Berita ini merupakan salah satu tulisan yang pernah diterbitkan di produk SUPLeMEN edisi April 2018

Pemilihan Rektor dan Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia periode 2018-2022 adalah sebuah perhelatan yang melibatkan seluruh civitas akademika UII, tak terkecuali mahasiswa, untuk menentukan siapa yang akan memimpin UII selanjutnya. Akan tetapi, di manakah peran mahasiswa dalam pemilihan ini? 

Pemilihan Rektor dan Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) periode 2018-2022 saat ini tengah bergulir. Ketika berita ini ditulis, agenda pemilihan telah sampai pada tahap Penetapan dan Pengumuman Wakil Rektor. Berdasarkan Ketetapan Panitia No. 10/SK-PP/IV tentang Calon Wakil Rektor UII Periode 2018-2022, ditetapkan dua calon wakil rektor untuk tiap-tiap bidang. 

Calon wakil tersebut antara lain sebagai berikut: Bidang Pengembangan dan Riset: Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc. dari Fakultas Teknik Industri (FTI) dan Miftahul Fauzah S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Bidang Sumber Daya dan Pengembangan Karier: Saepudin S.Si., M.Si., Apt., Ph.D. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Dr. Zaenal Arifin, M.Si., dari Fakultas Ekonomi. Bidang Kemahasiswaan dan Alumni: Dr. Dwipraptono Agus Harjito, M.Si. dari Fakultas Ekonomi dan Dr. Drs. Rohidin, M.Ag. dari Fakultas Hukum. Bidang Networking dan Kewirausahaan: Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. 

Setelah agenda tersebut, dilanjutkan dengan Pemilihan Wakil Rektor Terpilih dalam Rapat Senat Universitas pada 17 April 2018. Kemudian, Penetapan dan Pengumuman Wakil Rektor Terpilih pada tanggal yang sama. Terakhir, ditutup dengan Pelantikan Rektor dan Wakil Rektor pada 1 Juni 2018. 

Sebelumnya, telah dikeluarkan Ketetapan Panitia No. 08/SK-SP/III/2018 tentang Penetapan Rektor Terpilih UII Periode 2018-2022 pada 26 Maret 2018. Berdasarkan ketetapan tersebut, Fathul Wahid, ST., M.Sc., Ph.D. ditetapkan sebagai rektor terpilih Universitas Islam Indonesia periode 2018-2022. Ia terpilih sebagai rektor dalam Rapat Senat Universitas pada 21 Maret setelah mengungguli dua calon lainnya. Dua pesaing tersebut ialah Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si dan Dr. -Ing. Ir. Widodo, M.Sc. 

Lantas, bagaimanakah peraturan dan tata cara dalam Pemilihan Rektor dan Wakil Rektor UII pada periode ini? 

Peraturan dan Tata Cara 

Pemilihan Rektor dan Wakil Rektor UII Periode 2018-2022 berjalan dengan dilandaskan pada Statuta UII tahun 2017, Peraturan Pengurus Yayasan Badan Wakaf (PPYBW) UII No. 1 dan No. 2. Dengan slogan “Tunaikan Amanahmu”, agenda pemilihan telah dimulai sejak Februari 2018. 

Pada bulan tersebut, terdapat enam agenda yang berlangsung secara bertahap. Agenda yang dimaksud adalah Penetapan dan Pengumuman Daftar Pemilih Sementara pada 15 Februari, Penetapan dan Pengumuman Daftar Bakal Calon Rektor pada 19 Februari, Penetapan dan Pengumuman Daftar Pemilih Tetap pada 19 Februari, Penjaringan Bakal Calon Rektor Terpilih di Fakultas pada 23 Februari, Penetapan dan Pengumuman Bakal Calon Rektor Terpilih pada 23 Februari, serta Pemilihan Calon Rektor di Fakultas dan Rektorat pada 28 Februari. 

Pada tahap penjaringan, ada syarat-syarat yang harus terpenuhi agar seorang dosen dapat menjadi bakal calon rektor. Syarat tersebut dibagi menjadi dua; formal dan material. Tercantum pada PPYBW UII No. 2, syarat formal yang ditetapkan adalah sebagai berikut: 

  • Dosen Tetap Reguler 
  • Berusia maksimal 60 tahun 
  • Untuk Rektor dan Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset minimal bergelar doktor 
  • Untuk Rektor dan Wakil Rektor selain Bidang Pengembangan Akademik dan Riset minimal bergelar magister 
  • Pernah menjabat minimal sebagai Ketua Program Studi Program Sarjana atau Ketua Program Pascasarjana untuk calon rektor 
  • Pernah menjabat minimal sebagai Sekretaris Program Studi Program Sarjana atau Sekretaris Program Pascasarjana untuk wakil rektor 
  • Tidak pernah berhenti atau diberhentikan dari jabatan rektor atau wakil rektor di tengah masa jabatan yang bersangkutan 
  • Tidak pernah mendapat sanksi administratif dengan kualifikasi sedang dan/atau berat 

Sedangkan untuk syarat material adalah muslim taat, sehat jasmani dan rohani yang dimungkinkan dapat mengganggu tugasnya, dan mampu berkomunikasi dalam forum nasional maupun internasional. 

Setelah tahap Pemilihan Calon Rektor di Fakultas dan Universitas, lima calon rektor wajib mengemban amanah sebagai calon rektor dengan mengisi formulir kesediaan. Dengan kata lain, calon rektor tidak dapat mengundurkan diri. Tertuang pada PPYBW No.1 Tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemilihan Rektor dan Wakil Rektor UII tahun 2018 bagian keenam tentang Penetapan dan Pengumuman Calon Rektor pasal 17 ayat 4, hanya terdapat dua keadaan calon rektor diperkenankan untuk mengundurkan diri. Keadaan tersebut adalah sakit jasmani dan rohani sehingga tidak memungkinkan untuk mengemban amanah yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter dari rumah sakit. Selain itu, keadaan berikutnya adalah calon rektor menjalankan tugas negara sebagai penjabat negara di tingkat pemerintahan pusat atau daerah atas izin tertulis dari rektor. 

Hal-hal terkait pemilihan rektor sendiri seperti; pengumuman, Surat Ketetapan (SK), dan agenda  telah diunggah dan ditampilkan pada situs resmi UII. 

Namun di satu sisi, sosialisasi terkait aturan pemilihan ini belum sepenuhnya tersampaikan. Alvin Sahroni, salah satu dosen teknik elektro mengatakan, “Aturan pemilihan rektor tidak terlalu banyak saya ketahui, tapi saya pribadi tahu sedikit banyak tentang tahapan pemilihannya.” Hal yang menurutnya kurang ia ketahui adalah tentang bagaimana proses akhir pemilihan rektor. 

Menjadi Panitia dan Hak Suara 

Untuk Pemilihan Rektor dan Wakil Rektor UII Periode 2018-2022, mahasiswa turut andil dengan menjadi anggota panitia pemilihan. Hal ini tercantum dalam PPYBW No. 1 tahun 2018 tentang Tata Cara Pemilihan Rektor dan Wakil Rektor UII pada bab VII tentang Panitia Pemilihan pasal 34 ayat 6. Ayat tersebut berbunyi “Keanggotaan Panitia Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berasal dari unsur: a. Dosen Tetap reguler dari masing-masing Fakultas; b. Ikatan Keluarga Pegawai (IKP) Universitas; dan c. Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) serta Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) tingkat Universitas.” 

Reynaldo J. Bursandi, selaku delegasi dari DPM U, membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan masing-masing dari DPM dan LEM mendelegasikan satu anggotanya. “Dari DPM univ (baca: universitas) saya, (dari) LEM Husain (M. Husain N.) ketua umumnya sendiri.” Ia menambahkan pada tingkat fakultas ada pula Panitia Pelaksana Pemilihan. 

Mahasiswa yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi II DPM U itu juga menceritakan terkait perjalanan panitia pemilihan. Menurutnya terdapat dinamika ketika berdialog dengan panitia lain. “Namun, Alhamdulillah berjalan lancar semua,” tambahnya. 

