“Walaupun hari ini (31/5) sepi, tapi setiap hari pasti ada pengunjungnya,” ujar Tia saat ditemui di bagian informasi.

Museum Anak Kolong Tangga. Museum ini adalah bagian dari gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan berada dibawah tangga gedung konser TBY, yang terletak di Jalan Sriwedari No.1, Yogyakarta. Museum ini berdiri pada 2008 dan merupakan museum anak dan mainan pertama di Indonesia.

Dilansir dalam blog “Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga”, berdiri-nya museum ini berawal dari inisiatif seorang seniman asal Belgia, Rudi Corens. Rudi Corens adalah seorang kolektor mainan dari berbagai negara. Pada awalnya, mainan dalam museum ini berasal dari koleksi pribadi Rudi Corens, jumlahnya berkisar 3.000 buah. Saat ini, dengan tarif Rp 4.000/orang, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi mainan dalam museum ini yang sudah mencapai 10.000 buah.

Baca Juga:  Bendera Eksternal "Masih" Berkibar di Kuliah Perdana

Koleksi dari museum tidak hanya mainan, melainkan segala benda yang berkaitan dengan dunia anak. Sebagian besar dari Indonesia, namun koleksi mancanegara yang berasal dari donatur dan hadiah dari kedutaan besar pun tidak kalah banyak.

Pengunjung museum berasal dari berbagai daerah, luar maupun dalam Jogja. Pengunjung museum ini masih didominasi oleh orang dewasa dibandingkan anakanak. Biasanya, pengunjung anak-anak museum ini berasal dari Sekolah Dasar yang dibagi perkelompok. Dimana satu kelompok terdiri dari 15 – 20 orang. Untuk
pengunjung anak-anak dengan usia dibawah 14 tahun tidak dikenakan biaya. Kecuali untuk kunjungan, akan dikenakan biaya untuk guiding dari relawan Museum Anak Kolong Tangga.

Baca Juga:  Belum Sejahtera, Buruh Yogyakarta Merana

Setiap satu tahun sekali, museum ini melakukan pembenahan dengan mengganti koleksi dan tema dari presentasi Museum Anak Kolong Tangga. Hal ini dilakukan untuk terus memberi wawasan baru bagi pelajar dan seluruh pengunjung museum tentang dunia dan mainan anak di seluruh dunia, dengan harapan jumlah pengunjung bisa terus bertambah setiap tahunnya. (Reiny Handayani Paulus)

Bagikan: