Teknologi baru, tingkatkan produktivitas..

Sebuah inovasi baru tercipta di laboratorium Proses Produksi Teknik Mesin Universitas Islam Indonesia (UII). Sebuah mesin yang diharapkan mampu meringankan beban kerja pengrajin dodol dan membantu menekan biaya operator. Mesin Pengaduk Dodol Otomatis ini adalah kreasi dari Gustian Heroito dan Muhammad Frengky mahasiswa Teknik Mesin UII angkatan 2012 yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas para pengrajin dodol. Mesin ini mampu menampung sebanyak 30 Kg dodol dan hanya membutuhkan satu operator dalam sekali pembuatan. Dibandingkan dengan cara manual, dalam jumlah yang sama, membutuhkan tiga orang secara bergantian mengaduk selama enam hingga delapan jam sebelum dodol benar-benar masak.

Dengan rangka yang terbuat dari pipa besi, Gustian menjelaskan, Mesin Pengaduk Dodol Otomatis ini dibekali motor Direct Current (DC) dengan tegangan 220 volt. Bagian pengaduk dodol terbuat dari stainless steel, dibentuk menyerupai dua serok yang dipasang di atas wajan. Wajan terbuat dari plat besi yang sudah dimodifikasi sehingga dapat digunakan untuk memasak. Mesin ini mempunyai dimensi 1200 mm x 1200 mm x 1650 mm, sehingga mudah dioperasikan. Untuk perawatan, hanya perlu dibersihkan bagian belt dan wajan.

Dodol sendiri merupakan makanan khas garut. Bahan-bahannya meliputi tepung ketan, air, santan, gula merah, gula pasir, dan daun pandan. Dimasak pada suhu tertentu dan diaduk secara terus-menerus tanpa berhenti hingga masak. Mesin ini juga dapat digunakan untuk memasak jenang kudus yang dimana dalam proses masak dan bahan tidak jauh berbeda dengan dodol.

Pembuatan Mesin Pengaduk Dodol Otomatis ini terbilang cukup singkat. Sejak bulan desember tahun lalu, mereka telah mulai merancang desain. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan mulai dari desain sampai pengujian pertama ini. Mesin ini menghabiskan dana sebesar lima juta rupiah. Rencananya akan dilakukan pengujian sebanyak dua kali untuk mengetahui berbagai kelemahan dan keunggulan mesin tersebut.

Mesin ini bukan tanpa kekurangan. Dalam hal keamanan, pada bagian penutup belt masih rawan karena serpihan dari belt yang sewaktu-waktu dapat jatuh ke wajan. Walau otomatis, pencucian wajan harus bongkar pasang. Hal ini dinilai sebagai kendala yang untuk kedepannya akan dikembangkan lebih lanjut.

Dari sisi efisiensi tenaga kerja, memang mesin ini sangat efektif dan produksi juga meninggkat. Tetapi, akan ada tenaga kerja yang dianggurkan. Winny, dahulu mahasiswa SI Teknik Industri UII, menuturkan “Jahat juga sih sebenarnya. Jadi ada sekitar dua sampai tiga orang yang menganggur tapi dalam perusahaan kan lebih produktif mesin ini.” (Eko Bagus Muhibbin)