pelanggannya.
            Tidak lama setelah lamunanku memikirkan dewa matahari, aku melihat seorang wanita yang lebih tua dari si penjual koran. Ia melewati para pengendara motor, seperti air sungai yang menghindari batu batu besar, nampak tak peduli. Yang ia tuju hanya satu, kaca kanan mobil yang sedang berhenti menunggu lampu merah menjadi hijau -ajaib benar lampu itu. Saat ia menghampiri mobil pertama, tak sedikit pun kaca mobil itu terbuka. Ia menunggu sebentar, lalu terlihat bayang-bayang semu dari balik kaca, lambaian tangan, seperti sedang mengucapkan good bye, see you tomorrow, atau see you yesterday, atau see you next year, tapi kalau tidak salah itu seperti “minggat lah, enyah dari pandanganku, bedebah tengik, aku sudah lihat kau ratusan kali tiap melintasi jalan ini, tak ingatkah kau? Aku selalu menolak mu!” Betapa kontras hal itu terjadi di dalam kabin mobil mewah yang dingin, sejuk sekali, angin dari AC nya mengembus di rok sebuah boneka penari hawai dan mengibar-ngibarkannya. Nenek itu bergeming sama sekali, hal itu sudah biasa, sudah kulina (baca kulino, ‘o’ nya sama seperti saat kita mengucapkan kata ‘ompong’) ia rasakan. Semacam lubang kecil di jalan saat bersepeda. Tak berarti, ya Cuma gronjal sedikit.
            Ia lalu hinggap ke mobil lain lagi yang tak kalah mewah, dibungkukkan sedikit badan nya, tengadahkan tangan, sedikit senyum, dan berkata, “Nyuwun, Den” (“Minta, Den”). Dengan halus kaca itu terbuka sedikit, jelas sudah otomatis, pakai power window, tinggal pencet pakai jari telunjuk sudah bisa turun. Terlihat ujung tangan dari dalam mobil keluar, posisinya berada di atas tangan wanita tua itu dan menjatuhkan uang kertas, seperti peribahasa : “Tangan di atas lebih baik daripada…….” (lanjutkan sendiri lah). Lalu kembali menutup kacanya dengan power window lagi. Wanita itu terlihat bahagia, dia tak henti-hentinya mendoakan agar rezeki sang dermawan itu lancar, perjalanan selamat, keluarga bahagia, dan masuk surga. Padahal, dari dalam mobil yang sudah tertutup rapat, pengendara dermawan itu hanya melihat wanita tua yang sedang komat-kamit tersenyum, membungkuk, lalu pergi. Justru ini yang namanya ‘keikhlasan’, begitu memberi, langsung melupakan.
            Ia melanjutkan berjalan ke arahku, aku sudah tergopoh-gopoh mencari uang yang mungkin sudah terlupakan berada di saku jaket, atau saku celana. Terpancing untuk ikut memberi. Namun, tiba-tiba suara klakson terdengar di mana-mana, seperti ada kampanye pemilihan umum dan terdengar juga seperti kepanikan orang yang sedang dikejar gelombang tsunami. Oh sial, ternyata lampunya sudah jadi hijau, aku bikin macet selama beberapa detik. Maaf ya Bu Pengemis, aku belum bisa memberi. Mungkin belum rezekimu menerima sedikit dariku dan bukan rezekiku untuk berbuat baik kepadamu.
            Seperti adegan tambahan di saat sedang menampilkan tulisan nama artis dan sponsor di akhir sebuah film. Sebenarnya masih ada 3 orang lagi yang aku lamunkan di lampu merah, di antaranya penjual tongkat narsis (tongsis), penjual balon gas berkarakter spongebob, helikopter, nemo, upin dan ipin, serta penjual terompet yang jika ditiup seperti memanjangkan plastik, yang akan kembali memendek saat angin berhenti dihembuskan di lubang peniupnya. Saat ditiup juga ada suara, “teeeeeeeet” kecil suaranya, tapi bernada tinggi. Membuat anak-anak usia 8 tahun ke bawah keranjingan meronta kepada bapak ibunya untuk dibelikan.
            Jadi aku ingin sedikit saja bercerita tentang mereka bertiga. Waktu itu sore hari, di lampu merah juga. Si penjual tongsis terlihat mendekati sebuah mobil pickup, bekas pengangkut pasir. Hal ini jelas tidak biasa, bahwa target pembelinya biasanya mobil mulus yang mengkilap, yang dia bisa berkaca menggunakan seluruh bodinya. Ia terlihat mengobrol sebentar dengan sopirnya. Tiba-tiba ia melompat ke atas mobil pickup itu. Aku yang berada tepat di belakangnya kaget dan heran. Lalu, dari balik antrian kendaraan, nampak sekumpulan balon gas terbang mendekat, meloncat kecil-kecil, ternyata balon gas itu dibawa seseorang, penjualnya tentu saja. Tak kalah membuatku terkejut, penjual balon gas melakukan hal yang sama dengan si penjual tongsis, melompat naik ke atas pickup. Perbedaannya adalah keringanan loncatan si penjual balon gas, yang berat beban hidupnya, eh, maksudku berat badannya sedikit meringan karena sekumpulan balon gas yang masing-masing terikat senar tipis transparan, lalu senar itu dikumpulkan menjadi satu dan digenggamnya. Tak lama juga si penjual terompet muncul, lebih kencang larinya daripada kedua penjual sebelumnya. Padahal, seharian penuh ia kepanasan berjualan sambil meniup-niup terompet kecil, yang jika ditiup seperti memanjangkan plastik, yang akan kembali memendek saat angin berhenti dihembuskan di lubang peniupnya. Saat ditiup juga ada suara, “teeeeeeeet” kecil suaranya, tetapi bernada tinggi (biar kalian ingat terompet nya).  Meloncat juga di atas pickup. Kompak mereka duduk dengan rapi, seperti pengajian di serambi masjid, duduk bersila. Lalu, sang penjual tongsis memukul-mukul balon gas yang mengenai badannya, dan berbicara dengan logat……….ngapak. Oh ternyata mereka bertiga dari satu daerah, yang menumpang sebuah mobil pickup untuk bersama-sama pulang ke daerahnya -aku tidak tahu daerah mana. Yang jelas hampir pasti, mereka tadi pagi juga berangkat bersama-sama. Juga dengan menumpang, caranya adalah sang penjual tongsis menyetop pickup, balon gas meloncat-loncat, penjual terompet datang paling akhir. Ah persahabatan yang hangat.

Oleh: Dicky Puja Pratama

Sumber gambar :  www.redio.in