Jumat, 3 November 2017 dalam kalender Jawa bertepatan dengan tanggal 13 pasaran Pahing, Bulan Sapar, telah digelar upacara adat Bekakak. Upacara adat tersebut dilakukan di wilayah Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta, pada hari Jumat setiap Bulan Sapar. Bekakak merupakan sepasang boneka pengantin yang terbuat dari ketan dan di dalamnya terdapat air gula jawa atau aren. Bekakak tersebut akan disembelih, pada saat itu keluarlah aren yang menyerupai darah. Bekakak diarak menggunakan sebuah keranda yang dihiasi dengan sesajen, dedaunan, dan aneka macam bunga yang diangkat oleh empat orang.

Dalam upacara adat Bekakak terdapat berbagai pawai pengiring. Diantaranya adalah barisan Bregada Prajurit atau pasukan dari Kraton Yogyakarta yang bersenjatakan senapan dan tombak. Berbagai macam tari-tarian seperti Jathilan, Reog, dan Edan–edanan. Terdapat pula iring iringan ogoh–ogoh yang menyerupai raksasa. Ogoh-ogoh tersebut ditandu oleh beberapa orang pemuda yang membuatnya terlihat seperti hidup. Tidak hanya itu, di tahun ini juga terdapat rombongan mahasiswa dari Lombok yang bermukim di sekitar Ambarketawang ikut memeriahkan acara ini. Mereka menampilkan ogoh–ogoh tikus berdasi.

Menurut Yudi, selaku bagian Hubungan Masyarakat dari pihak penyelenggara, pawai tersebut dimulai dari Lapangan Kelurahan Ambarketawang yang akan berakhir di Gunung Ambarketawang dan Gunung Keliling. Melalui Jalan Wates dan Ringroad  Barat yang berjarak kurang lebih 4 kilometer. Ia juga mengatakan bahwa panitia acara ini adalah warga Ambarketawang dibantu oleh warga sekitar dengan diketuai oleh Kepala Dukuh Gamping Kidul.

Asal mula upacara Adat Bekakak ini memiliki dua babak. Dimulai sejak masa kepemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Pada saat itu, setelah perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwono I menjadi Sultan dari Kesultanan Yogyakarta yang bergelar Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Saat masih bergelar Pangeran Mangkubumi, Sri Sultan Hamengkubuwono I membangun keraton yang berada di kotamadya. Ketika pembangunan itu sedang berlangsung, Sri Sultan Hamengkubuwono I tinggal di daerah Ambarketawang bersama abdi dalem nya yang setia Kyai Wirasuta. Sewaktu pembangunan Kraton telah selesai, Sri Sultan Hamengkubuwono I kembali ke keraton bersama para abdi dalem, namun Kyai Wirasuta menolak. Ia memilih tetap tinggal bersama istrinya.

Peristiwa malang terjadi, pada Hari Jumat Kliwon di Bulan Sapar, kediaman Kyai Wirasuta tertimbun longsoran Gunung Gamping. Sri Sultan Hamengkubuwono I memerintahkan prajuritnya untuk mencari jasad Kyai Wirasuta dan Istrinya. Akan tetapi, usaha tersebut tidak berhasil. Kyai Wirasuta dan istrinya tidak dapat ditemukan. Lalu diyakini bahwa Kyai Wirasuta bersama istrinya dalam wujud yang berbeda masih menempati Gunung Gamping hingga saat ini.

Kisah kedua dari latar belakang upacara adat ini adalah untuk menolak bala. Hal ini dikarenakan pada waktu itu ketika masyarakat menambang gamping di wilayah tersebut sering terjadi korban jiwa. Dimana peristiwa tersebut seringkali terjadi pada Bulan Sapar.

Sukartiman, salah satu pengunjung, mengaku sangat senang dengan upacara adat ini. Bahkan setiap tahun ia selalu menghadirinya. “Alhamdulillah bagus, untuk tahun ini momennya bagus sekali. Karena tidak hujan dan tiap-tiap kampung memeriahkan. Kalau dulu kan cuman per keleruahan, tapi sekarang tiap kampung jadinya banyak sekali yang mengikuti,” ujarnya.

Reportase bersama: Johan Aiman Rais