Terkadang untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang besar kita perlu menyelesaikan dahulu permasalahan kecil yang membentuknya.

Hasil riset Central Connecticut State University berjudul The World’s Most Literate Nations (WMLN) pada tahun 2016 menempatkan Indonesia pada peringkat 60 dari 61 pada minat baca di dunia. Indonesia berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand (59), Malaysia (53) dan Singapura (36). Semestinya hal tersebut dapat menjadi peringatan, tidak hanya untuk pemerintah namun juga masyarakat Indonesia. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya minat baca pada masyarakat Indonesia.  

Menurut Sri Wahyuni dalam penelitiannya pada tahun 2010 yang berjudul Menumbuhkembangkan Minat Baca Menuju Masyarakat Literat, menyatakan bahwa setidaknya terdapat enam penyebab rendahnya minat baca di Indonesia. Pertama, karena lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar yang kurang mendukung kebiasaan membaca. Kedua, karena rendahnya daya beli buku masyarakat. Ketiga, karena minimnya jumlah perpustakaan yang kondisinya memadai. Keempat, dampak negatif perkembangan media elektronik. Kelima, model pembelajaran secara umum belum mendorong siswa harus banyak membaca. Keenam, karena sistem pembelajaran membaca yang belum tepat. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, penduduk dengan umur sepuluh tahun ke atas sebesar 91,55% lebih cenderung menonton televisi, 18,55% mendengarkan radio dibanding dengan 17,03% penduduk yang membaca. Hal tersebut membuktikan budaya membaca di Indonesia memang masih rendah dibandingkan dengan aktivitas atau hiburan lainnya.

Berangkat dari keresahan terhadap rendahnya minat baca tersebut, Teguh Laksono, selaku penanggung jawab dari Komunitas Omah Kreatif mengadakan kegiatan rutin yang diberi nama “Bermain Sambil Membaca”. Komunitas ini memiliki tempat berkumpul di kampus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Konsep dari kegiatan ini adalah mengenalkan budaya membaca. Oleh karenanya buku-buku yang ada pada kegiatan tersebut adalah buku yang umum. Tidak hanya taman baca, di sana juga terdapat kelas menggambar untuk anak-anak. Kegiatan ini murni untuk sosial, oleh karena itu kegiatan ini tidak memungut biaya sama sekali. Mengenai minat masyarakat terhadap kegiatannya, Teguh Laksono merasa sangat puas. Menurutnya, minat baca anak-anak pada hari Minggu itu luar biasa. “Kalau anak muda sebenarnya malah cenderung dia menghabiskan waktu untuk menikmati Malioboro-nya, karena memang melihat konsepnya mungkin nggak gaul gitu,” ujar Teguh ketika ditanya mengenai minat masyarakat khususnya pada remaja.

Pokok dari kegiatan ini adalah membaca dan target dari kegiatan ini adalah mengenalkan budaya membaca khusunya pada anak-anak. Kegiatan ini dilakukan pada saat weekend dan liburan. Misi sederhana Komunitas Omah Kreatif dalam kegiatan ini memang mengurangi dampak teknologi seperti gawai pada anak agar meningkatkan minatnya pada buku. “Ya, kita nggak punya visi misi apalah, mau mengubah seperti apalah, endak. Kita sederhana saja jalan ingin baca buku itu saja minimal aktivitas. Ya memang ada beberapa wacana mengurangi gadget dan sebagainya, cuman nggak-nggak dululah sederhana dulu aja baca-baca,” jelas Teguh.

Kegiatan yang bermula pada awal bulan Januari ini merupakan langkah awal yang direncanakan akan dikembangkan lebih lanjut kedepannya. Komunitas ini merupakan gabungan dari beberapa kelompok yang bersepakat untuk membuat simpul baru. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dibantu oleh aktivis dan mahasiswa. “Ada lima orang dan ini benar-benar pure kalau hari Minggu pasti ada voulenteer-voulenteer yang datang bahkan teman-teman kasongan dan kampus yang lain itu. Kenal sini sudah bisa gambar ya gambar, datang bawa buku ya bawa buku itu,” tutur Teguh. Bertempat di trotoar depan Gedung Agung atau barat titik nol kilometer, kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap hari Minggu pukul 15.00-20.00 WIB. Sebagian besar buku dan fasilitas penunjang seperti pewarna dan krayon yang ada merupakan donasi yang diberikan oleh para donator. Hingga saat ini buku yang terkumpul mencapai lebih dari seratus buku.

Tidak hanya di Kilometer Nol, kegiatan serupa juga ada di sekitar kawasan tugu Yogyakarta. Kegiatan ini bernama “Perpustakaan Jalanan DIY”. Berbeda dengan “Bermain Sambil Membaca” yang digagas oleh Omah Kreatif yang lebih menyasar usia anak-anak, di Perpustakaan Jalanan DIY cenderung mewadahi orang dewasa di mana buku yang tersedia lebih memiliki topik khusus seperti buku-buku bernuansa pergerakan. Seperti dikutip dari laman tribunnews.com, Monica Lanongbuka sebagai inisiator menjelaskan bahwa komunitas ini mulai terbentuk pada 12 Mei 2017 yang dilaksanakan setiap hari Jumat malam.  Sejalan dengan yang diresahkan oleh Teguh, Monica memulai kegiatan ini berawal dari kecintaan pada buku dan ingin mengembalikan budaya membaca buku yang sekarang mulai jarang. Konsep luar ruangan juga dipilih sebagai langkah alternatif untuk membuat suasana yang berbeda agar dapat menarik minat baca semua orang.

Teguh juga mengungkapkan keinginan untuk meramaikan kawasan Malioboro dengan aktivitas-aktivitas yang positif. “Iya, ada ruanglah karena memang Malioboro sekarang udah mati saya pikir. Jadi memang kalau kita lihat beberapa kota masih ada tempat umum yang banyak aktivitasnya entah dia skateboard, entah dia gambar, entah dia ngamen secara langsung atau apalah itu,” jelas Teguh. Teguh juga mengharapkan pihak Perpustakaan Jalanan DIY dapat mengadakan kegiatannya di kawasan titik nol kilometer tersebut. Kemudian ketika ditanyai mengenai kendala yang selama ini dialami, Teguh mengatakan bahwa mengenai permohonan surat izin yang harus diajukan setiap kali mengadakan acara kepada pihak keamanan Malioboro.

Terkadang untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang besar kita perlu menyelesaikan dahulu permasalahan kecil yang membentuknya. Kegiatan yang dilakukan Omah Kreatif dan Perpustakaan Jalanan DIY tentunya bukan solusi total untuk masalah rendahnya minat baca di Indonesia. Namun merupakan suatu langkah yang patut diapresiasi dan didukung untuk membantu orang-orang menemukan kembali minat bacanya.

Reportase bersama: M. Ikhwan Fauzi