Beberapa perubahan yang dilakukan oleh Kemristekdikti terkait PKM 2018 berdampak pada kebijakan kampus dalam menyikapinya.

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan ajang kompetisi bergengsi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) setiap tahunnya. PKM sendiri terbagi menjadi dua kategori yaitu PKM V Bidang dan PKM Karya Tulis (KT). Di setiap kategorinya masih terbagi lagi menjadi beberapa bagian. PKM V Bidang terdiri dari PKM Kewirausahaan (PKM K), PKM Karsa Cipta (PKM KC), PKM Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM M), PKM Penelitian (PKM P) dan PKM Teknologi (PKM T). Sedangkan PKM KT terdiri dari PKM Artikel Ilmiah (PKM AI) dan PKM Gagasan Tertulis (PKM GT). 

Saat ini PKM banyak diminati oleh mahasiswa di seluruh Indonesia. Terlihat dari proposal pengajuan dana yang dikirim melalui website simbelmawa terus meningkat setiap tahun. Namun, untuk tahun 2017 terdapat sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Terdapat peraturan baru yang dikeluarkan oleh pihak Kemristekdikti. Isi peraturan tersebut mengenai adanya pengklasteran penerimaan proposal PKM V Bidang dan PKM-KT. Terdapat lima klaster, perbedaan masing – masing klaster tersebut terletak pada jumlah penerimaan proposal. Dimulai dari klaster pertama, jatah proposal yang diterima sejumlah 900 proposal, dengan 700 proposal PKM V Bidang, 200 proposal PKM-KT pada setiap Universitas. Hingga klaster kelima dengan jumlah 20 proposal, dengan 10 proposal PKM V Bidang, dan 10 proposal PKM-KT. Data tersebut dapat dilihat dari Buku Pedoman PKM 2017 yang dapat diunduh di situs resmi Sistem Informasi Pembelajaran dan Kemahasiswaan (SIMBELMAWA). 

Ada yang menarik terkait pengklasteran yang baru diberlakukan tersebut. Sebelumnya, UII berada pada klaster kedua yang berarti dapat mengirim 525 proposal dengan rincian 425 proposal PKM V Bidang, dan 100 proposal PKM-KT. Informasi ini kami dapatkan ketika pihak Kemahasiswaan mengadakan sosialisasi workshop PKM. Namun, sebulan kemudian pihak Kemahasiswaan mendapatkan info terbaru bahwa UII dinaikkan menjadi klaster pertama. Hanya saja pada saat itu pihak Kemahasiswaan menyampaikan informasi itu tidak dengan sosialisasi ulang, namun menginformasikan kepada seluruh jurusan dan anggota PKM Corner untuk diteruskan kepada mahasiswa. Mengenai kenaikan peringkat klaster ini disampaikan oleh Direktur Kemahasiswaan. “Dugaan kita karena waktu itu mungkin ada upaya juga dari Prof. Fauzy untuk mengkomplainkan ke Dikti. Wong UII itu kan sudah selama tiga tahun ini menonjol di PKM terutama PTS, kok masih di klaster dua. Sehingga mungkin komplain itu diapresisasi. Apalagi tahun ini kita PIMNAS peringkat pertama PTS”. Untuk alasan konkret dari Dikti, ia mengaku belum mengetahuinya secara pasti. Kami mencoba mengklarifikasi informasi itu kepada Prof. Fauzy, namun ia menolak untuk melakukan wawancara. Ia mengaku tidak memiliki wewenang untuk menjawab beberapa pertanyaan yang  akan kami berikan. 

Namun, apa yang menyebabkan Kemristekdikti mengeluarkan peraturan tersebut? Menurut pendapat Beni Suranto, selaku Direktur Direktorat Pengembangan Bakat/Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (DPBMKM UII), adanya peraturan tersebut disebabkan perguruan tinggi seperti Universitas Gadjahmada, Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, dan lain-lain dapat mengunggah hingga 5000 proposal. Otomatis, peluang perguruan tinggi tersebut untuk lolos pendanaan lebih besar dibanding perguruan tinggi yang masih merintis dalam bidang PKM. Dengan adanya pengklasteran ini, maka akan menyamaratakan persaingan di tingkat PKM. Ia juga menuturkan bahwa dengan pengklasteran ini maka UII yang berada di klaster satu bisa memperbesar peluang proposal yang didanai dan juga meningkatkan  peluang untuk ikut PIMNAS serta mendapatkan Medali, hal ini dikarenakan besarnya jumlah proposal yang akan diterima. 

Ada dua hal yang menjadi penilaian dalam pembagian klaster. Pertama adalah prestasi PKM tiap perguruan tinggi, yang kedua peringkat bidang kemahasiswaan. Tidak terdapat informasi khusus pada pedoman PKM yang menjelaskan penilaian tersebut. Info ini didapatkan oleh Beni di grup pesan instan WhatsApp. Ia menuturkan bahwa selama ini prestasi PKM yang diraih oleh UII telah meningkat secara signifikan, seperti pada PKM sebelumnya mendapat prestasi sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik dalam bidang PKM. Lalu, dalam bidang kemahasiswaan juga mengalami peningkatan yang pesat, seperti beberapa publikasi secara internasional, prestasi skala nasional maupun internasional. 

Dengan adanya pengklasteran ini, secara otomatis pihak kampus harus mengadakan seleksi internal untuk memilih proposal yang layak untuk diunggah ke SIMBELMAWA. Hal ini berbeda dari tahun sebelumnya dimana semua proposal dapat langsung diunggah. Untuk mekanisme seleksi internal, dibagi menjadi dua bagian; format proposal dan konten. 

Untuk format proposal, ada beberapa aspek yang menjadi acuan dalam penilaian, seperti kesesuaian marjin, format penulisan, minimnya kesalahan, dan lain-lain. Pada tahap ini, proposal akan ditinjau oleh anggota PKM Corner yang sekaligus anggota Laboratorium Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (LabMa UII). Setelah ditinjau oleh anggota PKM Corner, kemudian akan mendapat nilai yang akan digabung dengan penilaian selanjutnya, yaitu penilaian konten. Penilaian ini dilakukan oleh beberapa dosen di Universitas Islam Indonesia. “Jadi reviewer kita ada Pak Riyanto, Pak Rudy, dan Pak Ridwan Andi. Di FPSB itu ada pak Agus, kemudian FE itu ada pak Unggul, Pak Arif Fajar, kemudian saya sendiri, kemudian dari  kedokteran itu ada dua, (total) ada sembilan sampai sepuluh reviewer,” ujar Beni.  

Dengan adanya pengklasteran ini, pihak kampus memberlakukan pembagian porsi untuk pengunggahan proposal PKM untuk masing-masing fakultas. Proporsi per fakultas juga didasari dengan jumlah proposal yang dikirimkan. Contohnya seperti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) pada tahun sebelumnya mengunggah sekitar 30% dari jumlah total pengiriman proposal di UII. Maka dari itu porsi untuk FMIPA sekitar 30% dari total penerimaan proposal. Ia juga menambahkan kasus ekstrem seperti di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) yang hanya mengirim empat proposal, maka keempat proposal itu dapat diloloskan seleksi internal. Contoh kasus lainnya berada di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). “Ada kasus ekstrem misalnya contoh FTSP itu lebih dari persentasi porsinya, karena bagus-bagus. Jadi eman-eman juga kalo nggak diupload. Sehingga ada juga yang di luar kuotanya meskipun nggak banyak pergeseran proporsinya itu.” Pembagian porsi ini bertujuan untuk memberikan rasa adil untuk seluruh fakultas yang ada di UII. 

Sementara itu, dengan adanya seleksi internal ini Rita Nuraeni selaku pihak PKM Corner menuturkan ada sisi positif dan sisi negatifnya. Hal positif dalam berlakunya seleksi internal ini adalah mahasiswa benar-benar serius dalam pembuatan proposal. Sehingga proposal yang ditinjau dapat lebih berkualitas. Contoh sisi negatifnya adalah seperti mahasiswa yang ingin mengikuti PKM akan berfikir lolos seleksi internal atau tidak. Tidak seperti tahun sebelumnya yang sudah pasti lolos dan mendapatkan username dan password untuk mengakses SIMBELMAWA. Ia juga mengatakan pihak PKM Corner harus bekerja lebih keras pada tahun ini dibanding tahun sebelumnya. “Dari pandangan PKM Corner juga lebih kerja keras dan malah sampe lembur untuk menyeleksi, ada 24 anggota di PKM Corner ini dan itu ada jadwal-jadwalnya (untuk menilai proposal).” tutur mahasiswi  Teknik Informatika angkatan 2014 itu. 

Selain pengklasteran, yang membedakan PKM pendanaan 2018 yaitu waktu pelaksanaan PKM V bidang dan PKM KT yang hanya berjarak kurang lebih satu bulan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan pada semester ganjil untuk PKM V Bidang dan semester genap untuk PKM KT. Perbedaan selang waktu ini dirasa dapat menurunkan minat mahasiswa dalam mengikuti PKM seperti yang dituturkan salah satu mahasiswa Teknik Industri angkatan 2015, “Sebenarnya start (red-pemberitahuan) untuk PKM nya tu sama tapi sepertinya ada miss antara Kemahasiswaan dan fakultas kami jadi seakan-akan PKM KT itu terburu-buru. Jadi berpengaruh sekali terhadap pembuatan proposal ini karena buat proposal itu membutuhkan waktu yang lama.” Mufti menambahkan apabila karena miss tersebut mahasiswa banyak yang mengira bahwa antara PKM V Bidang dan PKM KT memiliki selang waktu yang lama. 

Reportase Bersama: Dyah Ayu M., Dimas Firmansyah

Bagikan: