Minggu, (10/12/2017), di lokasi penggusuran bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Lima unit backhoe terparkir di atas lahan reruntuhan bekas bangunan rumah warga. Suasana Desa Palihan,Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo tampak damai, tak lagi terasa ketegangan yang  terjadi akibat bentrok antara aktivis dan kepolisian.

Pembebasan lahan Bandara NYIA sudah menjadi masalah antara warga dan pihak Angkasa Pura 1 (AP 1) beberapa tahun belakangan. Sampai berita ini diturunkan, masih ada beberapa rumah warga yang berdiri di antara reruntuhan bangunan rumah warga di sekitarnya. Hingga saat ini banyak kejadian yang silih berganti mewarnai pembebasan lahan.

Di beberapa media sosial tak sedikit masyarakat yang berkomentar terhadap para aktivis mahasiswa yang membantu warga mempertahankan rumahnya. Tak hanya masyarakat biasa, Sri Sultan Hamengkubuwono X pun ikut mengomentari aktivitas mahasiswa yang suka rela tinggal di rumah warga. “Urusannya opo (apa) mahasiswa? Wong itu (rumah yang digusur) sudah dibayar, sudah kosong. Dihancurin kan boleh,” ucap sultan seperti yang dilansirkan oleh news.detik.com. Wakil Kepala Kepolisian Resor (wakapolres) Kulon Progo, Kompol Dedi Surya Darma, dilansir dari harianmerapi.com juga berkomentar, “Para mahasiswa ini sengaja datang untuk memprovokasi warga penolak agar tidak mau meninggalkan lahan bandara.”

Baca Juga:  Suwarti, Wanita Konstruksi

Muhjumari salah satu warga yang masih bertahan di lokasi proyek bandara berpendapat, “Kalau saya itu gak menganggap begitu (mahasiswa sebagai provokator).” Justru ia berterima kasih kepada mahasiswa yang sudah banyak membantu warga. “Terima kasih yang tak terkira,” kata lelaki 62 tahun itu. Muhjumari merasa tenang saat ia harus meninggalkan rumahnya untuk mencari rumput sebagai pakan enam ternak kambingnya. Ini semua karena adanya mahasiswa yang selalu berjaga sepanjang hari di rumahnya dan rumah warga lainnya yang masih bertahan. Ia memilih untuk tetap tinggal karena ia sudah merasa nyaman hidup di rumahnya selama 22 tahun ini. Pembangunan bandara akan membuat petani kehilangan lahannya. “Karena bandara untuk petani itu jelas tidak ada baiknya,” ucapnya.

Baca Juga:  Beasiswa PPA untuk Mahasiswa

Dalam melakukan aksinya para mahasiswa relawan tinggal di rumah-rumah warga yang tersisa. Mereka mendapatkan bantuan makanan dan kebutuhan sehari-hari dari para donatur yang peduli. Mereka juga membantu saat warga panen udang, serta memperbaiki jalan yang berlubang dan becek akibat dilalui backhoe.

Sandy, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sudah dua hari tinggal di salah satu rumah warga. Menanggapi tudingan mahasiswa sebagai provokator ia dengan tegas menjawab tidak. “Kalau kami memprovokator pasti kami akan menyerang Angkasa Pura, karena tujuan kami disini adalah mempertahankan,” tegasnya. Sandy mengatakan, alasan dirinya membantu warga adalah karena uang ganti rugi yang dijanjkan AP 1 belum jelas. Ia juga merasa bahwa warga harus dicarikan mata pencaharian yang layak dan bisa mencukupi kebutuhan setiap harinya seperti saat sebelum direlokasi.

Bagikan: