Perjalanan ke sana ke mari Bogel biasanya dilakukan pada malam hari. Siang hari dia optimalkan untuk berefleksi dan hal-hal yang kontemplatif. Dia mengakumulasi semua laku, ucapan, ekspresi sosial, aktivitas budaya untuk ditadaburi. Tujuannya, agar Bogel melakukan perbaikan-perbaikan mental, psikologis, serta untuk lingkaran sosialnya. Malamnya, dia mengamati bintang, berdiskusi bersama galaksi, bercengkerama dengan angin, memakan daun-daun yang dia temukan di jalan. “Agghh, pahit,” celetuk Bogel seusai menjilatinya.

Bogel begitu ikhlas dengan keadaannya. Semua aktivitas dia lakukan dengan kesadaran tingkat tinggi, sehingga kita tidak perlu khawatir dan cemas. Kita juga tidak perlu memahami, kita cukup mendoakan, semoga dia memahami keadaannya sendiri. Tak pernah terlintas di benak Bogel untuk berhenti melakukan aktivitas-aktivitas spiritual, kegiatan-kegiatan rohani seperti itu. Dia percaya komunikasinya dengan alam harus intens dan kontinu. 

Maka dari itu, dia tidak pernah berani mengusik ekosistem alam. Pernah ada kecoa di dalam kantong celananya, dia biarkan saja. Lumut-lumut pernah tumbuh di sepatunya, dia biarkan saja. Karena musim hujan, lumut-lumutnya hilang disapu air. Bogel sedih. Dia merindukan lumut-lumut itu. “Jangan terlalu lama bersedih, Gel,” bujuk Tolet waktu itu. 

Tolet dan Manmun merupakan kawan karib Bogel. Kadang, banyak orang dari lingkaran sosial Bogel tidak mampu memahami apa yang dia lakukan. Manmun dan Tolet yang acap kali bertugas menafsirkan dan menerjemahkan. Tanpa disadari, Bogel seakan memiliki asisten pribadi. Selain kawan, rupanya Manmun dan Tolet menjalankan tugas sebagai humas ataupun juru bicara Bogel. Tetapi keduanya begitu ikhlas melakukan semuanya. Hal ini untuk kebaikan dan keselamatan hidup kawan mereka yang menyedihkan itu. 

Demikianlah, Bogel dan seluruh keindahan-keindahannya. Dia mempersiapkan diri. Bersiap untuk masa depan tanpa batasan siang dan malam. Entah bagaimana situasi masa depan yang dia maksud. Apakah masa depan yang meneruskan kehancuran-kehancuran. Ataukah masa depan yang melakukan perbaikan-perbaikan di setiap dimensi kehidupan.

Baca Juga:  R I N D U

Pada suatu forum diskusi, Bogel pernah mengatakan bahwa yang menentukan kondisi masa depan negaranya serta para penghuninya ialah Sang Pemilik Alam Semesta. Kemudian, ada inisiatif daya tawar yang dilakukan kaum mudanya. Namun, Bogel tidak berada di titik koordinat untuk memastikan masa depan lingkungannya, bangsanya, dan negaranya. Dia hanya mempersiapkan diri dan terus mempersiapkan diri. 

“Negara kita ini semakin rusak karena kelakuan para elitnya sendiri. Mereka terjebak di dalam kerakusan mereka sendiri. Mereka dituntun oleh ambisi yang jelas-jelas semu dalam peta konsep kehidupan,” tutur Bogel. 

Tolet menghela napas panjang. Manmun mendongakkan kepalanya ke langit. Mereka berdua berjalan sekitar 10 kilometer demi menemani Bogel beraktivitas di malam hari. Kebanyakan orang bilang aktivitas yang sangat misterius. 

“Kosentrasi berpikir mereka yakni mengeksploitasi yang ada di luar mereka untuk melayani keserakahan. Semua yang ada di luar diri mereka dijadikan bahan untuk diperas, dipelintir, diaduk-aduk, digiling, dan diracik untuk kepentingan semu mereka. Sehingga, hutan, sungai, laut, bahkan sesama manusia: saudaranya sendiri hancur! Demi melayani perut orang-orang yang mengaku elit dan terdidik itu,” sambung Bogel. 

Tolet merespons, “Apa yang bisa kita lakukan, Gel? Mendapati kondisi yang sudah silang-sengkarut begini. Sudah banyak juga tulisan di media massa, serta khotbah-khotbah berkenaan agar menghentikan kerusakan alam, wajib menjaga lingkungan, bahkan sudah ada konsep puasa supaya meminimalisir dan rethinking perihal memanajemen alam yang makin tak karuan begini.” 

“Puasa selama ini tidak dielaborasi-aplikatif oleh para elit itu, karena pikiran mereka sudah membatu untuk terus-menerus mengeksploitasi alam,” timpal Manmun. 

Bogel menanggapi, “Konsep puasa tidak populer di peradaban modern. Konsep puasa dimarjinalkan, disingkirkan dan ditimbun dalam-dalam di abad 21 ini. Padahal berpuasalah yang akan menyelamatkan eksistensi alam dan peradaban manusia,” ucap Bogel. 

Dalam setiap produk percakapan yang ketiga makhluk ini utarakan mengandung nilai-nilai, muatan-muatan kehidupan. Muatan percakapan yang dilontarkan mengandung energi dahsyat bila dipupuk oleh niat baik, cinta, dan rasa berat hati terhadap kondisi yang terjadi di luar diri. Pupuk yang berupa niat baik, cinta dan rasa berat hati selalu menguasai internal ketiga manusia ini. Ketiganya merupakan manusia yang sangat miskin jika dinilai memakai parameter modern abad 21. Tetapi Bogel, Manmun, dan Tolet tidak mau pusing atas parameter-parameter yang sesungguhnya jumud, kaku, rigid tersebut. Melalui pertemuan-pertemuan kultural yang mereka jalani, ketiganya mempunyai cara pandang yang dinamis, cara berpikir yang begitu cair. Mereka tidak hanya berpikir linier, tetapi juga siklikal dan komprehensif. 

Pada suatu rentang waktu, mereka terjerembab, terpelanting, didorong oleh  keterbatasan, kebingungan, diperlakukan semena-mena oleh ketidaktahuan. Ketidakberdayaan menindih kepala ketiga manusia ini. Kehancuran alam, kebobrokan mental, ketiadaan nutrisi psikologis yang menimpa negara dan manusianya membuat ketiga kepala manusia ini nyut-nyutan. 

“Tetapi keterbatasan, ketidaktahuan dan kebingungan juga dibutuhkan para manusia. Tentunya, harus kontekstual dan seimbang kadarnya,” ujar Bogel spontan. 

“Keterbatasan diperlukan agar manusia tidak selalu merasa superior. Lengan punya keterbatasan daya jangkau, mata punya keterbatasan yakni hanya mampu melihat lurus dan tidak mampu menembus tembok. Apa jadinya kalau mata mampu menerawang dan cara melihatnya mampu berkelok-kelok menembus sela-sela pakaianmu?” 

“Ketidaktahuan diperlukan agar manusia tetap waras dan terus mengolah kehidupannya dengan sewajarnya. Apabila kau tahu jadwal detail kematianmu, kemungkinan besar kau akan mengalami ketidakseimbangan berpikir dan sikap. Selain itu, apa jadinya kalau kau tahu isi hati istrimu, keponakanmu, tetanggamu tentang dirimu? Karena ada kalanya istrimu, keponakanmu, tetanggamu merespon sesuatu tetapi hanya di dalam hati, yang bisa saja bagimu itu tidak sesuai dan kurang tepat. Sehingga manusia butuh ketidaktahuan agar kondusif secara kultural dan sosialnya.” 

“Kebingungan juga diperlukan agar manusia belajar fokus. Melatih diri untuk menentukan pilihan. Mengubah kebingungan menjadi energi manajemen diri yang lebih responsif dan aktual. Berusaha mengontrol diri agar hati dan pikiran tenang. Karena manusia harus jatuh dulu baru bangkit. Manusia harus digembleng untuk menjadi tangguh.” 

Tolet dan Manmun tidak begitu seksama mendengar perkataan Bogel. Hanya sedikit informasi yang sampai. Potongan-potongan perkataan Bogel sedang diolah oleh keduanya. Beberapa menit kemudian, Manmun dan Tolet akhirnya tidak juga mampu mencerna apa yang Bogel maksudkan. 

“Bisa diulang lagi, Gel? Omonganmu terlalu cepat akhirnya samar-samar aku mendengarnya,” balas Manmun. 

“Semua perkataanku akan loading di kepalamu, Mun.” 

Manmun terkekeh, “Mana mungkin, Gel, yang aku ingat pun hanya beberapa kata.” 

“Betul,” Tolet mengangguk. 

Bogel tertawa bahak, “Sudah, sudah. Bagaimana kalau kita menuju jembatan atas Sungai Lematang?” 

“Sejujurnya aku mau pulang, tapi ya sudah, aku juga sudah lama enggak ke sana,” balas Tolet. Manmun yang sedari tadi ingin mencerna lebih banyak ucapan Bogel terlihat cemberut. Tetapi pelan-pelan mulai dirasakannya poin penting apa yang dimaksudkan Bogel tadi. 

Bulan malam itu tampak elok dan terang nian, membuat betah siapapun saja untuk memandanginya. Tak berapa lama, ketiganya tiba di jembatan, sekonyong-konyong Bogel mengucapkan sesuatu. 

“Sangat mudah bagi-Mu meremuk bulan, menghancurkan matahari, membuat banjir seisi bumi. Tetapi Engkau ulur waktu, Engkau kasih tenggat waktu, karena kasih sayang-Mu, untuk membiarkan kami, makhluk sempurna katanya, untuk berpikir ulang, agar berhenti rakus dan berpuasa menghancurkan alam-Mu.” 

“Engkau tetap biarkan bulan terang-benderang, matahari terbit, meskipun kami yang tidak serius menggunakan akal ini merayap di bumi-Mu dengan jargon nasionalisme, pro rakyat, cinta tanah-air, yang semuanya menjadi etalase di jalan-jalan dan penghibur di layar televisi.” 

Penulis adalah alumni Teknik Elektro UII angkatan 2012
*Dimuat di Minangkabaunews.com pada 13 April 2018 

Bagikan: