Minggu (16/04/17),terlihat beberapa orang sedang memainkan drone di Parkiran FTI yang berlokasi di seberang Kantin Mawar. Mereka adalah Komunitas Jana FPV Team (JFT) yaitu komunitas bagi pecinta drone racing. Selama ini masyarakat banyak mengetahui drone hanya untuk aerial, yaitu untuk mengambil foto atau video dari ketinggian. Drone racing sendiri adalah salah satu cabang dari pemanfaatan drone untuk balapan. “Nah kalau disini ada sendiri cabangnya dia drone untuk balap. Jadi balap seperti ya layaknya balapan,” ungkap Sotat salah satu anggota JFT yang kebetulan alumni mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII).

Balapan Drone ini layaknya balapan permainan remote control (RC) pada umumnya. Drone yang paling pertama memasuki garis finish yang menjadi pemenang. Selain berlomba memasuki garis finish, drone racing juga mengharuskan pengemudi melewati beberapa obstacle (rintangan) yang telah dirancang. Racer (sebutan bagi pengemudi drone) yang tidak berhasil melewati rintangan akan mendapatkan pengurangan nilai. Ada beberapa macam rintangan yang biasa digunakan di perlombaan drone racing. Rintangan buatan yaitu airgate (rintangan yang berbentuk lingkaran). Namun, di area ini ada juga obstacle alami berupa pohon. Hal ini disampaikan oleh Egi, yang juga sedang berada di tempat untuk mengikuti aktivitas drone racing.  “Pohon kan termasuk obstacle, tapi obstacle alami,” tutur mahasiswa UGM tersebut.

Baca Juga:  Upaya Menuju Kampus Hijau

Banyaknya pohon di parkiran menjadikan area tersebut cocok untuk dijadikan tempat balapan. “Saya main-main disini (FTI), (lalu) lihat kok tempatnya bagus, banyak pohon, banyak obstacle nya,” jelas Sotat. Pemilihan parkiran di seberang Kantin Mawar ini juga disebabkan dipakainya Lapangan Janabadra untuk turnamen bola. Komunitas  JFT biasa melakukan latihan di Lapangan Janabadra. “Kalau di Jogja sini biasanya kami mainnya di Lapangan Janabadra, cuman sekarang Lapangan Janabadarnya lagi dipakai turnamen bola. Jadi, pada mencar cari tempat, ya istilahnya buat main lah,” terang Sotat.

Lebih jauh mengenai komunitas Jana FPV Team (JFT), Jana sendiri diambil berdasarkan tempat mereka berlatih yaitu di Lapangan Janabadra. Kemudian, FPV merupakan singkatan dari  First Person View. Menurut Tjiang Herry, FPV diterangkan sebagai seakan-akan pandangan dari pilot. Merupakan fitur yang memperlihatkan kita sebagai pilot, melihat secara langsung atau dari sudut pandang orang pertama.

Baca Juga:  Ajang Merancang Masa Depan Di Negeri Seberang

JFT sendiri biasa melakukan latihan setiap Hari Sabtu, Minggu, dan Kamis. Namun, untuk beberapa saat ini mereka jarang melakukan latihan karena lapangan Janabadra masih digunakan untuk turnamen sepak bola. Komunitas ini juga terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung. “Ya kalau pada suka boleh gabung di JFT, ngehubungin saya juga bisa,” jelas Sotat.

Komunitas drone racing sendiri sudah tersebar di beberapa daerah. Tidak hanya di Jogja, komunitas ini juga ada di Jakarta, Semarang, Bandung, Makasar, dan banyak daerah lainnya. Perlombaan drone racing  juga mulai banyak diadakan di Indonesia. “Kemarin terakhir di Jakarta, KASAU Cup,” jelas Sotat. Selain itu, wacana untuk memasukkan drone racing menjadi salah satu cabang olahraga di Pekan Olahraga Nasional (PON) juga sedang dilakukan.

Baca Juga:  Sterilisasi Jalan untuk Kelancaran Acara

Menurut Sotat, peminat drone racing ini sebenarnya lumayan banyak, akan tetapi karena mahalnya harga peralatan dan sulitnya mengendalikan drone menjadi kendala bagi sebagian masyarakat. Harga satu drone sendiri berkisar 3-5 juta rupiah tergantung spesifikasi. Untuk memainkan drone racing juga dibutuhkan googles, semacam kacamata yang bisa menampilkan gambar virtual reality. Googles ini dijual sekitar 1-5 juta rupiah. Kemudian, ada juga remote control untuk mengendalikan drone yang dijual dengan harga sekitar 1-3,5 juta rupiah. Namun, bagi pecinta drone racing, mahalnya harga peralatan tidak menjadi penghalang.

Bagikan: