Masa kuliah adalah masa dimana seseorang beradaptasi dari pribadi yang masih kanak-kanak menjadi  pribadi dewasa. Masa transisi dimana siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang biasanya dibimbing  apapun urusan akademiknya oleh figur seorang guru. Namun, masa kuliah mereka dituntut mandiri karena semua urusan yang bersangkutan dengan akademiknya diusahakan sendiri.

Permasalahan yang muncul dari hal tersebut adalah cara apa yang terbaik untuk meningkatkan kemandirian seseorang? Mungkin banyak cara yang bisa dilakukan, tetapi kebanyakan orang memilih untuk melatih  kemandiriannya untuk berkecimpung di dalam organisasi. Memang, organisasi berperan cukup besar untuk melatih kemandirian seseorang, banyak pengalaman-pengalaman berharga yang didapatkan. Tentu, tak ditemukan dalam aktivitas akademik di bangku perkuliahan. Melihat sisi tersebut, tentunya seluk beluk  organisasi banyak diketahui oleh mahasiswa.

UII cukup berbeda dengan universitas lain dalam segi organisasi internal kampusnya. Dimana, sistem yang digunakan adalah student government. Oleh karena itu, organisasi eksekutifnya dinamakan Lembaga  Eksekutif Mahasiswa (LEM) LEM memiliki struktur dalam melakukan kinerjanya. Struktur yang ditempati oleh mahasiswa berkompeten tentunya. Disana terdapat seorang ketua umum, sekertaris, bendahara, dan  bidang-bidang yang mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing. Namun, melihat segi strukturnya, disini muncul permasalahan yang menjadi unek dikalangan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Meski berkecimpung dalam ranah jurusan, tetapi tahukah kalian bahwa HMJ juga anggota dari LEM?  Dan tahukah kalian bahwa HMJ dalam struktur LEM setara dengan bidang-bidang LEM? Ketua HMJ memiliki jabatan yang setara dengan ketua bidang di LEM. Begitu pula hak dan kewajibannya, bila mengacu pada struktur. Tetapi, timbul permasalahan karena adanya garis struktur seperti ini. Hubungan HMJ dan  LEM dapat dikatakan tidak akur. Seharusnya, karena dalam satu organisasi kampus, apalagi dalam segi struktur mereka adalah satu kesatuan, hal yang seperti ini tentunya harus dihindari.

Baca Juga:  Simulasi Aksi Ajang Penyampaian Aspirasi

Usut punya usut, sebenarnya mereka menginginkan HMJ dan LEM saling menjalin kerjasama baik. Tetapi, mereka menganggap bahwa LEM sering mengesampingkan mereka. Himpunan hanya dianggap secara  struktur, tetapi seringkali tidak dilibatkan dalam pembahasan “khusus”. Padahal secara struktur, jelas bahwa HMJ ialah anggota dari LEM. Sehingga, tentunya mereka juga mempunyai hak yang sama dengan bidang-bidang lainnya.

Dalam suatu acara seperti “Upgrading Anggota LEM”, tak ada satupun dari mereka yang dilibatkan.  Padahal, program itu sendiri bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahim sesama anggota LEM. Lalu, apa guna dilakukan hal itu bila tak semua anggotanya dilibatkan?. “Sebenarnya tak ada istilah diskriminasi  anggota, saya tak pernah membeda-bedakan anggota saya”. jelas Ahada Ramadhana, Ketua Umum LEM FTI periode 2013/2014 kepada PROFESI Ia juga menambahkan, bukan tidak diikutsertakan dalam  pembahasan “khusus”, karena sebenarnya tak ada pembahasan khusus yang ada hanyalah rapat fungsionaris LEM.

Lalu, kenapa HMJ tidak dilibatkan? Karena, menurut Ahada, itu adalah rapat fungsionaris internal LEM, dimana dia ingin benar-benar membahas tentang bidang-bidang khusus LEM dan ingin meningkatkan tali silaturahim diantara fungsionaris internal LEM. Jadi, bukan mengesampingkan HMJ, karena sebenarnya ada rapat tersendiri antara Ketua LEM dan HMJ. Untuk permasalahan Upgrading, memang itu kesalahan teknis sendiri dari LEM. Upgrading itu terbagi menjadi dua yaitu untuk internal fungsionaris LEM dan juga untuk  seluruh fungsionaris LEM, dimana HMJ dilibatkan. Hanya saja, yang terlaksana adalah Upgrading untuk fungsionaris internal LEM. Sedangkan, untuk seluruh fungsionaris LEM-nya tidak terlaksana dan merupakan kegiatan nonproker.

Baca Juga:  Bilikku yang Sederhana

Ketua asal Jurusan Teknik Kimia 2010 itu juga memaparkan bahwa HMJ merupakan organisasi divisional. Dimana, di dalam organisasi mempunyai organisasi lagi. Jadi, bukannya ingin mengesampingkan HMJ.  Tetapi, dalam istilahnya mereka juga mempunyai program kerja masing-masing. Ketua LEM berfungsi  sebagai kontroling. Sehingga, HMJ lebih bisa mengurus rumah tangganya sendiri, berbeda dengan bidang-bidang di LEM. Mereka berpatokan pada keputusan ketua sebagai pemimpin mereka.

Tak hanya berhenti disitu, masalah muncul kembali ketika menyangkut dengan program antara HMJ dan bidang-bidang LEM. Bila kita yang sebagai orang awam terkadang melihat bahwa program-program kerja HMJ dan LEM seolah berlomba-lomba untuk mendapatkan penghargaan sendiri di mata mahasiswa. Dimana, yang seharusnya saling berkoordinasi karena sesama anggota LEM dan diketuai oleh ketua yang sama, tetapi struktur mereka tidak dijalankan secara seksama.

Karena LEM merupakan lembaga eksekutor yang ranahnya fakultas, “kalau bisa programnya juga merupakan aspirasi dari 5 HMJ” ungkap Iqbal Qothrunnada yang sedang menjabat sebagai Ketua HMTK-TT periode 2013/2014 Meskipun, ada sebagian program dalam pelaksanaannya melibatkan 5 HMJ. Tetapi, yang dipermasalahkan adalah dalam pendiskusian programnya itu sendiri, HMJ ingin juga dilibatkan dan keinginannya bahwa program LEM diharapkan lebih bisa besar karena ranahnya fakultas. Ahada berpendapat bahwa dia tak pernah membatasi ruang lingkup program HMJ. Semuanya saya serahkan kembali karena saya tak mau mengekang aspirasi mereka “Dan program LEM dilaksanakan bukan untuk bersaing dengan HMJ-HMJ tetapi utnutk kebutuhan bersama”.jelasnya

Baca Juga:  PESTA yang Ber-dampak!

Singkat padat, tetapi mengandung makna yang cukup dalam dari penuturannya tersebut. Apapun bisa  disiratkan makna yang ada didalamnya. Tetapi, pada dasarnya permasalahan antara LEM dan HMJ terjadi mungkin karena kurangnya koordinasi antara kedua belah pihak sehingga timbul kesalahpahaman yang menumpuk hari demi hari yang membuatnya bersitegang.

Masalah demi masalah semakin besar dengan ditambahnya struktur pengurus di LEM. Dimana, HMJ tidak dicantumkan dalam strukturnya. Ketua LEM asal Pulau Borneo itu sebenarnya telah memerintahkan  anggotanya untuk mengganti struktur tersebut.

Struktur tersebut adalah struktur internal pengurus LEM. Sayangnya, judul strukturnya hingga kini belum ditambahkan kata internal. Sehingga, masih jelas tertulis Struktur Pengurus LEM Periode 2013-2014, “saya meminta maaf untuk hal itu” ucapnya Pada intinya adalah harapan semua pihak hanya mengerucut pada suatu titik, yaitu kerjasama. Sesama organisasi internal yang berkecimpung dan melaksanakan program-program untuk mengharumkan nama universitas. Alangkah lebih baiknya, apabila keduanya berjalan secara beriringan tanpa satu sama lain ingin saling melemahkan. (Gina NI, M.Ardi)

Bagikan: