Disrupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu hal tercabut dari akarnya. Kemudian teknologi sendiri dalam hal ini merupakan alat atau sebuah sistem yang memudahkan manusia. Disrupsi teknologi merupakan keadaan di mana teknologi yang menyebabkan manusia tercabut dari akarnya. Akar di sini lebih condong ke kebudayaan dan kebiasaan manusia. Kecanggihan dan kemudahan yang disediakan oleh teknologi menyebabkan manusia kehilangan atau lupa akan akarnya. Kenapa tidak langsung menggunakan kata kehilangan alih-alih menambah kata lupa dalam deskripsi disrupsi teknologi. Karena kodrat sebagai spesies manusia akan susah untuk menghilang. Lebih tepatnya butuh waktu lama untuk menghilangkan akar spesies manusia jaman sekarang. Lalu pertanyaannya, kenapa kita perlu memahami disrupsi teknologi.  

Banyak alasan kenapa kita perlu lebih memperhatikan perkembangan teknologi. Karena teknologi merupakan faktor penyebab disrupsi, maka kita sudah seharusnya lebih tertarik untuk mengikuti perkembangannya. Disrupsi teknologi, suka-tidak suka akan memberikan dampak bagi manusia. Baik dampak positif ataupun negatif. Banyak pakar yang sudah menyebutkan dampak-dampak mengenai adanya hal tersebut. Dampak ini juga sekarang dipercepat dengan Revolusi Industri 4.0. 

Mau tidak mau, suka tidak suka, Revolusi Industri 4.0 sedang berjalan. Apa itu Revolusi Industri 4.0, dan apa kaitannya dengan disrupsi teknologi. Sejatinya Revolusi Industri 4.0 merupakan dampak dari disrupsi teknologi itu sendiri. Revolusi Industri 4.0 merupakan perubahan sektor industri yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi serta internet. Awalnya disrupsi teknologi menjangkiti masyarakat secara luas, kemudian disrupsi teknologi masuk ke dalam sektor industri untuk mempercepat laju perkembangan industri. Masuknya teknologi ke dalam sektor industri membuat disrupsi teknologi menjalar lebih cepat. Secara tidak langsung disrupsi teknologi merupakan sebuah penyebab dan hasil dari perkembangan teknologi. 

Memahami Disrupsi Teknologi 

Youval Noah Harari, dalam bukunya yang berjudul Sapiens menjelaskan dampak disrupsi teknologi. Ia memulai dengan menjelaskan sejarah teori evolusi manusia yang menyebabkan manusia berevolusi karena penggunaan teknologi. Awal mula manusia menggunakan teknologi adalah ketika manusia mulai menjadi spesies bipedal. Pada zaman itu kita mulai membuat perkakas dari batu untuk bertahan hidup dan membantu mencari makan. Perkakas dari batu tersebut merupakan teknologi pertama dalam sejarah spesies manusia. Seiring berjalannya waktu penggunaan teknologi tersebut mengubah cara hidup dan struktur tubuh spesies bipedal. Dari sini kita bisa menyimpulkan disrupsi teknologi menyebabkan spesies manusia berevolusi. Bukankah itu hal yang biasa, tidak menjadi masalah ketika kita berevolusi menuju hal yang lebih baik. Memang, namun dalam perkembangan teknologi pasti ada dampak buruknya. Alat perkakas batu itu kemudian digunakan juga untuk melakukan kejahatan pada masa prasejarah, seperti untuk merampas dan membunuh. 

Youval mengatakan manusia modern yang hidup di abad 21 ini bukan evolusi spesies manusia akhir. Usia kehadiran spesies manusia atau Homo Sapiens di dunia masih sangat muda, yaitu sekitar 200.000 tahun. Sebagai perbandingan spesies Homo Erectus ada di bumi lebih dari dua juta tahun. Kita mungkin tidak sadar, karena kita berpikir hanya dalam kurun waktu 100 atau satu abad kehidupan manusia. Bayangkan, kurun waktu singkat yang telah spesies kita lalui telah membuat perkembangan kehidupan manusia yang sangat pesat. Maka sangat mungkin kemudian manusia akan melakukan evolusi kembali. Salah satu penyebab perkembangan pesat spesies manusia ini karena kehadiran teknologi. Inilah yang saya maksud kenapa kita perlu memahami perkembangan teknologi. Youval bahkan mengatakan dengan penguasaan sains dan teknologi ini kita tidak lagi tunduk dengan hukum seleksi alam. Manusia bisa menentukan arah akan seperti apa evolusi spesies manusia. 

Salah satu contoh yang mungkin beberapa teman tahu terkait efek disrupsi teknologi ini adalah waktu tidur manusia. Tirto.id dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Bangun Siang adalah Kunci Kesuksesan” menjelaskan beberapa manfaat bangun siang. Artikel tersebut menjelaskan orang dengan siklus bangun siang cenderung merasa lebih puas sehingga lebih produktif kala bekerja. Manfaat-manfaat tersebut telah dibuktikan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh sejumlah akademisi. Selanjutnya kita kembali mencari penyebab kenapa kita terbiasa bangun siang. Salah satu penyebabnya adalah jam tidur manusia yang berubah karena pekerjaan di pabrik atau penggunaan gawai. Bisa kita lihat salah satu dampak dari Revolusi Industri 4.0 dan disrupsi teknologi. 

Kita seharusnya tidak hanya berpikir tentang revolusi atau reformasi, tapi lebih jauh dari itu, yaitu evolusi. Bagaimana disrupsi teknologi bisa menyebabkan sebuah evolusi spesies manusia. kemudian bagaimana kita menanggapi disrupsi teknologi ini? Sudah saya kemukakan pada paragraf awal, salah satu cara untuk dapat berdamai dengan disrupsi teknologi adalah memahami perkembangan teknologi. Lantas bagaimana kita harus memahami perkembangan teknologi. Mengapa kita perlu berdamai dengan disrupsi yang menyebabkan evolusi ini. Saya beranggapan siapa yang bisa menyetir ke mana arah evolusi spesies manusia, dialah yang akan menguasai dunia. Bahkan tidak hanya bumi, tapi planet-planet lain. 

Bahasa Sebagai Salah Satu Cara Memahami Teknologi 

Salah satu cara untuk memahami perkembangan teknologi adalah dengan menguasai bahasa. Kita sudah mengetahui bagaimana peradaban-peradaban kejayaan Islam terdahulu sangat perhatian dengan penguasaan bahasa. Sekarang modul teknologi banyak menggunakan bahasa asing. Lantas haruskan bahasa asing dijadikan bahasa sehari-hari untuk memahami perkembangan teknologi. Bayangkan kembali bagaimana masa kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah begitu gemilang dengan para ahli-ahli mereka. Apa yang mereka lakukan? Mereka menerjemahkan buku-buku yang berbahasa Romawi dan Yunani ke dalam Bahasa Arab. Mengapa ini dirasa perlu, Kenapa kita tidak memahami bahasa asing saja. 

Pemerintah perlu menerjemahkan modul-modul perkembangan teknologi yang berbahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia agar lebih efektif memahaminya. Saya setuju dengan kata-kata Ivan Lanin, “Utamakan Bahasa Indonesia, Pelihara Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing”. Tidak akan mudah memaksa semua Masyarakat Indonesia menguasai bahasa asing. Sadarkah ketika kita dipaksa untuk menguasai bahasa asing hal itu merupakan sebuah monopoli. Kita tidak berpikir ketika menggunakan bahasa ibu dalam setiap modul yang menggunakan bahasa asing akan lebih efisien. Kita seakan terpaku dengan pandangan jika ingin mengetahui perkembangan teknologi maka harus menguasai bahasa asing. 

Penerjemahan modul teknologi berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia juga merupakan salah satu solusi untuk berdamai dengan disrupsi teknologi. Kita perlu untuk memperkuat kajian dan pemahaman Bahasa Indonesia. Pemerintah juga harus lebih memperhatikan lembaga-lembaga bahasa. Alih bahasakan semua modul perkembangan teknologi bahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia. Menambah kata baru dan memperkaya perbendaharaan kata. Memahami perkembangan teknologi tak akan sesulit yang kita bayangkan ketika kita mudah mendapatkan informasi. Perkembangan teknologi akan menjadi sebuah hal yang biasa ketika kita memahaminya. Kita akan mudah mendapatkan ide-ide untuk mengembangkan sebuah teknologi karena masyarakat memahami teknologi. Bukankah kita lalai akan perhatian kita terhadap bahasa.  

Penting bagi Masyarakat Indonesia, terlebih generasi muda untuk memahami perkembangan teknologi. Kenapa saya selalu menggunakan kata memahami bukan menguasai, karena ketika kita paham kita tidak perlu untuk menguasai perkembangan teknologi yang negara lain buat. Kita bisa menciptakan teknologi baru untuk kita kuasai sendiri. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, disrupsi teknologi akan mencabut akar-akar kebudayaan kita. Karena teknologi yang diciptakan bukan berdasarkan kebudayaan dan kebiasaan Masyarakat Indonesia. Maka dari itu kita harus menciptakan teknologi berdasarkan kebudayaan sendiri. Agar Budaya Indonesia bisa berdamai dengan disrupsi teknologi.  

Penulis adalah mahasiswa jurusan Teknik Informatika angkatan 2014 dan aktif di Komunitas Selasar Buku.

Bagikan: