Empat bulan terhitung awal penggarapan, Suwarti (47) tinggal di gubuk konstruksi proyek boulevard UII. Ini bukanlah kali pertama ia terjun ke dunia konstruksi, melainkan sejak usia 15 tahun. Suwarti merelakan masa remajanya terenggut oleh kemuliaan menafkahi kedua orang tuanya. Kini, setelah mereka tiada, derita itu tetap saja melekat dikesehariannya. Suwarti masih harus kesana-kemari menjadi buruh proyek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama gadis bungsunya yang berusia 18 tahun. Sementara, sang suami pergi meninggalkannya tiga tahun silam dengan hutang-hutang yang masih menumpuk, kini rumah Suwarti akan disita jika tak sanggup melunasi semua hutangnya.

Pukul 08.00, semua pekerja harus sudah berada di lokasi proyek, begitu juga Suwarti harus sudah menyiapkan segala keperluan konsumsi untuk makan siang bagi mereka. Tugas Suwarti sebenarnya hanya melayani konsumsi, namun tak jarang ia terjun ke lokasi untuk menggali lubang, memecah batu, dan mengangkut paving blockhingga waktu Zuhur tiba. Meski tiada upah tambahan, Suwarti mengikhlaskan apa yang telah ia kerjakan.

suwarti%2B1.jpg
Suwarti sedang menyiapkan konsumsi di gubuk konstruksi proyek pembangunan boulevard UII.(Profesi/Ummam)

Waktu menunjukkan pukul 13.00, Suwarti siap kembali ke lokasi untuk melanjutkan pekerjaannya. Lelah, penat, dan rasa ingin berontak, itulah gambaran dari perasaan Suwarti. “Kalau gak kerja, mau makan apa?” ungkap wanita berdarah jawa itu. Dengan kondisi kaki yang belum sempurna sembuh akibat tertabrak mobil, peristiwa dua tahun silam. Semua ini dilakukan dengan alasan buah hatinya dan menghilangkan stress karena lilitan hutang sang suami.

Itu, menyetel radio, nyanyi-nyanyi, stress hilang,” ungkap Suwarti dengan senyum bahagia menunjuk radio di pojok.

Tidak ada yang menginginkan diri menjadi buruh proyek, namun karena tuntutan hidup, mereka memaksakan diri untuk terjun ke dunia konstruksi. “Itulah namanya hidup, Mas,” tegas Evi Tri Sasono, Manajer Lapangan proyek pembangunan boulevard UII kepada LPM Profesi. “Mereka tidak seberuntung kita. Tinggal kuliah, tinggal makan, masih malas, “tambahnya.

Dalam dunia konstruksi, tiada beda porsi baik itu wanita maupun lelaki. Wanita juga tetap melakukan kerja berat, karena semua dianggap sama ketika berada di dunia kerja. Yang jelas, pekerjaan ini selesai pada waktu yang telah di jadwalkan.

Suwarti kerap kali mengalami kelelahan, pernah suatu saat ia terpleset di kamar mandi gubuk konstruksinya. Ketika itu tiada orang satupun di sana, karena pada malam hari hanyalah Suwarti seorang diri yang tinggal di gubuk itu.”Kecapekan, keseleo, manggil-manggil gak ada orang, ngesot-ngesot, basah,” tutur Suwarti dengan nada polos.

Bagaimana tidak, dari pukul 13.00 tak hanya selesai pada pukul 16.00. Usai Sholat Isya, Suwarti melanjutkan pekerjaan memindahkan paving block ke lokasi yang hendak digunakan esok hingga malam hari. Ia melakukan itu dengan sendiri, terkadang saat ditemani dengan rekan pekerja, mereka melakukan secara bersama “Gak pernah tidur siang, enak kerja keluar keringat,”ungkap wanita itu dengan tulus.

Prihatin dan kasihan, perasaan itu yang dirasakan Toko, rekan kerja yang juga dipercaya sebagai Asisten Mandor. “Kenal sejak kecil, kerja buruh kesana-kemari. Prihatin, sama-sama gak punya” jelas Toko jujur.

Jika ditanyai impian, jawabannya pasti sama dengan para ibu pada umumnya yaitu ingin membahagiakan buah hatinya. “Maunya menyenangkan anak, bayar bank (hutang .red),” harapnya. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya jatuh di lubang yang sama. Mereka ingin anaknya lebih bahagia ketimbang saat ini, saat bersama orang tua. Meski Suwarti single parent, ia tetap mengusahakan agar anaknya bahagia dengan mencarikan pekerjaan yang layak untuk gadis remajanya.

Terik tak mengurungkan niatnya untuk mengubah hidup, berbagai cara ia lakukan dengan melakukan sholat, Puasa Senin, dan Puasa Kamis. “Puasa Senin Kamis biasa, kuat, biasa” tuturnya.

Berat rasa untuk kembali ke rumah miliknya karena lilitan hutang. “Saya belum berani pulang” ungkapnya. Rumah kesayangannya sudah tiga tahun ditinggalkan tanpa ada perawatan. Ia tidak mengharapkan imbalan lebih, Tak cukup upah kerja borongannya itu jika dipikirkan, ia ikhlas menyerahkan semua yang terjadi hanya kepada Yang Maha Esa. (M. Khoirul Ummam)

Bagikan: