M. Khoirul Ummam
Pemimpin Redaksi LPM PROFESI

Selama periode itu berjalan, tak terdengar
gaungan aspirasi mahasiswa. Apa itu menandakan
eksekutif kampus yang tak lagi produktif
dan jengah oleh lingkup organisasi?

Kekuasaan yang diemban semestinya dapat memaksimalkan posisi jabatan dan tugas dalam keseharian selama masa periodenya. Kekuasaan merupakan amanah berupa kepercayaan pemilih kepada terpilih
untuk mewakilkan suara minoritas mereka yang sedari awal tak terhirau. Jika itu benar adanya, maka kini harusnya mereka dapat tersenyum menikmati puncak keberhasilan sebagai orang terhebat dikalangan mahasiswa.

Eksekutif mahasiswa yang berdiri dengan sistem Student Government mestinya tak jauh perannya bak eksekutif di tingkatan Negara. Mereka yang harus mengeksekusi undang-undang legislatif. Dalam tugasnya sebagai eksekutif, keberadaannya harus dapat mempermudah mahasiswa dalam fungsi aspiratif, fungsi advokasi, dan sebagai penampung serta penyalur aspirasi mahasiswa. Misalnya, jika terdapat mahasiswa yang mendapati permasalahan akademik, transparansi dana kemahasiswaan, dan peran lembaga dalam memperjuangkan hak-hak mahasiswa. Kini, agaknya peran itu beranjak hilang dengan fokusnya eksekutif menyelenggarakan kegiatan yang terkesan tradisi dan terjadwal di awal kepengurusan.

Baca Juga:  Kemana Panitia?

Yang patut ditanyakan, kemana peran eksekutif yang semestinya? Pada masanya, ruang sesekali tampak sibuk hingga larut, mengindikasikan aktivitas sedang terjadi disana. Sayang, sibuknya ruangan hanya terjadi saat konsultasi kegiatan dan rapat internal eksekutif yang ada karena kekangan hasil Sidang Umum (SU) KM UII. Apa tak pernah terbesit sekilas untuk sadar kondisi mahasiswa lain di luar organisasi, ketimbang memfokuskan diri ke banyak kegiatan tradisi yang mengatasnamakan aspirasi mahasiswa?

Kegiatan itu seakan dirancang untuk bersaing dengan himpunan sebagai representatif jurusan yang secara struktur dipimpin oleh satu ketua umum eksekutif. Bahkan, bersaing dengan eksekutif baik fakultas lain maupun universitas. Belum kelar acara eksekutif yang satu, eksekutif lain sudah mengantri tak sabar dengan konsepnya. Hingga tak sadar satu periode terlewati dengan rutinitas tradisi.

Baca Juga:  Menggusur Budaya Apatis dengan Budaya Menulis

Dari ajang olahraga, seminar, training, hingga bakti sosial yang telah dilaksanakan oleh himpunan, kembali dilaksanakan oleh eksekutif secara bergantian. Entah sadar atau tidak, itu merupakan tindakan yang kurang efektif bagi organisasi se-level mahasiswa, jika itu dilaksanakan hanya untuk memburu pujian “hebat” saat Sidang Laporan Pertanggungjawaban atau yang dikenal LPJ diakhir masanya. Ironisnya, sekali ingin menjajal kegiatan anyar, malah merusak nama kampus di mata luar dengan lilitan hutang mahasiswa demi terlaksananya konsep acara yang “wah” dengan mendatangkan bintang tamu ternama. Memang sulit, jika eksekutif sudah terpaku mati oleh tradisi si empu. Hari ini itu, besok dan lusa juga itu. Malah, ketua yang terlilit hutang itu mencalonkan diri sebagai legislatif.

Baca Juga:  TOLAK SAJA ITU

Sebenarnya, semua bidang eksekutif yang layaknya menteri negara, seberapa paham akan konsep eksekutif? Konsep yang redaksionalnya selalu menjadi perdebatan dalam SU KM UII tanpa ada perubahan. Seberapa peduli dengan kegiatan tradisi bidang se-tingkat yang dijadwalkan rapi dalam Rapat Kerja? Seberapa peduli dengan hak mahasiswa di luar lembaga? Jika paham dan peduli, kenapa hanya kegiatan yang menjadi luaran eksekutif? Selama periode itu berjalan, tak terdengar gaungan aspirasi mahasiswa. Apa itu menandakan eksekutif kampus yang tak lagi produktif dan jengah oleh lingkup organisasi? Hanya terdengar umbaran kalimat percuma dalam kampanyenya tentang peran mahasiswa yang katanya agent of change, social control, dan iron stock. Meyakini bahwa dengan menjadi eksekutif kampus maka perannya sebagai mahasiswa telah terlaksana, setidaknya telah mencoba melangkahkan kakinya untuk menjadi pemimpin yang berniat adanya perubahan.

Bagikan: