Tulisan ini merupakan salah satu tulisan yang pernah diterbitkan di produk SUPLeMEN edisi April 2018

Sebelumnya, saya ucapkan selamat kepada bapak Fathul Wahid yang telah diberikan amanah menjadi rektor UII periode 2018 – 2022. Semoga amanah dan dapat memajukan kampus sesuai cita-cita pendiri UII terdahulu. 

Hiruk pikuk Pemilihan Wakil Mahasiswa dan Pemilihan Rektor telah usai. Pencarian sosok yang ideal untuk menjadi pemimpin adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh Mahasiswa UII. Seperti halnya yang sudah-sudah, permasalahan yang terjadi adalah pemimpin yang telah diberikan amanah sebenarnya tidak mampu untuk mengemban beban itu. Namun, ia dipilih dan dipercaya oleh kelompok yang memilihnya walaupun ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. Kelompok yang ia pimpin pun terkadang tidak memiliki landasan yang kuat untuk memilih sosok pemimpin yang sebenarnya mampu untuk menangguh amanah. Pada akhirnya, kelompok itu tidak memiliki satu pandangan yang sama karena pemimpin tidak mampu untuk menampung berbagai aspirasi kelompoknya. 

Ketika mendengar kata pemimpin, sebagian pembaca pasti terbayang akan sosok yang berdiri di atas panggung. Mengepalkan tangan sembari meneriakkan penolakan atas kebijakan pemerintah yang dinilai kurang layak untuk masyarakat. Sebagian lain mungkin berpikir tentang sosok dengan setelan jas mahal. Duduk nyaman di ruangannya selagi memikirkan kebijakan apa yang tepat untuk diambil demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia. Namun, bagaimana dengan pandangan seorang mahasiswa mengenai kepemimpinan yang ada di kampusnya sendiri? 

Mari kita telisik lagi mengenai sosok proklamator yang legendaris dalam sejarah bangsa kita, Soekarno. Saya sangat yakin semua pembaca tulisan ini pasti mengenal sosok ini. Badan tegap, kokoh, dan bersahaja, serta suara lantang laksana guntur yang meneriakkan penolakan terhadap kolonialisme di Indonesia, tak ada yang tak mengenalnya. Sosok ini bahkan dapat membuat orang mematuhi apa yang diperintahkannya dengan pribadi yang kuat. 

Namun, apakah seorang pemimpin harus memiliki badan seram dan teriakan lantang seperti beliau? Lalu bagaimana dengan kiai di sebuah desa kecil yang berusia 60 tahunan? Dengan jenggot dan rambut yang sudah memutih, suara lirih, juga badan yang sudah mulai melemah, saya rasa ia masih memiliki kekuatan untuk memimpin sekelompok kecil orang. Sangat berbeda dengan Soekarno yang segar bugar dan tegap menyeramkan (bagi sebagian orang). Apa yang membuat mereka masih memiliki kekuatan untuk didengar perintahnya oleh kelompok yang mereka pimpin? 

Alasan mengapa orang mau untuk menuruti perintah dari pemimpin adalah salah satunya karisma yang dimiliki oleh pemimpin tersebut.. Karisma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa. Kemampuan yang dimaksud adalah dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya. Pengertian tersebut bermakna, tidak semua orang memiliki karisma. Hal ini muncul karena bakat yang diperoleh ketika ia dilahirkan (atau bahkan dalam kandungan). Seperti sahabat Rasulullah SAW, Sa’ad bin Waqqash R.A., ada orang yang tidak akan hidup jika ia tidak memimpin. Ada pula orang yang tidak akan hidup jika ia terus memimpin. 

Ketika Anies Baswedan memberikan pidato di Kuliah Perdana Mahasiswa Baru UII tahun 2016, ia berbicara perihal pemimpin yang baik. Ia yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa pemimpin yang baik, walau tidak memiliki otoritas, perintah yang ia berikan dapat diterima oleh bawahannya. Di sinilah karisma dari seorang pemimpin bekerja. 

Namun di lingkungan kampus, apakah mahasiswa harus dilatih untuk menjadi pemimpin sehingga mampu mengelola suatu kelompok? Apa guna ia memelajari tentang bagaimana menjadi pemimpin sedangkan di satu sisi tidak memiliki bakat untuk memimpin? Apakah cukup dengan mengandalkan otoritas yang ia miliki ketika terpilih menjadi pemimpin? Dapatkah ia memengaruhi pikiran bawahannya untuk mencapai tujuan bersama? Bagaimana ketika salah satu anggota memberontak dan menggulingkan jabatan yang ia pegang? Hal ini dapat menjadi permasalahan besar dalam kelompok yang dikelola oleh mahasiswa. Di kalangan mahasiswa, pemimpin tidak perlu untuk dilatih. Ia akan muncul dengan sendirinya beserta karisma yang dimiliki. Jika sosok tersebut tidak kunjung ditemukan, maka menjadi tugas dari kelompok tersebut untuk mencari pemimpin yang ideal bagi mereka. 

Berbicara mengenai pemimpin yang ideal, ada beberapa poin yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mampu memimpin sebuah kelompok. Oleh karena itu, mari kita sedikit bermain dengan dunia filosofi. 

Air memiliki sifat untuk selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Seperti itu pula pemimpin ideal, harus mampu melihat dari sudut pandang yang di bawah dan melihat kondisi lapangan secara langsung. Dengan begitu, ia dapat mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan mampu mengambil sikap dengan sebijak mungkin. 

Selanjutnya, banyak hal yang dapat ditampung oleh air. Mulai dari zat yang bermanfaat hingga kotoran sekalipun. Pemimpin yang mengikuti filosofi air harus dapat menampung berbagai macam pikiran, baik maupun buruk. Ia juga harus dapat menerima kritik dan saran dari banyak orang. Tidak enggan untuk menampung keluh kesah yang dihadapi oleh bawahannya. 

Walau air lembut, ia mampu mengikis sesuatu meski sedikit demi sedikit. Dalam hal ini, peran pemimpin dalam mengubah sesuatu tidaklah harus secara signifikan. Ia dapat melakukannya secara perlahan tapi terarah. Tidak dengan perubahan besar tetapi dilakukan dengan pemaksaan mengikuti keinginan pribadi. 

Kemudian, perhatikan sifat air yang menyebar ke segala penjuru. Mencari celah yang ada dan menuju tempat yang sulit dicapai. Pemimpin harus memiliki kemampuan yang kuat untuk mencapai visi dan misi kelompok yang ia pimpin. Ketika suatu rencana gagal, pemimpin yang ideal tidak akan kehabisan akal untuk melampaui masalah tersebut. Bahkan, ia dapat memberikan solusi terbaik atas permasalahan yang dihadapi oleh bawahannya. 

Dari hal-hal di atas, mahasiswa dapat menggunakan filosofi tersebut untuk menentukan pemimpin yang baik guna mengelola kelompok mereka. Selain itu, dapat pula dijadikan kriteria untuk menilai apakah seseorang layak menjadi pemimpin atau tidak. 

Carilah pemimpin yang memiliki daya influence tinggi sehingga mampu mengubah perilaku bawahannya. Daya ini pula yang mampu mengubah hidup bawahannya untuk tujuan kelompok yang ia naungi. Baik dan buruknya hasil dari daya tersebut ditentukan oleh pemimpin itu sendiri. Selain itu, karisma yang dimiliki oleh seorang pemimpin diperlukan untuk memberikan perintah kepada bawahannya. Terakhir, carilah pemimpin yang mengikuti filosofi air yang telah saya paparkan di atas agar tujuan bersama dapat dicapai. 

Penulis adalah mahasiswa Teknik Informatika 2016 dan Staf Redaksi LPM Profesi FTI UII periode 2017/2018

Bagikan: