“Dididik oleh situasi sehingga saya jadi perempuan mandiri, saya harus berjuang agar anak-anak bisa makan makanan yang halal, mungkin sekarang serba susah, tetapi insya Allah ke depannya saya yakin lebih baik,” jelas Antini.

Antini (43) adalah seorang wanita paruh baya yang menjual jasa ketik manual di era teknologi yang sudah serba maju dan canggih. Menjadi penjual jasa ketik bukan baru saja dilakoninya, ia sudah menggeluti pekerjaannya sejak tahun 1991. Saat itu ia baru menuntaskan sekolahnya di bangku SMK –dulu disebut SMEA– yaitu di SMK NEGERI 1 Bantul.Sebelum punya jasa ketik manual sendiri, Antini bekerja selama satu tahun di penyedia jasa ketik orang lain. “Tahun 1992 saya pertama kali buka jasa di depan Auditorium RRI selama empat tahun lebih, setelah itu baru pindah di pertigaan Jalan Colombo,” tutur Antini sembari tersenyum. Karena pelanggannya tidak banyak lagi, wanita yang memiliki dua anak ini pindah ke depan Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta sambil kerja di kios buah sebelah jasa ketiknya demi mencukupi kebutuhan dua orang anaknya.

Baca Juga:  Bakti Sosial dari alumni FTI UII

Wanita yang tinggal di Dusun Ngincep, kelurahan Triwidadi, kecamatan Pajangan, Bantul ini membuka jasa ketiknya mulai pukul 09.00-18.00 dari Senin sampai Sabtu. Antini mengaku senang dengan pekerjaannya, “jujur saya senang dengan pekerjaan ini, karena bisa dapat uang, dapat teman dan pengetahuan baru,” kata Antini. Pada tahun 1997 teman-teman sesama tukang ketik banyak yang beralih profesi karena semakin hari seiring dengan kecanggihan teknologi komputer‎, membuat pendapatan mereka semakin menurun. “Ada yang buka laundry, kerja di pabrik, ada Pak Ali yang sekarang jualan degan, saya aja yang bandel,” ujar Antini sambil tertawa. Antini juga sering ditanyai teman-temannya karena masih bertahan dengan pekerjaannya ini.

Baca Juga:  Makam UII: yang Tersembunyi di Pojok Kampus

Kalau ramai Antini bisa mengantongi Rp 30.000-50.000 per hari. Untuk tarif pada jasa ketiknya dikenakan biaya rata-rata Rp3000-5000 per lembarnya. “Dulu, harga ketik 1 lembar Rp 700 rupiah, saat itu mahasiswa kan ngetik skripsi, transkrip nilai masih pakai mesin ketik‎,” ujarnya.

Pelanggan jasa ketiknya memang tak banyak lagi. Hanya ebberapa pelanggan saja yang masih menggunakan jasanya. Namun Antini tak mau patah semangat. “Dididik oleh situasi sehingga saya jadi perempuan mandiri, saya harus berjuang agar anak-anak bisa makan makanan yang halal, mungkin sekarang serba susah insya Allah untuk kedepannya saya yakin lebih baik,” pungkasnya.

Bagikan: