“…Kita tujuannya disini hanya jualan buku, kemudian dapat uang buat makan
sama anak istri gitu aja…” ungkap Dodi seorang penjaja soal UPCM UII.”

Kala sinar mentari hendak menyapa bumi pertiwi, Dodi pria paruh baya berbadan gempal dan tinggi tak lebih dengan tinggi sekitar 170-an sentimeter telah terbangun dari mimpi. Seolah tak ingin rezeki yang telah dipersiapkan Sang Khaliq untuknya dipatok ayam. Ia telah bersiap dengan buku-buku berisi prediksi soal-soal Ujian Potensi Calon Mahasiswa (UPCM) yaitu Computer Based Tes (CBT) dan Paper Based Test (PBT) yang disusunnya, hendak ia jajakan di kampus, Universitas Islam Indonesia (UII).

Bersama sandal jepit yang menemaninya. Tepat pukul tujuh pria paruh baya ini juga berlomba dengan mahasiswa UII lain untuk sampai di kampus berikon Masjid Ulil Albab.

Soal-soal yang telah ia susun berasal dari berbagai sumber. Salah satu yang sering digunakan adalah sumber dari penuturan peserta ujian yang gagal. Dodi sedikit demi sedikit mengorek informasi jenis dan bentuk soal, sehingga ia dapat menentukan tingkat kesulitan soal yang ia buat. Soal-soal ujian seleksi di UII tidak dibawa pulang oleh peserta, baik itu seleksi melalui CBT maupun PBT, hal inilah yang membuat Dodi, sang pengepul soal kesulitan.

Baca Juga:  Kegiatan Komunitas di Yogyakarta untuk Meningkatkan Minat Baca

Ditemani istri tercinta, Dodi menjajakan soal-soal tersebut di kampus rahmatan lil’alamin. Tugas dan spot masing-masing telah jeas. Dodi mengambil tempat di boukevard sebelah utara, sedangkan sang istri berada di selatan Masjid Ulil Albab.

Harga soal yang ditawarkan beragam, mulai dari kisaran 35 ribu sampai 75 ribu
rupiah yang didalamnya sudah termasuk kunci jawaban masing-masing soal. Tidak ada penyamaan harga soal UPCM, jadi berbeda penjual berbeda juga harga yang ditawarkan. Para penjual soal-soal UPCM yang berada di pelataran UII ternyata masih dalam ikatan keluarga dengan mereka berdua. Contohnya saja, penjual yang bertempat di depan Koperasi Mahasiswa (KOPMA) UII merupakan kakak dari Dodi. Targetnya, tentu para calon mahasiswa baru yang hendak mendaftar kuliah. Umumnya, para calon mahasiswa ini belum memiliki banyak gambaran mengenai soal ujian, sehingga melalui buku prediksi soal-soal UPCM yang disusunnya, ia berharap dapat membantu para calon mahasiswa untuk dapat menjawab soal.

Baca Juga:  Ironi Antini, Penjual Jasa Ketik Manual

Respon positif diterima Dodi dari peserta ujian yang lolos seleksi dan diterima kuliah, dengan ikhtiar dari peserta yang membeli soal UPCM miliknya. Menurut penuturan Dodi, hal itu terjadi karena soal yang ia buat hampir sama dengan soal yang diujikan di UII. Ia bersyukur atas hal itu.

Untuk hal negatifnya sendiri, soal-soal buatan Dodi tidak memiliki legalitas, karena soal dibuat berdasar dari inisiatif dan pengalaman yang ia dapat sendiri, bukan dari petunjuk dan arahan pihak manapun. Ia hanya mencoba menerkanerka bentuk soal yang telah digambarkan para pembelinya.

 Ia mengaku, ada oknum-oknum tertentu sesama penjual soal UPCM yang melanggar peraturan kampus, tidak boleh berjualan disekitaran Gedung Rektorat, hal tersebut membuat ia dan keluarganya dikejar-kejar petugas keamanan kampus.

Baca Juga:  Gathering Gondrongers UII

 Bayangan benda yang lebih tinggi dari benda aslinya menjadi pertanda bel pulang bagi dirinya dan keluarga, sekitar pukul 15.30 ia sudah harus bersiap-siap untuk membereskan barang dagangannya, konsumen pasarnya telah beranjak dari UII satu per satu.

 Dodi beserta istri ke UII dengan tujuan hanya menjual buku, kemudian dapat uang untuk makan anak dan istri. Ia hanyalah pedagang musiman yang juga seorang pengangguran, mencoba mengais mencari rezeki dari segala ini asalkan halal, sehingga apa yang dimakan anak dan istrinya menjadi berkah.

 Seolah berkaca dari kisah romantis mantan Presiden Republik Indonesia ketiga, B.J. Habibie-Ainun, ia selalu setia ditemani sang istri menjajakan soal-soal UPCM susunannya di kampus perjuangan. Entah sampai kapan, mungkin sampai harapan baru muncul dan terwujud dengan ikhtiar kerasnya yang tiada berujung. (Tri Wahyudi)

Bagikan: