Hujan sudah mulai reda, terlihat dua orang berjalan dari arah gerbang parkir sebelah timur Benteng Vredeburg menyebrang jalan menuju depan Gedung Agung. Entah di mana motor mereka diparkirkan, tetapi jelas terlihat mereka berdua masih memakai jas hujan dan helmnya, mungkin agar tidak kehujanan karena memang sore itu hujan belum benar-benar berhenti. Dari kejauhan mereka mulai membentangkan spanduk yang didominasi warna merah dengan menampilkan gambar disertai tulisan.

Di bawah rintik gerimis, dua orang tersebut memplester mulut mereka dengan lakban hitam berdiam diri mematung di depan Gedung Agung sambil memegang spanduk. Beberapa orang warga baik itu pedagang maupun wisatawan yang berada di sekitar tampak memperhatikan, ada pula yang memfoto, namun banyak juga yang tidak menghiraukan. Tampak jelas dari spanduk yang mereka bentangkan bertuliskan “Presiden Joko Widodo Segera Bentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF)” disertai gambar Wartawan Udin di samping kiri dan Novel Baswedan di samping kanan.

“Aksi Udin yang ke-39 setiap tanggal 16,” ujar Fitrin Haryanti, salah satu dari dua orang yang melakukan aksi tersebut ketika kami tanya. Ia bersama satu orang rekannya tergabung dalam Koalisi Masyarakat untuk Udin (KAMU). Selain dari KAMU, aksi ini diikuti pula oleh Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi Yogyakarta. Sambil melakukan aksi, dengan ramah Fitrin mempersilahkan kami untuk mewawancarainya. Fitrin menjelaskan jika ia bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam KAMU sudah biasa melakukan aksi tersebut sebulan sekali pada tanggal 16. Sore itu merupakan aksi ke-39 kali yang mereka lakukan sejak bulan September 2014. Berdasarkan penuturan Fitrin, sejatinya aksi ini terus menerus dilakukan untuk memperjuangkan penyelesaian kasus pembunuhan Wartawan Udin 21 tahun yang lalu. Selain kasus pembunuhan wartawan Udin, penuntasan kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan juga ikut disuarakan dalam aksi ini.

Meskipun sampai detik ini belum ada titik terang perkembangan kedua kasus tersebut, terutama kasus Wartawan Udin. Namun, Fitrin bersama rekan-rekannya tampak masih bersemangat untuk menyuarakan tuntutannya melalui aksi itu. “Bahkan kalau hukum itu kan dibilang sudah kadaluwarsa, tapi kita tetap memperjuangkan itu, minimal seperti ini merupakan media kampanye biar masyarakat tidak lupa ada kasus kekerasan terutama kekerasan wartawan di Jogja ini yang belum tuntas kasusnya sampai saat ini,” terangnya. Ketika kami menyinggung bagaimana respon pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya tentang tuntutan mereka melalui aksi ini, Fitrin hanya bisa tertawa sambil diiringi candaan. “Engga ada mas, mungkin sudah biasa ya didemo, jadi kayak gitu,” ujarnya. Meskipun begitu ia tetap berkomitmen untuk terus melakukan aksi ini sampai kasus tersebut tuntas, walaupun menurutnya akan sangat sulit karena melibatkan aparat penegak hukum itu sendiri.

Begitu pula dengan kasus Novel Baswedan, Fitrin merasa prihatin dengan tindak kekerasan yang dialami penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. Menurutnya, dengan menelisik dari sketsa wajah saja seharusnya pihak polisi sudah bisa melakukan penyidikan siapa pelakunya. Namun yang terjadi saat ini kasus tersebut seolah di-“peti es”-kan atau didiamkan saja, tidak ada perkembangan yang berarti. Sehingga pihaknya menginginkan dibentuknya tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang tidak hanya dari pihak kepolisian saja namun juga melibatkan tokoh-tokoh yang dipandang independen. “Jadi supaya penyelidikannya itu tidak bias, supaya benar-benar pelaku kekerasan, siapa pembunuh Udin, dan siapa pelaku kekerasannya Novel itu bisa terungkap,” ungkap wanita yang aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat Mitra Wacana tersebut.

Setelah sekitar tiga puluh menit kemudian, mulai datang beberapa rekan dari Fitrin yang hadir menemani Fitrin mengikuti aksi diam di depan Gedung Agung. Sama seperti Fitrin mereka juga memplester mulut dengan lakban hitam. Terlihat sekitar 5 – 6 orang yang hadir ikut aksi sore itu, dengan masih diiringi rintik gerimis. Salah satu rekan Fitrin yang bernama Tomy bersedia kami wawancarai setelah aksi usai. Pria berbadan sedikit gemuk ini merupakan wartawan sekaligus anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang aktif di divisi advokasi AJI. Berdasarkan penuturannya, kasus pembunuhan Wartawan Udin masih mandek di Kepolosian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia bercerita jika awalnya ada rencana jika kasus ini sudah berjalan selama 18 sampai 19 tahun tidak bisa diselesaikan maka akan dikadaluwarsakan statusnya. Namun Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) pada saat itu berjanji kasus tersebut akan terus dilanjutkan karena belum pernah ada terdakwa atau pun orang yang disangkakan sebagai pelaku pembunuhan Udin. Tetapi pada kenyataannya sampai saat ini kasus tersebut tidak berjalan, sehingga ia menduga polisi seakan-akan masih bekerja menangani kasus ini tapi riilnya mereka sepertinya tidak melakukan apapun.

Selain rutin melakukan aksi, ternyata pihaknya juga sudah banyak melakukan upaya agar kasus Udin dapat segara diselesaikan. Tomy berujar jika mereka telah menemui berbagai pihak untuk memperjuangkan kasus ini. Hampir seluruh Kapolda DIY sudah ditemui untuk mendesak agar kasus tersebut diselesaikan. Mereka pernah bertemu dengan Dewan Pertimbangan Presiden, mereka juga bersurat dan mengirimkan berkas kasus tersebut ke tingkat ASEAN bahkan hingga PBB. Namun lagi-lagi desakan dari pihak internasional pun tetap saja tidak mampu membuat aparat penegak hukum segera menuntaskan kasus Udin.

Dalam melakukan aksi untuk kasus Udin, Tomy, dan rekan-rekan lainnya juga sering melibatkan pihak lain seperti seniman, komunitas sepeda, komunitas streetart, dan elemen masyarakat lainnya. Aksi yang mereka lakukan juga berbagai macam bentuknya, selain aksi berdiam diri, mereka juga pernah mengadakan pameran, konser musik, hingga berjualan kaos yang keuntungannya didonasikan untuk membantu keluarga Almarhum Udin.

Selain menceritakan kasus pembunuhan wartawan Udin, Tomy juga ikut mengomentari kasus Novel Baswedan. Ia melihat kasus kekerasan terhadap Novel hingga saat ini tidak kunjung usai meskipun sudah berjalan beberapa bulan, sehingga pihaknya juga mengangkat serta menyuarakan kekerasan terhadap penyidik KPK ini. Ia berharap agar presiden mendesak Kapolri untuk menuntaskan kasus Novel dan kasus Udin. “Walaupun presiden tidak bisa mengintervensi pada proses penegakan hukum, tetapi bagaimanapun juga dia yang punya hak prerogratif memilih Kapolri sehingga dia bisa menyetir Kapolri untuk kemudian menuntaskan kasus Novel dan Udin,” tambahnya.

Kasus Udin dan Kasus Novel sesungguhnya sama saja, keduanya merupakan kasus kekerasan yang mana perkembangan penyelesaian kasusnya sama-sama tidak ada kejelasan. Udin yang bernama asli Fuad Muhammad Syafrudin merupakan wartawan Surat Kabar Harian Bernas yang terbit di Yogyakarta. Udin kerap membuat tulisan yang mengkritisi kekuasaan orde baru dan militer ketika itu. Udin ‘Dihilangkan’ karena tulisannya yang mengusik penguasa kala itu Bupati Bantul, Sri Roso Sudarmo, tentara berpangkat Kolonel. Sri Roso sendiri pada kemudian hari akhirnya dihukum 9 bulan penjara pada 2 Juli 1999, ia dinyatakan bersalah atas kasus suap Rp. 1 Miliar kepada Yayasan Dharmais yang dikelola Presiden Soeharto. Uang tersebut merupakan imbalan yang dijanjikan Sri Roso bila diangkat kembali menjadi bupati Bantul periode 1996 – 2001. Pada 13 Agustus 1996, Udin dianiyaya oleh orang tak dikenal di depan rumah kontrakannya di dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis KM. 13, Yogyakarta. Kepalanya dihantam besi hingga Udin harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Ia mengalami gegar otak dan koma hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Bethesda Yogyakarta pada tanggal 16 Agustus 1996 pukul 16.58 WIB. Penyelesaian kasus pembunuhan terhadap Udin tidak pernah dituntaskan hingga saat ini.

Setali tiga uang dengan apa yang dialami Udin, Novel Baswedan penyidik senior KPK juga mendapatkan perlakuan yang sama. Pada tanggal 11 April 2017, seusai salat subuh, Novel pulang berjalan kaki dari masjid dekat rumahnya. Ditengah perjalanan, dua orang tak dikenal berboncengan menggunakan sepeda motor langsung menyiramkan air keras ke arah wajah Novel. Atas kejadian itu Novel harus mengalami perawatan secara intensif di Singapura. Matanya terancam buta akibat terkena siraman air keras. Peristiwa itu terjadi ketika KPK sedang mengusut dugaan korupsi proyek E-KTP yang diduga melibatkan banyak pihak mulai dari swasta, pejabat pemerintah, hingga anggota DPR RI. Setelah beberapa bulan penyelidikan terhadap kasus ini berjalan, hingga saat ini masih gelap belum ada perkembangan yang berarti.