Selain menjadi panitia, mahasiswa pun ikut andil dalam menentukan siapa yang akan menjadi Rektor UII untuk periode 2018-2022. Reynaldo mengatakan bahwa saat ini hanya UII yang memberikan hak suara pada mahasiswa dalam pemilihan rektor. Pada pemilihan periode ini, mahasiswa mendapat hak pilih sebanyak 120 suara. Hak tersebut digunakan melalui perwakilan lembaga mahasiswa. Suara mahasiswa tersebut terhitung lebih banyak dibandingkan dengan pemilihan periode-periode sebelumnya. Reynaldo mengatakan bahwa pada pemilihan tahun 2014 hanya DPM U dan LEM U yang mendapatkan hak suara. 

Dari evaluasi pemilihan periode sebelumnya, Reynaldo mengatakan diperlukan penambahan suara untuk mahasiswa. “Kemudian hal itu saya suarakanlah dalam forum kepanitiaan pemilihan rektor.” Walhasil, Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPM F) dan Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas (LEM F) tiap fakultas pun mendapatkan hak suara. Ia bercerita, awalnya yang dapat diakomodasi hanya satu hak suara dari tiap lembaga fakultas. Kemudian, Lembaga Khusus (LK) juga mendapat satu hak suara. 

Ketika tim reportase bertanya tentang suara untuk seluruh mahasiswa, Reynaldo menjawab bahwa hal ini sering ditanyakan. Ia meneruskan, sebenarnya hal tersebut dapat diperjuangkan seluruh mahasiswa, tetapi untuk apa ada lembaga perwakilan. Menurutnya, lembaga perwakilan berasal dari mahasiswa yang dipercayai untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa. “Jika ada yang menginisiasikan seluruh mahasiswa itu mendapat hak suara saya kurang sepakat karena masih ada lembaga,” terangnya. Hal ini menjadi alasan mengapa hanya lembaga yang mendapatkan hak suara, bukan seluruh mahasiswa. 

Dalam PPYBW No. 2 Tahun 2008, telah tercantum beberapa lembaga mahasiswa yang memiliki hak suara dalam pemilihan rektor periode ini. Perwakilan lembaga kemahasiswaan yang dimaksud untuk tingkat fakultas adalah anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa, Pengurus Harian (terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara) LEM, satu orang perwakilan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), dan satu orang perwakilan Koperasi Mahasiswa (KOPMA). Sedangkan untuk tingkat fakultas adalah Anggota Dewan Permusyawaratan Mahasiswa, Pengurus Harian LEM, dan satu orang perwakilan dari LPM, Mahasiswa Pencinta Alam, Marching Band, Resimen Mahasiswa (MENWA), dan KOPMA. Dari sekian lembaga kemahasiswaan, hanya MENWA lembaga kemahasiswaan di luar struktur Keluarga Mahasiswa (KM) UII yang mendapat hak suara. 

Reynaldo angkat bicara mengenai hal tersebut. Menurutnya, hal ini menjadi kekurangan dalam pemilihan rektor periode ini. Ia mengatakan bahwa MENWA tidak masuk dalam struktur lembaga kemahasiswaan KM UII. “Saya bukan mempermasalahkan MENWA mendapatkan hak suara atau tidak. Tapi saya mempermasalahkan ketika MENWA masuk dalam struktur KM.” Ia juga menambahkan bahwa MENWA mendapatkan hak suara karena dia bagian dari LK dan hal tersebut merupakan kekeliruan. “BW (Badan Wakaf) mengatakan bahwa itu sudah menjadi konsensus sejak dari dahulu.” Pihaknya sudah mengomunikasikan hal ini ke Wakil Rektor 3 dan BW sendiri. “Namun, ini saya sampaikan kekeliruan yang sangat fatal jika itu memang ada konsensus,” terangnya. Menurutnya, konsensus itu batal demi hukum karena bertentangan dengan Peraturan Dasar Keluarga Mahasiswa.

Baca Juga:  Kiprah Mobil Listrik Kaliurang Unisi Generasi Ketiga

Reportase bersama: Okky Wahyu Syafriani dan M. Arnesz Setiawan

Bagikan: