Tulisan ini adalah janjiku kepada seseorang yang akan kuperkenalkan kepadamu nanti.

            Aku adalah salah satu anggota Lembaga Pers Mahasiswa PROFESI Fakultas Teknologi Industri – Universitas Islam Indonesia (LPM PROFESI FTI UII). Pada Sabtu (4/06/2016) tahun yang lalu, bersama Pemimpin Redaksi LPM PROFESI aku mendampingi tiga anggota magang yang sedang belajar mengenai teknik reportase di Desa Banyusumurup, Imogiri. Karena saat itu aku sedang menjadi mentor magang, aku tidak mencatat jawaban dari narasumber yang sedang diwawancari oleh anggota magang. Apalagi niatan untuk menulis, tidak ada sama sekali. Jadi, yang akan kuceritakan ini hanyalah dari ingatanku. Fully made in brain.

Kala itu kami memang merencakan untuk datang ke Desa Banyusumurup, karena kami tahu bahwa di sana adalah desa sentra pembuatan keris. Desa yang terkenal dengan Empu Jiwo, seorang Empu (ahli membuat keris) yang sangat kondang hingga pernah mendapat penghargaan dari mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Awalnya, niatan kami hanyalah belajar mengenai bagaimana melakukan wawancara yang baik. Selain menambah pengalaman di lapangan, pemilihan tempat di Desa Banyusumurup adalah karena kami ingin memperkenalkan anggota magang yang beberapa diantaranya berasal dari luar Jawa agar dapat srawung (bergaul) dengan penduduk asli Yogyakarta.

Beberapa hari sebelum melakukan kunjungan ke desa yang terletak tidak jauh dari makam raja-raja mataram itu, Pemimpin Redaksi kami telah terlebih dahulu meminta izin secara formal kepada Ketua RT dan Carik setempat. Alhamdulillah keduanya sangat terbuka dan menyambut kami dengan baik.

Sekitar jam 9.30, kami berlima (aku, Pemimpin Redaksi, dan tiga anggota magang) berangkat menuju Desa Banyusumurup. Perjalanan dari kampus menuju desa itu memakan waktu sekitar satu setengah jam. Tempat awal yang kami kunjungi adalah kediaman Pak Darto, salah seorang ketua RT di desa itu. Kepadanya lah aku berhutang janji. Janji itu adalah tulisan ini. Tulisan yang berisikan cita-cita warga untuk dapat menjadikan Desa Banyusumurup sebagai desa wisata. Pak Darto sangat berharap bahwa melalui kami yang seorang jurnalis, keinginan warga bisa diketahui banyak pihak.

Sedikit membahas tulisan ini. Sebenarnya tidak sepenuhnya berisi isu terkait akan dijadikannya Desa Banyusumurup sebagai desa wisata. Aku mencoba memberi tahu yang hanya sedikit ini, bahsawanya di Imogiri “ada” sebuah desa yang menjadi sentra kerajinan keris sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Sebagai orang Indonesia dan orang Jawa khususnya, kapan terakhir kita mengingat keris? Melihat proses pembuatan, mengetahui filosofi atau bahkan di antara kita ada yang belum pernah memegang keris? Bantulah aku, untuk memperkenalkan secara lebih luas Desa Banyusumurup sebagai desa “pembuat keris”. Dengan itu kita bisa meningkatkan kesejahteraan pengrajin keris dan juga melestarikan salah satu kebudayaan tertua yang dimiliki Indonesia. Katakanlah kepada beberapa teman, sahabat, dan semua yang kamu kenal tentang Desa Banyusumurup. Getok tular, dari mulut ke mulut, percayalah bahwa dari sedikit yang kita lakukan tidak menutup kemungkinan membawa dampak yang begitu besar : butterfly effect. Berikut aku coba ceritakan yang aku ingat tentang Banyusumurup. Harapanku dari tulisan ini, setidaknya kita bisa sedikit menyediakan ruang di ingatan untuk Desa Banyusumurup.

Baca Juga:  Dilema Relokasi Proyek Bandara NYIA

Sesuatu yang hangat memanglah sangat membahagiakan, begitu pula sambutan yang diberikan oleh Pak Darto dan keluarga kepada kami. Begitu kami datang dan dipersilakan duduk, Pak Darto langsung menelepon seseorang. Kami ketahui yang sedang Pak Darto hubungi adalah Pak Ladin, Ketua Koperasi (aku lupa nama koperasinya – maaf) yang mewadahi para pengrajin keris di Desa Banyusumurup. Ternyata, Pak Darto meminta kepada Pak Ladin untuk datang dan mendampingi kami mengelilingi desa dan melihat proses pembuatan keris.

Sebelum Pak Ladin datang di rumah Pak Darto, terlebih dahulu datanglah teh hangat dan emping (kalau tidak salah memberi nama) yang diantarkan oleh istri Pak Darto. Sangat tidak kusangka awalnya. Kami seorang mahasiswa yang bakal merepotkan Pak Darto  dan Pak Ladin disambut dengan begitu akrab. Aku hanya pernah mencoba membayangkan kehangatan seperti ini melalui cerita di buku atau di salah satu program televisi “Jejak Petualang” ketika sedang disambut oleh penduduk di desa yang mereka kunjungi. Betapa aku merasakan sifat orang Jawa yang sesungguhnya.

Beberapa saat kemudian Pak Ladin datang, dengan sebatang rokok yang menyala, tinggal separuhnya. Menyalami kami satu persatu. Mengobrol santai beberapa menit dan dengan ramahnya kami diantarkan ke salah satu pengrajin yang bekerja membuat sarung keris. Karena Pak Darto baru saja mempunyai hajatan 1000 hari meninggalnya almarhum Ibundanya, maka dari itu beliau tidak bisa mengantar kami mengelilingi desa.

Pada tulisan ini aku tidak akan menceritakan tentang bagaimana proes pembuatan keris di sana, karena tujuanku adalah menggambarkan suasana dan sambutan dari warga Desa Banyusumurup.

Baca Juga:  Kebijakan Baru PKM 2018

Lanjut. Masing masing pengrajin di Desa Banyusumurup memiliki keahlian tersendiri. Ada yang ahli mengukir, membuat sarung, gagang, dan bagian keris lainnya. Jadi, kalau ingin membuat satu keris yang utuh, maka harus mengambil bagian-bagian itu dari masing – masing pengrajin dan merangkainya. Kala itu aku berjalan ke beberapa rumah. Begitu hangat sambutan dari para pengrajin keris di desa yang sangat asri itu. Kami hanya datang, memberi salam dan memperkenalkan diri, lalu berkata bahwa kami ingin tahu tentang keris. Dengan ramah mereka mengeluarkan keris hasil karya sendiri kepada kami, lalu menceritakan mengenai bagaimana cara membuatnya dan nilai-nilai filosofis dari keris yang mereka buat.

Kami juga mengunjungi pendopo milik Empu Jiwo. Meski sudah meninggal, tetapi keris – keris milik Empu Jiwo masih terawat dengan baik. Beruntung kami sempat bertemu putra dari Empu Jiwo. Beliau berbagi mengenai nilai – nilai keris dan lain sebagainya. Aku tidak begitu memperhatikan wawancara anggota magang dengan putra Empu Jiwo. Sibuk mengagumi keris yang luar biasa nilai sejarahnya. Yang membuat aku kagum adalah sebuah keris yang tingginya sama denganku. Kata Pak Ladin yang sedari tadi mendampingi kami, keris itu dibuat selama beberapa bulan. “Luar biasa” batinku berkata.

Setelah selesai berkeliling desa, kami kembali ke rumah Pak Darto. Aku lihat di atas meja ada teko yang sebelum kami pergi tadi sepertinya tidak ada. Seperti tahu keherananku, Pak Darto menerangkan, “ini di jok” katanya. Yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih, “ini ditambahi”. Maksudnya jika teh dalam gelasku sudah habis diminum, maka tuang lagi dari teko ini.

Sebelum kami mengatakan niat untuk pulang, Pak Darto menceritakan lagi sesuatu yang dimiliki Desa Banyusumurup. “Makam Pangeran Pekik”. Yang aku tahu, Pangeran Pekik adalah salah satu pangeran dari Keraton Yogyakarta. Selebihnya aku belum sempat mencari tahu. Pak Darto memberikan penawaran yang tidak bisa kami tolak dan sangat kami harapkan  : “Ayo ke sana, tak anter,” itu tawaran Pak Darto.

Dengan menggunakan sepeda motor kami berkendara sekitar satu kilometer. Di tengah perjalanan, Pak Darto yang memimpin rombongan kami tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah masjid. Ternyata beliau memperkenalkan kami sebuah masjid yang sudah sangat tua, peninggalan keraton. Begitu banyak peninggalan sejarah dan kebudayaan yang dimiliki Desa Banyusumurup. Melanjutkan perjalanan, akhirnya kami tiba di sebuah kompleks pemakaman kuno yang dikelilingi perbukitan.

Baca Juga:  Tak Penuhi Aspek, LPJ LEM FTI Ditolak

“Lepas alas kaki”, itu yang Pak Darto minta kepada kami sebelum memasuki pelataran makam Pangeran Pekik. Kedatangan kami membuat dua orang juru kunci yang sedang menyapu makam menghentikan aktivitasnya dan menyambut kami. Mereka sudah sangat tua, berbusana adat jawa, berjarik dan mengenakan blangkon. Dugaanku sudah sangat lama mereka berdua telah menjadi juru kunci. Makam itu terlihat begitu sepi, tidak angker, namun asri dan tenang. Memang tidak banyak pengunjung yang terlihat disana. Hanya ada satu mobil yang terpakir. Kira kira lima orang saja.

Begitu asri, sejuk, dan sepi. Seperti di dalam studio bioskop yang telah tutup. Tidak ada suara apapun selain nyanyian alam. Burung yang bersiul, dayu-dayu pepohonan yang menari tertiup angin, gemircik air dari sungai yang mengalir lembut. Seakan memberi kesejukan nan indah, kepada para penghuni makam yang sudah lama meninggal. Barisan perbukitan yang melingkari area makam, seperti tembok kokoh penjaga. Begitu tenang dan diam, tak berkata. Saksi bisu, saksi sejarah.

Kami diantar berjalan menuju sebuah batu nisan besar, melewati beberapa batu nisan kecil yang berderet rapi. Batu nisan besar yang sedang kami tuju adalah makam Pangeran Pekik. Tertutup kain kafan beberapa lapis. Di sampingnya juga ada batu nisan serupa yang kata juru kunci adalah makam guru besar Pangeran. Sebelum mengirim doa, juru kunci itu menanyakan nama kami satu persatu. Lalu duduk bersila di hadapan batu nisan, juru kunci menceritakan sedikit sejarah Pangeran Pekik. Namun sayang, suara juru kunci itu begitu pelan sehingga aku tidak dapat mendengar dengan jelas. Terlihat beberapa kali juru kunci memberikan salam atau penghormatan ke batu nisan itu. Aku tidak tahu pasti.

Selesai memberi doa, kami berpamitan kepada juru kunci dan keluar dari kompleks makam. Pak Darto menunjuk sebuah lahan dan menceritakan bahwa lahan itu bisa dibangun untuk dijadikan fasilitas wisata. Beliau menceritakan potensi wisata besar yang dimiliki desa yang beliau tinggali itu. Begitulah suasana Desa Banyusumurup. Semoga cita-cita warga untuk menjadikan Desa Banyusumurup sebagai desa wisata bisa tercapai. (Dicky Puja Pratama)

 

Bagikan: