Era teknologi memang semakin berkembang dengan pesatnya, dengan begitu semakin banyak pula orang yang haus akan teknologi juga ikut berkembang. Seiring perkembangan terknologi tersebut, tentu membutuhkan energi yang bisa digunakan dalam beraktivitas sehari hari. Energi konvensional didapatkan dari energi fosil yaitu minyak bumi dan batu bara. Dengan energi konfensional pula banyak menyumbangsih efek rumah kaca. Sehingga muncul beberapa alternatif dalam era teknologi ini dengan pembangunan sel surya.  Pembangunan sel surya merupakan salah satu pembangkit listrik yang menggunkan matahari sebagai asal energinya.

Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) sedang melaksanakan proyek pembangunan sel surya guna menambah daya dari kebutuhan listrik yang ada di FTI UII. Imam Djati Widodo selaku Dekan FTI UII, menjelaskan bahwa motivasi dari pembangunan ini ialah melihat situasi saat ini, yang mana harga energi semakin mahal. Tak hanya itu, hal ini juga bisa membuka wawasan mengenai energi alternatif.

Proyek pembangunan sel surya bertujuan untuk mendapatkan suplai energi tambahan yang bisa digunakan untuk meminimalkan kekurangan daya di FTI. Proyek ini akan diuji coba pada salah satu ruangan FTI yang di dalamnya terdapat AC, yang nantinya AC tersebut disambungkan dengan sel surya.

Baca Juga:  Beasiswa PPA untuk Mahasiswa

Namun, sel surya kemungkinan hanya bisa menghidupkan beberapa kelas, karena untuk menghidupkan seluruh AC di FTI sendiri sangat tidak memungkinkan, mengingat daya yang dihasilkan tidak sebanding dengan kebutuhan daya seluruh AC. Jika terdapat sisa energi nantinya akan digunakan untuk menghidupi semua LCD (Liquid Crystal Display) Proyektor di FTI, agar tetap menyala walaupun terjadi pemadaman listrik.

Di sisi lain, Setyawan Wahyu Pratomo, dosen Teknik Elektro yang juga Ketua Tim Proyek Pembangunan Sel Surya di FTI UII menyampaikan bahwa tujuan dari pembangunan sel surya ialah untuk proyek riset pemanfaatan energi terbarukan untuk gedung FTI. Dosen yang biasa disapa Wawan tersebut menjelaskan bahwa dengan pembangunan proyek riset tersebut diharapkan akan menginisiasi timbulnya gagasan untuk memanfaatkan energi terbarukan didalam pemenuhan daya listrik bangunan, khususnya di lingkungan Universitas Islam Indonesia. Harapannya FTI mampu menjadi contoh bagi fakultas lain untuk bisa mengimplementasikan teknologi yang sama  di bangunan mereka.

Rencananya sel surya akan dipasang di tempat-tempat yang mendapatkan sinar matahari paling optimal, yaitu di atas genteng arah utara gedung FTI UII yang melebar sekitar 23 meter. Kapasitas dari sel surya yang akan dibangun di FTI ialah sebesar 10.000 watt yang terdiri dari empat puluh dua panel yang berukuran 0,9 x 1 meter dan setiap satu panel mengasilkan daya 260 watt. “Rancangan awal yang buat adalah saya beserta tim dosen Power Elektro FTI untuk merancang itu semua, baru setelah melalui proses kalkulasi yang tepat baru dipresentasikan ke hadapan Pak Dekan dan Bu Wadek (wakil dekan),” tutur Wawan. Proyek ini dilelang oleh FTI UII dan CV.Global Technindo sebagai kontraktor pelasana proyek.

Baca Juga:  Prahara Key-in Manual

Total anggaran dana yang dikeluarkan FTI UII untuk proyek ini ialah Rp522 juta. Uang tersebut dikeluarkan FTI UII sendiri dan tidak berasal dari Badan Wakaf, dikarenakan proyek tersebut ialah program FTI yang telah direncanakan dari dulu. “Kalau ini dari FTI memang ada programnya,  dulu dari awal kita mengadakan uang untuk itu,” tegas Imam.

Dari peralatan sel surya sendiri baterailah yang memiliki harga paling mahal melebihi panel suryanya. Sebelumnya, pihak FTI sempat mengalami beberapa kendala dalam pembangunan proyek sel surya, salah satunya material yang belum lengkap dikarenakan barang tersebut harus impor sehingga memakan waktu yang cukup lama. “Kemarin terkendala ada satu material karena itu impor agak lama gitu tapi yang beberapa sudah disiapkan sebentar lagi mau dipasang,” jelas Imam. Imam juga menuturkan bahwa pemasangan panel surya tersebut akan dilaksanakan pada bulan Desember hingga awal tahun baru 2017. Harapannya di awal tahun  sudah bisa dicoba.

Baca Juga:  Ajang Merancang Masa Depan Di Negeri Seberang

Wawan menerangkan, dari segi AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) pengimplementasian sel surya itu berdampak signifikan pada pengurangan karbon karena ordenya 10.000 W cukup besar kalau diekuivalenkan dengan mesin generator konvensional yang berbahan bakar BBM. Dengan kapasitas yang sama 10.000 Watt maka mengurangi reduksi dari karbon yang dihasilkan.

Dengan adanya sel surya, khususnya Teknik Elektro diharapkan dapat memiliki riset yang lebih dari yang lain dalam pemanfaatannya. “Jadi ini tidak sekedar untuk menyelesaikan masalah tapi juga menjadi proyek awal untuk pengembangan kedepan,” imbuh Imam.

Bagikan: