Pelaksaanan PESTA UNISI 2017 yang terhitung tidak sedikit masih diwarnai pungutan biaya dari peserta untuk makan.

Pekan Orientasi dan Taaruf Universitas Islam Indonesia (PESTA UNISI) 2017 merupakan kegiatan penyambutan mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII). Tahun ini rangkaian kegiatan berlangsung selama 3 hari yaitu tanggal 16 Agustus 2017 untuk pra-PESTA dan tanggal 18-19 Agustus untuk PESTA.

Suatu kegiatan ataupun event akan memerlukan pendanaan untuk pelaksanaannya, begitu pula PESTA. Beni Suranto selaku Direktur Direktorat Pengembangan Minat/Bakat dan Kesejahteraan Mahasiswa (DPBMKM) memberikan penjelasan bahwa sumber dana untuk perhelatan PESTA maupun PEKTA berasal dari mahasiswa baru yang sudah masuk kedalam komponen Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). “Yang pertama itu ada dana proyek, dana proyek itu sudah masuk komponen SPP. Detail Komponen SPP sudah mencantumkan anggaran untuk Pekan Ta’aruf. Kalau maba tahun ini bayarnya itu Rp71.500,00. Kemudian Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) yang minta ke rektorat, kemudian kita kasih sesuai dengan jumlah mahasiswa baru yang masuk. Misalkan tahun ini 4.700 sekian.” Sementara jumlah mahasiswa baru yang terdaftar di tahun akademik 2017/2018 sebanyak 4.760. “Bayangkan saja 4700 kali 70  itu berapa, hampir 300 juta lebih. Sudah besar itu, udah bisa mobil satu apalagi masih narik dari mahasiswa juga kan,” ujar Beni. Ia menambahkan bahwa 70% dari total dana akan dialirkan ke pekan taaruf tingkat fakultas, sementara sisanya digunakan di tingkat universitas.

Beni mengungkapkan bahwa pihak rektorat juga memberikan dana tambahan untuk pelaksanaan PESTA UNISI tahun ini, yaitu dana infrastruktur seperti panggung, tenda, sound system, dan sebagainya. “Tahun ini kita kasih dari kemahasiswaan 65 juta yang universitas, mereka sebenarnya minta sekitar lebih sekitar hampir Rp100 juta lah. Tapi kita tidak bisa ngasih full,” ujar Beni. Sementara Mu’af Saidi, selaku Koordinator Komisi C PESTA UNISI 2017, mengungkapkan bahwa kebutuhan dana untuk perhelatan PESTA UNISI 2017 menghabiskan dana sekitar Rp 170 juta.

Pada tahun ini dana proyek yang masuk dalam komponen SPP mengalami kenaikan sebesar 10% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2016 dana proyek sebesar Rp65.000,00 per mahasiswa menjadi Rp71.500,00 per mahasiswa pada tahun 2017. “Sebenarnya OSPEK PESTA maupun PEKTA sebenarnya habisnya berapa per anak termasuk konsumsi jadi tidak perlu iuran itu sebenernya berapa. Hanya waktu itu tidak ada informasi dari mahasiswa sehingga komponen di SPP hanya normatif dinaikan 10%. Jadi tahun lalu hanya Rp65.000,00 sekarang jadi Rp71.500,00,” ungkapnya. Kenaikan ini terjadi dikarenakan pada PESTA tahun lalu pihak rektorat hanya menyediakan inftrastruktur, sedangkan untuk PESTA UNISI tahun ini dalam bentuk uang tunai. “Yang dikelola teman-teman panitia kan yang dana proyek itu yang per mahasiswa tahun lalu sekitar Rp65.000,00. Mungkin yang ke universitas tidak sampai Rp20.000,00. Tapi sebenarnya sudah banyak yang kita bantu tenda, panggung, sound, dan sebagainya. Jadi sebenarnya tidak banyak-banyak banget yang harus ditanggung oleh teman-teman panitia,” imbuhnya lagi.

Namun, diluar perhitungan itu semua, pada tahun ini peserta PESTA UNISI masih harus membayar uang iuran makan serta penunjang kegiatan Social Project (Sospro) dan coreo. Mu’af menjelaskan bahwa uang konsumsi ialah sebagai pemasukan eksternal, sementara uang penunjang Sospro dan coreo untuk mempermudah mahasiswa baru selama kegiatan berlangsung. ”Jadi gini, mahasiswa baru memang kita suruh untuk iuran untuk makan dan untuk kertas koreo. Itu sudah masuk disitu. Agar tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang ribet mencari kertas kemana-mana dan mempersulit mereka. Kalau kita yang belikan kan warnanya kompak, karena biasanya setiap toko warnanya berbeda-beda.. Ini juga perintah dari Rektor agar maba tidak dipersulit, jadi mahasiswa baru hanya terima jadi,” tuturnya. Namun di lain pihak, Beni menyayangkan adanya hal tersebut, “Makan juga masih iuran. Itu yang kemudian saya kritisi. Pokoknya tahun depan tidak ada lagi seperti itu. Tahun depan ya mahasiswa bayar itu sudah termasuk bayar (makan). Meskipun memang itu kurang, tapi kan kesannya seperti dobel-dobel bayarnya. Itu yang sebenarnya kalau menurut saya itu tidak bagus,” ungkapnya.

Pihak rektorat menyoroti adanya kemungkinan revitalisasi Student Government (SG), sekadar untuk memastikan tanggung jawab dari setiap mekanisme kelembagaan di UII. “Kita hanya membantu membagi-bagi saja sesuai dengan prioritas, itu uang mahasiswa semua. Bukan uang saya, bukan uang DPM, makanya semuanya harusnya accountable kalau sudah kaitanya dengan keuangan. Karena itu punya nya ribuan mahasiswa, tidak boleh main-main,” ujarnya. Ia juga menambakan seharusnya ada bentuk laporan pertanggungjawaban dari dana yang telah diberikan pihak rektorat. “Kalau mulai yang tahun lalu itu kan kami di kemahasiswaan punya mekanisme ada surat pernyataan, laporan mulai tahun lalu sudah ada. Hanya karena tahun lalu kami ngasihnya barang kan tidak perlu mereka tanggung jawab karena tinggal pakai saja. Kalau tahun ini seharusnya mereka ngasih laporan karena kami kasih dana,” tambahnya. (Nur Jati Lantang M., Tiara Habiba Jiddah, Hartisa Taqiyya M., M. Iqbal S.)