Presiden Jokowi menyatakan dalam pidatonya bahwa ia yakin Indonesia akan mencapai puncak kejayaan pada tahun 2045. Gambaran dari Indonesia emas yang menjadi maksudnya yaitu kondisi dan situasi negara baik dalam segi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan aspek-aspek lain akan berjalan jauh lebih baik dan membawa Indonesia sampai pada posisi kejayaan. Upaya pemerintah guna mewujudkan keyakinan presiden ke-7 itu sudah dimulai persiapannya, seperti yang dilansir oleh media Kompas tentang cara negara dalam mewujudkan Indonesia emas pada tahun 2045. Salah satunya yaitu melakukan pembangunan infrastruktur yang diyakini bisa meningkatkan daya saing produk Indonesia. Sebab, biaya logistik serta transportasi akan lebih murah lantaran konektivitas yang tinggi. Cara lain yaitu pembangunan industri. Pengolahan diyakini memberikan nilai tambah bagi produk dalam negeri yang berimbas positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan tidak tertinggal untuk fokus pada pembangunan industri jasa. Menimbang salah satu sektor yang sangat menguntungkan adalah jasa pariwisata.

Jokowi menyebutkan, pada 2030 Indonesia akan menghadapi bonus demografi. Keadaan tersebut disebabkan, sebanyak 52 persen penduduk di Indonesia merupakan usia produktif. Hal ini sangat berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang sangat berpengaruh untuk kemajuan negara kita. Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, tidak akan maju sebelum dapat memperbaiki kualitas sumber daya manusianya. Perlu diadakan persiapan dan fokus yang jelas kepada generasi yang akan memegang tongkat estafet memimpin Indonesia. Sebut saja mahasiswa, tidak dapat dipungkiri bahwa kesempatan untuk mengambil bagian pada kursi kepemimpinan pada 10-20 tahun ke depan tertuju pada sumber daya manusia yang mengampu pendidikan. Keilmuan yang melahirkan manusia-manusia berpola pikir kritis, inovatif, dan siap menghadapi banyak tantangan ketika sampai pada masanya menggenggam keberlangsungan negara Indonesia.

Lantas apa peran mahasiswa menuju Indonesia emas 2045? Orang-orang dengan tuntutan akademis yang sedang berjuang menempuh jalan masing-masing pada kelimuan guna mempersiapkan pertempuran dalam dunia kerja. Haruskah mereka menambah kesibukan untuk bersikap, berfikir, dan bertindak untuk masa depan negara? Ya, tentu saja hal tersebut merupakan sebuah kewajiban. Perjuangan di era ini bukanlah perjuangan di medan perang yang menumpahkan banyak darah di dalamnya. Namun, perjuangan saat ini adalah berupa partisipasi untuk menyumbangkan pikiran mendorong berkembangnya negara. Hal kecil yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah berperan dalam menghilangkan sikap apatis atau tidak peduli yang akhir-akhir ini menjadi ancaman tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Apatis adalah ketidakpedulian suatu individu di mana mereka tidak memiliki perhatian atau minat khusus terhadap aspek-aspek tertentu. Di sini ditekankan kepada kehidupan berbangsa dan bernegara. Apatis awalnya hanyalah sebuah sikap namun jika diterapkan oleh banyak orang secara terus menerus bukan tidak mungkin hal ini akan menjadi sebuah kebudayaan. Di mana kebudayaan tersebut akan terus tertanam di setiap individu masyarakat Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah. Berbicara tentang budaya tidak selalu berhubungan dengan adat dan kebiasaan zaman dahulu. Namun, ada pula budaya yang muncul dan berkembang di era sekarang. Budaya ini beragam sifatnya, ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Untuk itu kita perlu mewaspadai hal-hal yang dirasa memberikan ancaman, khususnya pada sumber daya manusia sendiri. Tak menutup kemungkinan budaya tersebut akan menjadi salah satu faktor gagalnya Indonesia mencapai kejayaannya pada 2045 nanti. Sebagai contoh yaitu fenomena budaya apatis. Hal kecil yang sebenarnya sangat berpengaruh bagi sumber daya manusia ini haruslah di pikirkan solusinya dengan serius.

Di sinilah peran mahasiswa dibutuhkan. Mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa mahasiswa? Bukankah peran ini dapat dilakukan oleh semua pihak? Siswa, pegawai, ataupun pengangguran sekalipun. Namun, tetap saja mahasiswa menjadi sasaran yang tepat untuk mengemban tugas dalam mencari solusi. Usia, waktu, pola pikir, dan tenaga merupakan senjata ampuh bagi kaum yang digadang-gadang sebagai agent of change ini. Jangan sampai seluruh usaha pemerintah yang telah dipersiapkan dengan matang menjadi sia-sia akibat sumber daya manusianya memiliki sikap dan kebudayaan yang tak mendukung. Mahasiswa dapat memulai dari lingkungan kampus, lalu menyalurkan kepada masyarakat, hingga memberikan pengaruh terhadap negara dan membawa indonesia pada puncak kejayaan.

Untuk mengatasi permasalahan mengenai adanya budaya yang kurang baik di tengah masyarakat, tentulah harus dibenahi dengan memunculkan sebuah budaya baru yang dapat menjadi solusi serta mungkin untuk dilakukan, yaitu budaya menulis. Menulis menurut KBBI berarti melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Ada ratusan kompetisi menulis yang ditujukan untuk mahasiswa setiap tahunnya. Bahkan beberapa diantaranya merupakan ajang bergengsi yang diperebutkan oleh ratusan ribu mahasiswa di seluruh penjuru Indonesia. Apa manfaat menulis untuk menghapuskan budaya apatis pada masyarakat? Untuk menyelesaikan sebuah tulisan dibutuhkan niat, rasa ingin tahu yang tinggi, narasumber, informasi, dan kemampuan mengembangkan informasi. Kelima hal di atas sangat sulit dilakukan jika kita memiliki sikap apatis. Dari mana kita bisa mendapatkan informasi jika kita tidak gigih dalam mencari narasumber. Untuk dapat mengembangkan sebuah informasi yang didapat pun dibutuhkan kemampuan dan pengalaman, biasanya didapat dari membaca dan bertukar pikiran dengan orang lain. Seorang yang bersikap apatis tidak akan suka hal-hal ini. Tentu akan menjadi kesulitan baginya jika ditugaskan menulis sebuah esai atau karya tulis. Manfaat menulis tidak hanya sampai di situ. Dalam kehidupan bermasyarakat, kebiasaaan menulis juga besar dampaknya. Sebuah tulisan yang dikemas dalam bentuk menarik dan memuat informasi terbaru yang tengah hangat diperbincangkan juga dapat menjadi sebagai media berpendapat dan kritik. Tak jarang tulisan mahasiswa menjadi pertimbangan oleh pemerintah atau bahkan dapat menggerakan hati jutaan orang yang setuju atas kalimat-kalimat yang menggerakan hati.

Peran mahasiswa harus dimulai dari lingkungan kampus. Sangat tidak wajar jika berkoar-koar di tengah masyarakat sementara di rumah sendiri keadaannya begitu memprihatinkan. Mahasiswa dapat menjadi agent of control dengan semisal menulis. Menulis apapun seputar kampus, biasanya terdapat lembaga khusus yang melakukan tugas ini secara rutin. Tulisan tersebut akan memuat seluruh berita baik dan buruk yang terjadi di kampus. Setiap tahap yang harus kita lalui untuk menulis benar-benar menjadi solusi untuk menghilangkan budaya apatis. Menulis berita misalnya, berawal dari memperhatikan dan mengamati kondisi kampus untuk mendapatkan sebuah isu yang menarik, menentukan sudut pandang, menghubungi narasumber, sesi wawancara, membuat kerangka, mengembangkan informasi, sampai lahirnya sebuah berita. Akan tumbuh sebuah semangat ingin tahu jika kita terbiasa melalui rangkaian proses tersebut. Seperti itu pula jika kita menulis esai, karya tulis, atau terlibat dalam PKM. Tak ada lagi waktu untuk tidak peduli. Jika tak terlalu tertarik pada isu politik kampus atau tulisan ilmiah, seni dapat menjadi salah satu alternatif. Komikus misalnya, sangat menarik jika sebuah tulisan dikemas dalam bentuk komik / karikatur untuk mendapat perhatian banyak orang dalam menyampaikan informasi sekaligus hiburan bagi sang pembaca.

Menulis di tengah masyarakat juga tak sedikit manfaatnya. Mahasiswa yang terbiasa menulis secara tidak langsung akan peka terhadap isu-isu hangat yang tengah terjadi di masyarakat. Ada banyak mahasiswa yang notabenenya adalah pengguna sosial media, mampu menggerakan dan menarik simpati ratusan ribu orang karena tulisannya. Ada mahasiswa yang menulis info penggalangan dana melalui Facebook, Twitter, dan Instagram sebagai bentuk kebijakan dalam menggunakan teknologi. Mahasiswa juga harus bijak dalam bersikap dan bertindak. Membela jika merasa ada kejanggalan dan ketidakadilan yang tampak. Sehingga suara mahasiswa tak dipandang sebelah mata.

Peran selanjutnya oleh mahasiswa yaitu memberi manfaat bagi negara, usai bergerak dan hadir dalam lingkungan masyarakat. Bersama sikap kritis dan jauh dari budaya apatis, seorang yang lahir sebagai sarjana, master, atau profesor sekalipun tentu akan menjadi sumber daya yang menguntungkan bagi bangsa. Mengenal tanah air beserta seluruh permasalahan di dalamnya sudah tentu menumbuhkan rasa cinta dan ikhlas bekerja untuk bangsa. Satu tujuan bersama membangun Bangsa dan Negara Indonesia.

Apatis adalah sebuah kebudayaan yang harus dihilangkan dari masyarakat Indonesia. Subjek yang tepat  untuk memulai gerakan ini adalah mahasiswa. Sebagai agent of change, mahasiswa dituntut untuk berfikir kritis, inovatif, dan membawa kebaikan. Solusi dari permasalahan di atas yaitu dengan memunculkan sebuah budaya baru yang dapat menghilangkan sikap apatis di tengah masyarakat. Budaya yang dimaksud yaitu budaya menulis. Kebiasaan menulis akan membawa seseorang jauh dari sikap apatis. Keharusan untuk mencari informasi, berinteraksi dengan orang lain, mengembangkan informasi akan membangun budaya dan sikap kritis pada setiap individu. Di sinilah peran mahasiswa, sebagai agent of control dan agent of change. Bukan hanya sebagai pelajar yang tak pandai bermasyarakat. Budaya menulis yang merupakan salah satu cara ampuh mahasiswa dalam menghilangkan budaya apatis benar-benar memberikan dampak yang besar. Sikap kritis, inovatif, dan partisipasi yang besar akan melahirkan sumber daya manusia yang berkarakter peduli dan memiliki rasa cinta tanah air. Semua pihak mampu berpikir demi kemajuan negara dan tak mudah dibodohi oleh oknum, hingga lahirlah kader-kader penerus yang siap memegang tongkat estafet membangun Indonesia. Sehingga Indonesia Emas pada tahun 2045 akan benar-benar terwujud ditangan orang-orang yang tepat.

(Meitipul Ade R. – Mahasiswa Teknik Kimia Angkatan 2016)