Gondrongers UII bukan komunitas yang negatif

Pemuda yang berambut gondrong khususnya laki-laki dengan celana robek dan berkaos oblong sering kali identik dengan kejahatan, kumuh, cenderung apatis, dan sikap moralitas yang tidak pantas. Pencitraan atau kesan negatif terhadap rambut gondrong dan secara terus menerus citra yang demikian itu terjadi. Hingga akhirnya hadir dalam ingatan orang-orang bahwa rambut gondrong telah identik dengan perbuatan-perbuatan yang erat kaitannya dengan tindak kriminal dan mengganggu ketenteraman umum. Tidak ada pembuktian secara ilmiah, eratnya kaitan antara rambut gondrong dengan tingkat pengetahuan ataupun moralitas dan kepribadian seseorang. Ali, salah satu Gondrongers UII mengatakan bahwa pilihan untuk berambut gondrong adalah hak asasi bagi setiap individu dan tak seorang pun berhak melarangnya selama pilihan tersebut tidak mengganggu kenteraman dan tidak mengganggu aktivitas akademik.

Baca Juga:  Tolak UU MD3, Mahasiswa Demo di Depan Kantor DRPD DIY

Minggu (9/4/2017)  pukul 09.30 WIB di gerbang utama Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia adalah waktu dan tempat dimana Gathering pertama Gondrongers UII diadakan. Tidak hanya sebagai ajang berkumpul dan bersilaturahmi, tetapi kesempatan ini sekaligus membahas tentang Gondrongers dan rencana Gondrongers ke depannya. Selain itu, komunitas pria-pria berambut gondorng tersebut  juga melakukan take video dan photo session sebagai dokumentasi mereka dan untuk memperkenalkan Gondrongers UII kepada masyarakat khususnya di ruang lingkup UII. “Visi dari komunitas Gondrongers ini adalah mengubah mindset orang tentang gondrongs dan mewadahi aspirasi gondrongers. Kemudian, misinya adalah membangun solidaritas sesama gondrongers dan menyalurkan bakat, minat dan karyanya,” ujar Ikhsan yang merupakan salah satu Gondrongers UII. Gathering ini memiliki tujuan untuk menampung aspirasi agar Gondrongers UII makin baik dan  membahas agar mindset orang umum tentang orang gondrong yang identik tentang kriminal dan tidak memiliki moral dapat berubah. Seperti, dengan cara akan membuat kegiatan positif seperti bakti sosial, memberi sedekah makan untuk orang di pinggir jalan, atau kegiatan sosial lainnya.

Bagikan: