24 November – 1 Desember 2017 merupakan tanggal terselenggaranya perayaan sekaten yang rutin diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta setiap tahun. Lokasi perayaan sekaten tahun ini digelar seperti tahun-tahun sebelumnya, bertempat di Kompleks Keraton Yogyakarta. Perayaan sekaten sendiri merupakan serangkaian acara yang di awali dengan prosesi Miyos Gangsa. Upacara ini berupa keluarnya Gamelan Sekati, yaitu gamelan Kanjeng Kiai Nagawilaga dan Kanjeng Kiai Gunturmadu. Gamelan tersebut dikeluarkan dari Bangsal Trajumas di keraton yang kemudian diletakkan di Masjid Besar Kauman. Selanjutnya gamelan sekati dipulangkan kembali ke Bangsal Trajumas. Rangkaian acara sekaten diakhiri dengan Upacara Bedhol Songsong atau Garebeg Mulud yang ditandai dikeluarkannya Gunungan Hajat Dalem Keraton. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat. “Tapi kalau yang benar-benar sekatennya ya itu tadi. Mulai Gangsa atau gamelan keluar sampai masuk lagi dan adanya Garebeg Mulud, itu sekaten,” ucap Bambang Purwanto selaku kepala bagian keamanan keraton.

Sekaten pada tahun ini, bertepatan dengan tahun Dal 1951 yang terjadi delapan tahun sekali atau sewindu sekali. Bambang menjelaskan, keistimewaan Garebeg Dal yaitu sultan keluar dari keraton dengan diiringi pusaka-pusaka dalem. Kemudian sultan duduk di singgasana lalu melakukan ritual mengepal nasi dan membagikannya kepada orang-orang yang hadir saat itu. Ritual tersebut hanya diselenggarakan di Bangsal Kencono. Keistimewaan lain pada Garebeg Dal adalah adanya Gunungan Bromo yang hanya dikeluarkan setiap delapan tahun sekali. Bentuk Gunungan Bromo bebeda dengan gunungan lainnya. Puncak gunungan tersebut memiliki lubang tempat anglo untuk membakar kemenyan, sehingga dari lubang tersebut keluar asap. Gunungan Bromo tidak untuk diperebutkan masyarakat, namun tetap ikut didoakan bersama gunungan lain di Masjid Besar Kauman. Setelah semua gunungan didoakan, kemudian gunungan-gunungan di keluarkan untuk Garebeg atau diperebutkan. Gunungan Bromo dipisah, dibawa masuk ke tempat penerimaan tamu ngarso dalem (utara Bangsal Kencono) untuk diperebutkan oleh Putro Wayah dan Sentono Dalem.

Makna perayaan sekaten kini mengalami pergeseran. Mahasiswa Yogyakarta pengunjung pasar malam, Zaka mengatakan “Sekaten kan pasar malam, asli acaranya itu grebeg di sini itu. Sekaten kan cuma penghibur buat masyarakat Jogja.” Ia juga menjelaskan, kondisi pasar malam yang ramai memberikan kesempatan bagi copet untuk mencuri barang pengunjung pasar malam. Susilomadyo selaku penata gending berpendapat, walaupun sebagian masyarakat hanya mengetahui sekaten adalah perayaan pasar malam, tidak sedikit pula orang yang memaknai bahwa sekaten merupakan salah satu tradisi keraton untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Pihak keraton telah berusaha untuk menyebarluaskan budaya sekaten kepada masyarakat, salah satunya dengan meluncurkan situs resmi keratonjogja.id. Hingga saat ini pihak keraton juga masih terus berusaha melestarikan makna perayaan sekaten. Menurut Bambang, orang yang menganggap sekaten merupakan kemubaziran sebenarnya tidak memahami makna dari sekaten itu sendiri. Bambang mengatakan, “Bukan dari pasar malamnya. Yang kami ambil tapi dari aura atau spirit dari sekaten itu yang ditandai dengan keluarnya (gamelan keraton) atau Miyos Gangsa sampai Kundur Gangsa sampai Garebeg Mulud sampai Bedhol Songsong itu yang ingin kami lestarikan. Bukan pasar malam.” Ia juga berpendapat, sebenarnya masyarakat yang tidak mengetahui hal tersebut tidak mau mencari tahu tetapi mereka menilai dan memiliki pemikiran sendiri.

Bambang menjelaskan, pasar malam sekaten merupakan inisiatif dari masyarakat. Tidak ada sangkut pautnya dengan pihak keraton. Hingga saat ini izin pasar malam merupakan hak pemerintah kota, bukan dari keraton. Keraton hanya bertugas memfasilitasi tempat untuk diadakannya pasar malam.

Ia menambahkan, perayaan pasar malam sekaten memiliki dampak positif, yakni meramaikan pameran dari keraton dan membuka peluang usaha bagi masyarakat. Disamping dampak positif, pasar malam juga memberikan dampak bagi alun-alun karena banyak sampah yang berserakan. Untuk mengatasi permasalahan sampah tersebut dinas kebersihan kota sudah menyiapkan petugas untuk membersihkan alun-alun. Pemindahan pasar malam ke tempat lain juga sempat diwacanakan oleh ngarso dalem dan pihak keraton beberapa tahun yang lalu. Namun akhirnya wacana tersebut dibatalkan agar tidak menghilangkan semangat perayaan sekaten.

Reportase bersama: Adityo Nugroho dan M. Arnesz Setiawan