Senin, (14/8/2017), kuliah perdana untuk Mahasiswa Baru Universitas Islam Indonesia (UII) tahun ajaran 2017/2018 untuk Program Strata 1 dan Diploma 3 dari seluruh fakultas resmi dilaksanakan. Acara yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut bertempat di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta. Kegiatan kuliah perdana tersebut merupakan kegiatan pertama bagi para mahasiswa baru sebelum mengikuti rangkaian ospek yang bernama PESTA UNISI 2017 pada tanggal 16, 18, dan 19 Agustus 2017.

Pergelaran kuliah perdana mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018 ini diselenggarakan oleh Direktorat Akademik UII. Dimeriahkan dengan sejumlah stand yang disediakan oleh panitia di utara Auditorium Kahar Muzakkir, stand yang berjumlah sepuluh tersebut diperuntukkan bagi lembaga kemahasiswaan di UII untuk memberikan informasi kepada mahasiswa baru terkait lembaganya. Agus Taufik, selaku Wakil Rektor III, yang Profesi temui di pelataran depan Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir mengungkapkan bahwa stand tersebut disediakan agar ketika masuk ke wilayah kampus kesan yang tercipta adalah suasana yang indah, bagus, tertib, dan tidak berantakan.

Terdapat sembilan stand diisi oleh organisasi mahasiswa internal UII, sedangkan satu stand oleh organisasi eksternal UII yaitu Himpunan Mahasiswa Islam- Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO). Namun, beberapa organisasi eksternal lain yang hadir tidak mendapatkan stand. Ketua Koordinator Komisariat HMI-MPO UII, Ahmad Muttahar menjelaskan bahwa pada awalnya pihak HMI-MPO telah mengajukan izin kepada Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII untuk memasang banner yang bertuliskan “Selamat Datang” bagi mahasiswa baru UII. Ia mengaku sempat terjadi miskomunikasi dengan DPM UII, sehingga HMI-MPO batal memasang banner tersebut. Namun, kemudian pihaknya mendapat tawaran dari panitia kuliah perdana untuk mengisi satu stand yang masih kosong. “Oke kita ambil, kan ditawari. Baru kita minta Warek III , dan Warek III meng-acc, ada buktinya,” ujar Ahmad. Ia juga menegaskan jika pihaknya mengikuti aturan dari panitia. Lebih lanjut ia mengatakan aturan dari panitia yaitu melarang seluruh organisasi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun institusi menyambut dari boulevard karena akan ditertibkan. Namun, berdasarkan pantauan Profesi di lapangan, banyak organisasi mahasiswa baik eksternal maupun internal UII yang berkumpul melakukan penyambutan mahasiswa baru di sekitaran depan Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir.

Seperti salah satu organisasi eksternal UII yang ada di sekitaran boulevard yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ketika disinggung mengenai PMII yang tidak membuka stand seperti halnya HMI-MPO, Fauzi selaku ketua Komisariat PMII Wahid Hasyim UII, menilai jika regulasi yang mengatur boleh atau tidaknya organisasi eksternal mengisi stand tersebut tidak jelas. Seakan membenarkan peraturan panitia terkait pelarangan organisasi melakukan penyambutan diluar tempat yang sudah disediakan, Fauzi mengaku pihaknya telah dua kali didatangi satpam kampus yang memintanya untuk tidak mengibarkan bendera. “Satpam itu sudah mendatangi kami, anak KAMMI juga di-samperin, agar menutup atau melipat bendera. Kami sampaikan, kami tidak akan mengganggu prosesi kuliah perdana, kami menjaga ketertiban disini, kami mahasiswa UII,” ujarnya. Ia menyayangkan situasi tersebut, karena menurutnya peraturan dari Rektorat harusnya objektif. Tambahnya, jika memang di UII terdapat aturan organisasi eksternal tidak boleh mengibarkan benderanya pada acara kuliah perdana, maka seharusnya semua organisasi eksternal tidak diperbolehkan, baik dengan regulasi buka stand ataupun tidak.

Sementara itu, Guntur Akbar, sekretaris organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Fakultas Hukum UII menjelaskan kepada Profesi terkait kehadiran GMNI pada pelaksanaan kuliah perdana mahasiswa baru UII. Guntur mengatakan memang setiap pelaksanaan kuliah perdana baik saat ini maupun tahun-tahun sebelumnya, GMNI selalu hadir di kampus UII untuk menyambut para mahasiswa baru. Selain itu, GMNI juga hadir untuk mengenalkan paham, visi-misi, ideologi, dan lainnya kepada mahasiswa baru. Ketika ditanyakan mengenai pihaknya yang tidak mendapatkan stand seperti halnya beberapa organisasi eksternal lain, ia menanggapi dengan santai. “Namun, kami lebih melihat bahwa kami yang disini, yang tidak dapat membuka stand, kami bisa bersama. Dalam hal ini kami dapat membangun komunikasi dengan baik, tidak ada yang namanya perseteruan yang lebih serius tentang pengkaderan atau yang lain-lain,” kata Akbar.

Hadirnya beberapa organisasi eksternal kampus, diantaranya yaitu HMI-MPO, PMII, GMNI, KAMMI, dan HMI-Dipo memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda. Pada dasarnya mereka melakukan penyambutan mahasiswa baru sekaligus memperkenalkan organisasinya masing-masing. Seperti melakukan orasi, menyanyikan lagu kebangsaan dan mars organisasinya, serta membagikan brosur kepada para mahasiswa baru. Seperti yang diperlihatkan oleh PMII, beberapa anggotanya mengenakan atribut dengan tema permasalahan agraria. Sementara itu, berdasarkan penuturan dari beberapa narasumber yang telah kami wawancarai, hadirnya mereka pada pelaksanaan kuliah perdana ini mendapatkan respon yang cukup baik dari para mahasiswa baru. Seperti yang diungkapkan oleh ketua Koordinator Komisariat HMI-MPO UII, Ahmad Muttahar mengaku jika mahasiswa baru antusias dan berpengaruh terhadap kaderisasi organisasi mereka yang terus meningkat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sempat terjadi sedikit silang pendapat antara kawan-kawan dari beberapa organisasi eksternal dengan pihak Rektorat. Agus Taufik, selaku perwakilan rektorat, meminta agar atribut organisasi mereka diturunkan untuk menjaga ketertiban dan kondusif. Namun, beberapa kawan organisasi eksternal menolak karena beranggapan sudah mendapat izin dari DPM UII untuk melakukan penyambutan mahasiswa baru di UII. Diskusi antara kawan dari beberapa organisasi eksternal dengan Wakil Rektor III berlangsung tidak lama dengan hasil Agus Taufik mengizinkan atribut mereka dapat tetap dipasang. “Karena sudah ada izin dengan DPM-U, saya mengizinkan sepanjang melakukannya dengan tertib, tidak menimbulkan situasi yang memancing suasana yang tidak kondusif,” ungkap Agus. (Adityo Nugroho)