Dalam pidatonya, Harsoyo memaparkan kronologi akibat Diksar Mapala Unisi sekaligus alasannya mengundurkan diri dari jabatan Rektor Universitas Islam Indonesia.

Minggu (29/01/17). Pernyataan secara resmi pengunduran diri Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc disampaikan kepada seluruh civitas akademika UII di lapangan D3 Ekonomi UII. Salah satu pertimbangan pengunduran diri disebabkan oleh meninggalnya 3 peserta The Great Camping (TGC) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unisi yang ke XXXVII. TGC XXXVII merupakan pendidikan dasar bagi anggota baru Mapala Unisi. Kegiatan ini dilakukan di lereng selatan Gunung Lawu di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. TGC sudah berlangsung sejak tanggal 13 Januari dan berakhir pada tanggal 20 Januari 2017.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Harsoyo menceritakan kronologi setelah terjadinya korban meninggal peserta TGC. Korban pertama yang meninggal dunia adalah Muhammad Fadli mahasiswa UII Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri (FTI), asal Batam. Setelah terjadinya korban meninggal, Harsoyo dihubungi panitia TGC terkait adanya mahasiswanya yang meninggal. Harsoyo diminta untuk datang ke posko mapala yang berada di Jl. Cik Di Tiro No. 1 Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menunggu kedatangan jenazah. Sesampainya jenazah di posko mapala, pihak UII memberikan fasilitas untuk perawatan dan pemeliharaan jenazah yang kemudian akan diberangkatkan ke kediaman keluarga di Batam. Pemeliharaan dan perawataan jenazah ini dilakukan di Masjid Baitul Qohar Cik Di Tiro oleh yayasan perawatan jenazah Bunga Selasih. “Bunga selasih untuk penyelenggaraan pengiriman (jenazah), karena sudah punya pengalaman,” ujar Harsoyo di pidato pengunduran dirinya. Pengiriman jenazah dilakukan hari Sabtu, (21/01/17).

Meninggalnya satu korban TGC menurut pemahaman Rektor UII merupakan musibah biasa yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. “Kejadian itu bagi kami masih merupakan, pemahaman saya maksud saya. Ini merupakan musibah biasa, yang musibah itu dapat terjadi kapan saja, dimana saja,” terang Harsoyo. Akan tetapi, pada siang menjelang sore hari Sabtu (21/01/17) diberitahukan bahwa ada satu korban meninggal lagi. Korban meninggal kedua adalah Syait Asyam dari Jurusan Teknik Industri FTI asal Sleman. Kejadian ini membuat Harsoyo sangat terpukul. “Maka kejadian itu sudah membikin saya galau,” terang Harsoyo dengan wajah sendu. Setelah kejadian korban kedua ini, Rektor meminta dibentuk tim investigasi untuk mencari tahu penyebabnya serta untuk mengantisipasi tidak bertambahnya korban. “Kita membentuk Tim Pencari Fakta untuk mencari penyebab-penyebab yang sesungguhnya apa yang terjadi pada saudara kita,” kata Harsoyo.

Senin (23/01/17) sekitar pukul 00.00 (selasa) korban bertambah atas nama Ilham Nurfadmi Listia Adi Jurusan Ilmu Hukum International Program (IP), Fakultas Hukum asal Lombok. Abdul Jamil yang merupakan Wakil Rektor III bagian kemahasiswaan mengabarkan sekitar pukul 00.38 WIB via telepon kepada Harsoyo terkait adanya korban lain itu. Mendengar kabar tersebut Harsoyo mengucapkan istighfar. “Maka saya tidak mengatakan istirja’, tetapi yang saya ucapkan astaghfirullah, ini mungkin kesalahannya rektor yang tidak peka terhadap hal-hal yang mungkin hukuman dari Allah SWT,” jelas Harsoyo. Dia juga menjelaskan, “Kalau kita mengacu kepada Al-Qur’an, membunuh satu orang bagaikan membunuh manusia seluruhnya. Memberikan kehidupan seseorang seakan-akan menghidupi manusia seluruhnya. Satu itu sudah terlalu banyak apalagi tiga.”

Baca Juga:  Mengikuti Kuliah Perdana Tanpa Kursi

Selasa (24/01/17), orang tua Ilham Nurfadmi berangkat ke Jogja dari Lombok. Sesampainya orangtua Ilham di Jogja, mereka langsung melaporkan ke Polda DIY. Laporan tersebut lantas diarahkan untuk ke Polres Karanganyar karena Tempat Kejadian Perkara (TKP) berada di wilayah Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Setelah dari Polda DIY, keluarga tidak langsung ke Polres Karanganyar tetapi bertemu dengan pihak UII dan menyatakan tidak terima dengan meninggalnya Ilham. UII bersedia memfasilitasi apa yang diinginkan dari keluarga korban. “Kami menyediakan mobil dan sopir dan ditemani oleh Tim Pencari Fakta untuk mengantar ke Polres Karanganyar untuk melaporkan kejadian ini,” ujar Harsoyo.

UII memiliki komitmen untuk terbuka dan tidak ingin menutup-nutupi kejadian yang terjadi. “Ini adalah komitmen kita bahwa kita akan terbuka, bukan menutupi yang salah atau melindungi yang salah. Banyak media yang mengatakan UII menutup-nutupi, karena memang kejadiannya kita belum jelas,” tegas Harsoyo.

Setelah melaporkan ke Polres Karanganyar, harapan pihak UII jenazah akan langsung diberangkatkan ke Lombok. “Kami mempersiapkan kalau tidak ada otopsi bisa kita langsung kirim sore itu (jenazah), waktunya masih mungkin. Karena pemberangkatan ke Lombok itu yang direct flight itu sekitar jam enam sore,” jelas Harsoyo. Keinginan pihak UII untuk disegerakannya pemberangkatan jenazah pada hari itu supaya bisa  dilaksanakan perawatan dan pemeliharaan jenazah di kediaman keluarga.

Namun, pihak keluarga bersikeras untuk melakukan otopsi, sehingga hari itu dilakukan otopsi dari jam dua sampai jam enam sore. Jadwal keberangkatan penerbangan pada hari itu sudah tidak tersedia, akhirnya jenazah disemayamkan sementara di Yayasan Bunga Selasih sampai diberangkatakan ke Lombok. “Kami memfasilitasi untuk kepulangan jenazah ini, sehingga kami tanya ke penerbangan-penerbangan ada alternatif yang dari Jogja coba untuk meminta mencari peluang,” jelas Harsoyo. Penerbangan pagi yang ada menuju Lombok harus transit ke Jakarta dahulu, kemudian ke Bali, sore sampai di Lombok. Akhirnya kami mendapat informasi penerbangan jenazah bisa diberangkatkan pagi hari dari Solo. Rabu pagi (25/01/17) jenazah diberangkatan ke Lombok.

Kamis, (26/01/17) sekitar pukul 6 pagi Harsoyo menghubungi Lutfi Hasan yang merupakan Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf UII untuk menyatakan berhenti menjadi Rektor. “Pak aku leren wae (Pak saya berhenti saja), terlalu banyak tiga korban itu,” kata Harsoyo. Sesaat tidak ada komentar dan jawaban dari Lutfi. Akhirnya Lutfi menjawab dalam bahasa jawa, “Sing sabar lan tawakal (yang sabar dan tawakal)”. Harsoyo tidak bisa memaknai apa makna dari jawaban Lutfi, apakah menyetujui atau tidak (terkait permintaan Harsoyo untuk berhenti). Kondisi itulah yang menggerakan hati Harsoyo untuk merenung dan sholat memohon petunjuk kepada Allah SWT. Untuk mendapatkan jawaban yang terbaik dari kejadian ini. Setelah itu, Rektor membuat konsep pengunduran diri. “Saya tidak mengatakan mengundurkan diri, tetapi mengembalikan amanah, karena amanah ini menurut saya terlalu berat,” ujar Harsoyo.

Bagi Harsoyo, menyiapkan kelengkapan akreditasi yang memakan waktu dan tenaga tidak menjadi masalah dibandingkan meninggalnya 3 mahasiswa. Menurut Harsoyo, kejadian ini tidak seharusnya terjadi di universitas yang berlandaskan asas rahmatan lilalamin. “Ini pengorbanan yang sangat luar biasa yang satu hal tidak boleh terjadi di perguruan islam yang visinya adalah universitas islam yang rahmatan lilalamin. Yang punya komitmen pada kesempurnaan dalam pengembangan, pendidikan, pelajaran, pengabdian masyarakat, dan dakwah Islamiah. Sejajar dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi negara maju,” jelas Harsoyo. Rahmatan lilalamin sendiri artinya memberikan kasih sayang kepada seluruh alam termasuk makhluk-makhluk Allah lainnya.

Baca Juga:  Belum Sejahtera, Buruh Yogyakarta Merana

Akan tetapi, kejadian ini justru terjadi di UII, salah satu perbuatan yang seharusnya tidak terjadi. Itulah yang kemudian mendorong Harsoyo untuk mempersiapkan pengunduran diri. “Kemudian saya izin kepada Pak Lutfi sekitar  jam 6 pagi, Karena jam 6 pagi  saya mendapat sms kalau Menristekdikti akan datang. Tetapi saya sudah kirim ke Pak Lutfi sebelumnya.” Ujar Harsoyo. Harsoyo juga menjelaskan kepada civitas akademika UII jika keputusannya tidak ada tekanan dari Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti). “Jadi, bapak-bapak, ibu-ibu, para mahasiswa yang saya cintai, tidak ada tekanan yang luar biasa kepada saya dari Bapak Menteri untuk mengundurkan diri,” tegas Harsoyo.

Untuk kepentingan kebijaksanaan, Lutfi mengatakan, “Nek karo Menteri manut wae (kalau dengan Menteri nurut saja).” Akan tetapi, Harsoyo sudah mempersiapkan untuk itu, sehingga bukan sesuatu yang tiba-tiba. Kejadian meninggalnya tiga korban ini tidak pernah terjadi di perguruan-perguruan tinggi yang lain. “Ini suatu kejadian yang sangat luar biasa, tidak pernah ada kejadian ini di seluruh perguruan tinggi di Indonesia,” ujar Harsoyo. Alasan ini yang menguatkan Harsoyo untuk mengundurkan diri.

Ketika Harsoyo ditanya Menristekdikti terkait permasalahan ini, dia langsung menjawab siap mengundurkan diri. “Ketika saya mengatakan itu beliau menyambut baik,” ujar Harsoyo. Harsoyo juga memaparkan bahwa berita terkait tiga pilihan yang diajukan oleh menteri itu tidak benar adanya. Siang harinya, Menteri mengundang Ketua Yayasan Badan Wakaf UII dan Kopertis V DIY untuk dimintai keterangan.

Harsoyo juga menceritakan alasan lain kenapa dirinya mengundurkan diri. Ada beberapa contoh perguruan tinggi yang mengalami masalah serupa dengan UII yang kemudian diberhentikan proses penerimaan mahasiswanya selama dua tahun. Hal ini lah yang ingin dihindari. Jika proses penerimaan mahasiswa dihentikan di UII yang notabene perguruan tinggi swasta, pasti akan menimbulkan masalah yang besar. Karena sebagian besar pembiayaan akademik menggunakan uang mahasiswa. Adapun pembiayaan di luar SPP mahasiswa yang ditopang badan wakaf digunakan untuk pembangunan infrastruktur, jadi tidak bisa digunakan untuk membiayai akademik.

Harsoyo menyatakan kalau alasan turunnya bukan karena ingin meninggalkan tanggung jawab. “Saya turun bukan karena ingin meninggalkan tanggung jawab, tetapi bentuk tanggung jawab akan tetap saya lakukan,” jelas Harsoyo. UII sudah mendapatkan panggilan dari Polres Karangannyar untuk mengantar 16 mahasiswa Mapala untuk diperiksa sebagai saksi pada besok Selasa (31/01/17) jam 9 di Karanganyar. “Saya sendiri yang akan mengantar mereka,” jelas Harsoyo. Inilah bentuk tanggung jawab dia. “Bentuk tanggung jawab saya bahwa saya tidak meninggalkan gelanggang perang yang dosanya sangat besar itu (jika meninggalkan gelanggang perang),” ujar Harsoyo.

Harsoyo menyadari keputusan yang diambil secara tiba-tiba ini mengejutkan semua pihak. Dia mengapresiasi semua upaya yang telah dilakukan oleh civitas akademika UII untuk memintanya mengurungkan niat mengundurkan diri. Seperti dengan adanya #SaveRektorUII dan #SaveWRIII.

Baca Juga:  Dilema Relokasi Proyek Bandara NYIA

Selanjutnya, pada pidatonya ia juga menyampaikan bahwa pada Jumat (27/01/17), Harsoyo mendapat kabar dari temannya dari Fakultas Hukum (FH) yang kebetulan kenal dengan salah satu Komisioner Komnas HAM. Bahwa dengan kejadian ini maka Ombudsman akan menyelidiki apa yang terjadi. Nantinya, setelah Ombudsman membikin laporan penyelidikan, Komnas HAM akan turun kemudian me-review ada tidaknya pelanggaran HAM. Kalau ternyata ada indikasi pelanggaran HAM, maka Komnas HAM akan membentuk tim investigasi. Akan tetapi, dengan adanya pernyataan pengunduran diri Harsoyo, dikabarkan Komnas HAM tidak jadi menurunkan tim investigasi. “Namun, dengan kabar yang saya lakukan dengan mengundurkan diri kata temenku tadi, insyaAllah tim investigasi dari Komnas HAM tidak turun,” papar Harsoyo. Alasan ini pula lah yang menjadi pertimbangan Harsoyo untuk mengunduran diri.

Harsoyo tidak menginginkan hal buruk menimpa UII kembali dan lebih baik menatap kejayaan UII ke depannya. “Kita lebih baik memikirkan UII, demi UII yang lebih baik. Siapa lagi yang akan memajukan UII kalau bukan kita,” terangnya. Semua alasan pengunduran dirinya sudah dijelaskan kepada Dekan setiap fakultas. Harapannya, jika ada pihak civitas akademika yang masih ingin tahu bisa ditanyakan langsung kepada mereka.

Rektor juga mengimbau agar mahasiswa atau lembaga UII tidak membuat pernyataan petisi yang mendukungnya, yang ditakutkan akan menimbulkan stigma negatif di masyarakat. “Kemudian saya mohon dengan amat lagi sangat untuk tidak memberikan pernyataan petisi atau apapun untuk membela saya tetap menjadi rektor, karena nanti takut ada orang yang tidak suka dengan UII menganggap rektornya culas. Di depan menteri menyatakan pengunduran diri, di belakang menteri menggalang kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan,” terang Harsoyo.

Selanjutnya, seluruh masalah yang ada di civitas akademika UII dimohon diselesaikan secara Islami dengan musyawarah mufakat. Kita hindari terjadinya kegaduhan lagi di UII yang bisa dijadikan sasaran tembak pemberitaan. Harsoyo secara pribadi tidak keberatan dijadikan sasaran tembak, tetapi secara institusi menolak kalau UII dijadikan sasaran tembak. Harsoyo juga memohon untuk dihentikan penggalangan massa untuk mendukungnya, supaya proses administrasi penyelesaian masalah ini lebih mudah. “Saya harap kepada dosen, dekan, dan civitas akademi untuk mendukung Tim Pencari Fakta. Dan semoga kepolisian bisa mengusut masalah ini secara tuntas. Sehingga kita tidak terus terbebani masalah ini dan bisa diselesaikan secepat-cepatnya,” jelas Harsoyo.

Harsoyo berharap agar proses penyelesaian masalah dilakukan secara cepat, sehingga dapat mengejar ketertinggalan pekerjaan-pekerjaan yang terganggu oleh kejadian ini. Harsoyo juga berkata, “Tidak perlu takut untuk kesulitan mencari rektor. UII sudah mempunyai profesor 14 dan doktor 157, sehingga untuk mencari rektor yang lebih baik dari saya banyak.“ Harsoyo juga memohon untuk mahasiswa dan lembaga mahasiswa bekerja sama menyelesaikan masalah ini. Harsoyo juga masih mempunyai tanggung jawab moral untuk menyelesaiakan masalah yang ada pada masa ia menjabat. Wakil Rektor I dan Wakil Rektor II tidak ikut mengundurkan diri agar tidak terjadi kevakuman di UII agar bisa menyelesaikan semua yang harus diselesaikan. “Mohon maaf sebesar-besarnya tidak bisa menjaga nama baik UII,” pungkas Harsoyo.

Bagikan: