Oleh : Annisa Rositasari dan Retno Paras Rasmi

Penampilan Mahasiswa Baru dalam Aksi Menyuarakan Kasus Korupsi (foto: Annisa Rositasari)

Sabtu, 19 Agustus 2017, diadakan kegiatan aksi dalam Pekan Orientasi dan Taaruf Universitas Islam Indonesia (PESTA UNISI) yang mengangkat tema tentang “Korupsi”. Setiap jamaah diwakilkan anggotanya untuk yang nantinya akan menjadi satu kelompok maju ke atas panggung menyampaikan aspirasi mereka. Kegiatan aksi tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu menyampaikan aspirasinya diwakilkan beberapa orang dari jamaahnya di atas panggung tanpa menuliskan aspirasi di atas kertas berukuran A1. Terdapat sepuluh kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari delapan jamaah dengan perwakilan disetiap jamaahnya.

Kelompok 10 yang menampilkan musikalisasi puisi dalam acara aksi di PESTA UNISI (foto : Annisa Rositasari)

Egi Andrea Pratama, selaku Komisi A mengatakan, “Aksi dilakukan seluruh mahasiswa menggunakan kertas itu bagus sebenarnya, cuman sulit untuk dikontrol dalam artian banyak hal-hal yang melakukan aksi yang tidak sesuai. Bukannya kami menjelekkan, tapi dengan aksi seperti ini lebih mudah di kontrol, mudah diatur serta perwakilan dari mahasiwa itukan secara tidak langsung semua mahasiswa melakukan aksi, tetapi diwakilkan. Dalam aksi sebenarnya seperti itu ada perwakilan menyuarakan dan ketika semua mahasiswa dapat pengantar manajemen aksi. Jadi semua mahasiswa tahu bagaimana cara menyampaikan aksi secara baik dan benar serta peran-peran mereka seperti itu.”  Dia juga mengatakan bahwa tujuan konsep aksi kali ini ialah menghindari anarkisme dalam aksi serta aksi seperti ini dianggapnya lebih menarik perhatian mahasiswa .

Melalui kegiatan ini mahasiswa diajarkan untuk terjun langsung dalam aksi serta dapat menyuarakan opini mereka terkait isu yang telah ditentukan panitia PESTA UNISI 2017. Kegiatan aksi ini termasuk kegiatan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa baru. Kegiatan aksi ini disambut baik oleh mahasiswa baru. Muhammad Hanif Mahsabihul Ardhi yang mewakili jamaah 79 untuk maju ke atas panggung mengatakan bahwa ia cukup bangga dapat mewakili jamaahnya. “Deg-degkan pasti, karenakan dilihat ribuan orang. Saya juga bangga karena bisa berdiri karena tidak semua orang diberi kesempatan berdiri menyampaikan pendapatnya di depan umum. Apalagi itu namanya simulasi aksi dan itu sangat penting sekali, makanya saya mengucapkan terima kasih kepada panitia,” ujarnya. Tania Febby Khairial teman satu jamaah Hanif juga mengatakan senang dan bangga dapat maju ke atas panggung.

Namun, manajemen waktu yang kurang dalam aksi menyebabkan durasi beberapa kelompok hanya selama lima menit saja. Menurut Tania dan Hanif dengan durasi lima menit menurut mereka kurang cukup untuk menuangkan aspirasi mereka.

Bagi mahasiswa baru kegiatan aksi ini merupakan hal yang pertama kali dilakukan, menurut Ajeng Putri Andani, prodi Ilmu Komikasi, “Kegiatan aksi ini bermanfaat apalagi kita dari kalangan SMA/MA, kebanyakan anak pondok tidak pernah ikut kayak gini, kan pasti yang ikut aksi itu pasti mahasiswa jadi membuka pikiran kita gimana sih tentang aksi, tata cara aksi yang benar kayak gimana.” Walaupun dia tidak maju ke atas panggung namun dia tetap ikut menyuarakan melalui perwakilannya. “Kalau hanya perkenalan tata cara aksi yang benar itu sepeti ini sudah cukup. Aksi tidak hanya turun ke jalanan tapi juga bisa lewat artikel dan tulisan,” tambahnya.

*Penulis adalah Magang LPM Profesi FTI UII