Oleh: Meitipul Ade R*

74 tahun sudah Universitas Islam Indonesia (UII) memulai menjalankan misi agar terwujudnya UII sebagai rahmatan lil ‘alamin, memiliki komitmen pada kesempurnaan (keunggulan), risalah islamiyah, di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat dan dakwah, setingkat universitas yang berkualitas dinegara-negara maju.

Dalam bertahun-tahun perjalanan UII melahirkan puluhan ribu sarjana,  telah menjadi catatan sejarah yang  tak kan hilang dan tentunya akan berpengaruh pada seluruh aktivitas dikampus perjuangan ini. Tak terkecuali, sumber daya manusianya. Pergantian kader dari tahun ketahun terus muncul dengan ide dan inovasi baru yang mereka tuangkan secara bebas tanpa ada campur tangan pihak rektorat. Prinsip Student Government yang sudah melekat pada kelembagaan di UII memberikan ruang khusus bagi mahasiswa untuk berkreatifitas, bertugas menanamkan nilai-nilai dengan cara masing-masing. Lembaga-lembaga di UII dapat berbangga diri atas prinsip Student Government yang merupakan tameng terbesar mereka dalam menjalankan tugas. Terbiasa mandiri menanamkan nila-nila dan budaya kampus pada generasi-generasi selanjutnya.

Namun, apa jadinya jika keistimewaan tersebut lambat laun hanyalah menjadi sebuah nama. Tak ada lagi sumber daya manusia yang terdorong untuk memanfaatkannya. Sikap apatis yang akhir-akhir ini menjadi permasalahan pada kawula muda benar benar mengkhawatirkan . Hal ini seolah menjadi virus yang dihadapi seluruh institusi. Mahasiswa jarang mengambil hal-hal positif untuk berproses di lembaga lembaga kampus. Sebagian dari mereka terkesan cuek dan sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga kegiatan kegiatan kampus seringkali sepi peminat.

Marilah kita menelisik sejenak, apa sebab akibat dari sikap apatis.  Tak sulit ditemukan manusia-manusia yang hanya duduk berpangku tangan tanpa peduli lingkungan sekitar. Bermain gadget seharian tanpa peduli akan lingkungan. Faktor yang menimbulkan sikap apatis dikalangan mahasiswa.

Pertama, hedonisme (gaya hidup berhura-hura yang hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan duniawi). Mahasiswa kini tak bisa lagi secara universal disebut kaum intelektual atau pembawa perubahan. Hedonisme telah merubah banyak di antara mereka dari kutu buku menjadi pencinta club malam, narkoba atau minuman keras.  Perilaku ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi.

Organisasi seharusnya mampu memberikan kesibukan positif kepada mereka sehingga tak ada waktu untuk terjebak pada perilaku menyimpang ini. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial seperti bakti sosial atau kegiatan yang kompetitif seperti lomba menulis. Buatlah kegiatan yang tak dapat diperoleh di bangku kuliah agar membentuk mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan cerdas.

Kedua, munculnya tanggapan miris di kalangan mahasiswa bahwa ikut dalam organisasi akan menghambat prestasi akademik. Banyak yang enggan berorganisasi lantaran melihat rekannya yang berorganisasi mengalami penurunan dalam prestasi akademik, sehingga muncul anggapan bahwa organisasi menghambat mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Padahal, sejumlah organisasi kemahasiswaan telah menetapkan indeks prestasi akademik tertentu atau jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang harus dipenuhi sebagai prasyarat menjadi pengurus. Ini yang perlu ditegakkan lagi.

Ketiga, ada persepsi publik yang terbangun saat ini bahwa pengurus lembaga kemahasiswaan hanya memiliki bakat demonstrasi. Image ini muncul dari sejumlah pemberitaan media massa bahwa umumnya aksi demonstrasi menyusahkan masyarakat misalnya pemblokiran jalan dan sebagainya. Apalagi jika demonstrasi yang digelar berakhir bentrok.

Lalu apakah kita akan diam saja ketika dihadapkan pada ketiga problematika diatas? Jawabnya tentu saja tidak! Kita dapat memulai menanamkan kebiasaan-kebiasaan baru yang positif. Masalah pertama adalah gaya hidup hura-hura atau hedonisme. Hedonisme tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup mahasiswa dewasa ini. Dengan semakin berkembangnya teknologi, kebutuhan untuk eksis di dunia sosial media semakin kuat. Untuk memenuhi kebutuhan ini, tak jarang mahasiswa merelakan isi dompetnya hingga kering. Tak hanya dari keinginan eksis, hasrat terpendam yang selama ini terhalang akhirnya terbebaskan. Ketika dirumah di awasi oleh orang tua, kita jadi merasa tidak bebas dan terbatasi. Bagaimana dengan kehidupan kampus yang bebas? Uang kiriman yang memanjakan dan pergaulan yang tak terbatas meningkatkan peluang mahasiswa terjerumus dalam gaya hidup hedonisme.

Gaya hidup hedonisme cenderung egosentris, mampu menutup kepekaan kita terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kesadaran sosial yang menurun, terkikis perlahan-lahan akibat tertutupnya kepekaan kita. Realita di lapangan saat ini menegaskan penurunan ini nyata. Mahasiswa seperti kura-kura dalam tempurung, tidak mengerti dan memahami lingkungan sosial bermasyarakatnya. Mungkin banyak yang memiliki link luas di kampus, namun ketika dihadapkan pada realita di lapangan, kebanyakan dari mereka melempem dan lenyap. Bagaimana dengan yang kehidupannya hanya kuliah-kos-dolan atau clubbing? Apa yang ingin diharapkan dari gaya hidup seperti ini?

Solusi untuk masalah pertama ini adalah melihat batas kemampuan diri. Bagaimana bisa kita menghindari gaya hidup hedonisme jika kita tidak mampu menahan nafsu untuk pemenuhan kebutuhan kita? Pengendalian diri ini tak bisa sekadar ucapan, namun dihayati dengan sepenuh hati. Buatlah daftar pengeluaran untuk satu bulan, lalu cobalah kalkulasikan dengan detail. Kira-kira antara uang kiriman dengan pengeluaran bulanan seperti apa? Mulailah merencanakan pengeluaran dengan detail dan berani mengetatkan ikat pinggang. Kuatkanlah pengendalian diri, mulailah tundukkan pandangan dari hal-hal yang diluar konteks tujuan kita datang menimba ilmu. Kuatkanlah niat dan tekad untuk mengalahkan diri sendiri. Karena ketika kita sanggup melakukannya, perubahan itu hanya tinggal menunggu waktu dan usaha kita.

Masalah kedua adalah salah satu contoh ketidakmampuan kita dalam manajemen waktu. Setiap orang memiliki 24 jam dalam satu hari, yang berbeda adalah soal pemanfaatannya. Apakah kita dapat menjadwalkan setiap kegiatan kita dengan baik, atau kita malah tenggelam dalam ketidakteraturan yang kita buat sendiri. Dan jika dari ketidakteraturan itu muncul pembenaran untuk bersifat apatis, maka hal itu perlu dibenahi. Sekali lagi batas kemampuan menjadi sangat penting untuk diterapkan. Kita juga perlu membatasi keinginan kita untuk mengikuti kepanitiaan atau organisasi kampus. Karena waktu hidup kita dalam satu hari hanya 24 jam. Pengaturan antara jadwal kuliah dan jadwal organisasi diharapkan seimbang, jangan sampai jadwal organisasi mengubur jadwal kuliah. Tujuan awal kita datang adalah menimba ilmu di suatu perguruan tinggi, maka kembalilah ke tujuan awal itu.

Problematika ketiga datang dari pandangan masyarakat, dimana mereka memandang bahwa mahasiswa kelembagaan tukang aksi dan demo. Untuk mengatasinya dibutuhkan koordinasi yang baik antara lembaga kampus dan pihak rektorat dalam memberikan sosialisasi ke masyarakat,  karena ini merupakan stigma yang melekat dalam diri kelembagaan mahasiswa. Mahasiswa melakukan demo atau aksi tentu memiliki pertimbangannya sendiri, pelaksanaannya pun membutuhkan perencanaan yang matang. Kalaupun demo atau aksi dadakan, pastilah urusan yang di demo tergolong mendesak. Inilah yang sebagaian besar masyarakat tidak mengetahuinya, untuk itulah pentingnya sosialisasi ke masyarakat sebelum demo atau aksi. Dengan penerapan solusi diatas diharapkan dapat mengikis pelan-pelan tingkat apatisme dari mahasiswa, khususnya dalam kehidupan mahasiswa. Mahasiswa adalah agen perubahan, bukan cangkang kosong tanpa isi dan tujuan. Tinggalkan apatisme dalam cangkangmu, gapai semua mimpi dalam imajinasi. Teruslah bermimpi, dan janganlah berhenti mencari jati diri.

*Penulis adalah Magang LPM Profesi FTI UII