Kuliah, kampus, dan nongkrong adalah tiga hal yang sangat lekat dengan kehidupan mahasiswa. Kalian mahasiswa pasti pernah dong saat nongkrong di kampus tiba-tiba didatangi teman, kakak, atau adik tingkat yang sedang berjualan? Nah, mahasiswa yang berperan dalam mencari dana dalam sebuah acara ini disebut Danus. Danus merupakan singkatan dari Dana Usaha. Danus adalah solusi kreatif dan sangat efektif untuk menutupi kekurangan dana guna keberlangsungan sebuah acara. Ide-ide kreatif dan inovatif dari mahasiswa praktisi danus ini menghasilkan berbagai macam peluang usaha berupa produk maupun jasa. Ya bisa dibilang danus adalah tombak kemajuan sebuah acara.

Di Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) sendiri, sekarang Danus sedang menjamur. Di setiap sudut kampus tercinta kita ini terdapat gerombolan anak-anak Danus yang tengah menjajakan dagangan mereka. Barang yang mereka jual biasanya berupa makanan ringan, seperti tahu bakso, risoles mayo, kue sus, donat, dan juga air mineral. Mereka membuka lapak dagangan dan COD dengan pembelinya. Tidak jarang juga mereka berjualan di kelas. Mangsa mereka adalah mahasiswa yang kelaparan ditengah jam kuliah. Tapi tak jarang dosen pun ikut membeli dagangan mereka. Namun, ada kalanya saat tengah berjualan mereka mendapat teguran dari dosen yang kontra dan merasa danus menganggu konsentrasi di kelasnya.

Tak hanya teguran di kelas yang didapat para praktisi danus ini. Mereka yang sering kali berjualan di hall FTI juga sering ditegur oleh Satuan Pengaman (Satpam). Ya tujuan peneguran dari satpam ini tidak lain demi nama baik FTI. Sebenarnya tidak ada aturan tertulis terkait larangan berjualan di hall. Tetapi, demi kesopanan dan nama baik kampus saja. Tidak etis rasanya meja-meja hall yang semestinya digunanakan mahasiswa untuk belajar dan berdiskusi tapi dijadikan tempat membuka lapak dagangan. Dan juga tidak sedap dipandang sekiranya ada tamu apabila melihat pemandangan lapak dagangan danus di hall FTI yang layaknya pasar.

Salah satu praktisi Danus, Muhammad Aminuddin mengakatan bahwasanya dengan menjadi praktisi Danus ia dapat belajar bagaimana berwirausaha, memperluas wawasan, dan mengasah pola pikir yang lebih inovatif. Selaku praktisi danus, sangat banyak kendala yang ia hadapi, salah satunya kehilangan pasar. Menjamurnya danus membuat pembelinya berkurang. Tidak mengherankan karena di FTI hampir semua jurusan ada danus. Tetapi, hal ini tidak membuatnya berputus asa. Ia dan praktisi danus lainnya berusaha memutar otak mencari ide-ide kreatif untuk inovasi jualan.

Menurut M. Fachmi Kurniawan selaku Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FTI UII, Danus ini sendiri mencerminkan bahwa sebuah kepanitiaan perlu kemandirian dari segi keuangannya. Inilah titik awal mengapa dalam setiap kepanitiaan di UII pasti ada Danus. Ini merupakan aplikasi dari sistem Student Goverment yang kita pakai. Dimana semua kegiatan kemahasiswaan dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa. Adanya danus ini menimbulkan dampak positif dan negatif. Dari segi positifnya, mahasiswa belajar untuk profesional, mandiri, dan bertanggung jawab. Sedangkan dari segi negatifnya, dalam mencari dana praktisi danus ini seringkali menggunakan cara yang kurang tepat dan seringkali mereka lebih intensif untuk danusan dibanding kuliah.

Menurut Fachmi, pada dasarnya budaya Danus membawa kebersamaan. Sebenarnya tidak hanya divisi Danus yang harus bertanggung jawab untuk mengumpulkan dana. Semua panitia yang seharusnya bertanggung jawab. Danus pada dasarnya bertugas mengkoordinir semua panitia untuk ikut menggumpulkan dana sesuai target. Bersama-sama, saling bahu membahu mengumpulkan dana guna kesuksesan acara tersebut. Fachmi berpesan, “Danus kerjanya yang manusia aja. Jangan sampai merasa tidak dimanusiakan. Danus jangan merasa terbebani sendiri, semua panitianlah yang harus terbebani. Danus harus lebih kreatif sehingga targetan dapat dicapai.”

Untuk menjadi Danus yang sukses dan mencapai target tepat pada waktunya, tentu membutuhkan strategi-strategi yang jitu. Para praktisi Danus harus kreatif dan inovatif dalam memilih variasi barang yang akan dijual. Tidak hanya terfokus pada barang, para praktisi danus juga harus melirik prospek dari jasa. Praktisi danus harus semangat dan memiliki sikap pantang menyerah untuk mengajak panitia lain membantu divisi Danus mengumpulkan dana guna mencapai target. Sebagai mahasiswa dan orang yang terpelajar para praktisi danus harus menggunakan prinsip kerja cerdas. Dimana menggunakan otak untuk mendapatkan hasil maksimal dengan waktu yang efektif. Bekerja cerdas adalah pandai melihat peluang, memperhitungkan risiko dan mampu mencari solusi dalam penyelesaiannya. Sehingga, mahasiswa-mahasiswa praktisi Danus ini layak disebut sebagai entrepreneur muda. (Cilly Mayori)