Sidang umum merupakan forum tertinggi mahasiswa yang tidak hanya diikuti oleh anggota eksekutif maupun fungsionaris dari lembaga dan himpunan, tetapi semua mahasiswa tanpa terkecuali berhak menghadiri sidang ini. Dengan harapan agar peraturan dan kebijakan Universitas Islam Indonesia (UII) yang sudah dibuat dapat diketahui oleh seluruh mahasiswa UII. Diharapkan pula partisipan sidang dapat menyumbangkan suara berupa kritik dan saran untuk kampus hijau ini menjadi lebih baik.

Tapi pada realitanya, antusias mahasiswa untuk berpartisipasi dalam sidang sangat sedikit. Jangankan mahasiswa, fungsionaris dari lembaga dan himpunan yang menjadi ujung tombak dan wadah aspirasi untuk mahasiswa saja antusiasnya kurang tampak. Kalau lembaga dan himpunan dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) khususnya fungsionaris saja tidak menghadiri sidang, bagaimana kabar mahasiswa biasa yang tidak terikat pada tanggungjawab di Lembaga dan himpunan? Terbiasa hidup tanpa harus meluangkan waktu berfikir dan berpartisipasi pada kegiatan kampus jelas membuat mereka tak merasa memiliki andil pada sidang ini.

Baca Juga:  Mempertanyakan Sikap terhadap Kedatangan Ganjar Pranowo

Mungkin nilai jual dari sidang umum memang tidak ada, dan hal ini mencerminkan bahwa sifat apatisme yang sudah menjadi kebudayaan bagi oknum mahasiswa sudah sampai pada tahap yang memprihatinkan. Ironis sekali jika fungsionaris lembaga dan himpunan FTI saja masih kurang partisipasinya untuk mengikuti sidang umum ini atau yang sering disingkat SU, bukan SU anak hewan kaki empat itu ya!

Seperti kita ketahui dan rasakan, yang namanya mahasiswa tentu tidak luput dari tugas kuliah, karya tulis, penelitian, bahkan rapat organisasi. Namun tidak seharusnya kita acuh tak acuh dan berpangku tangan dalam tugas non akademik ini. Kurangnya kesadaran akan pentingnya SU dan sifat mahasiswa yang “mood-mood an” untuk berpartisipasi menjadi faktor utama sepinya SU. Sudah ada treatment dari panitia maupun peserta (Dewan Perwakilan Mahasiswa) akan tetapi kenyataan mengenai sepinya sidang masih saja mengecewakan.

Baca Juga:  Suratmu Hambat Ujianku

Kuorum untuk dapat dimulainya sidang umum sering tak terpenuhi dan sidang acap kali tertunda dan dipending sampai waktu yang tidak ditentukan, terkadang sidang dilanjutkan dengan partisipan yang tak memenuhi kuorum dengan pertimbangan sudah terlalu sering dilakukan penundaan. Alhasil isi sidang hanya diketahui dan dipahami oleh peserta sidang saja.

Harapan untuk sidang umum kedepan yaitu  antusias yang tinggi oleh mahasiswa sendiri. Tidak hanya dari fungsionaris lembaga maupun himpunan saja, tetapi mahasiswa yang tidak berlembaga pun dapat ikut serta dalam sidang umum ini. Walaupun mereka tidak bersuara tidak masalah, setidaknya mereka tidak apatis dan tau peraturan-peraturan yang ada di UII khususnya di FTI.

Bima selaku peserta sidang anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Tahmid selaku presidium satu sangat mengharapkan sekali partisipasi dan andil mahasiswa terhadap sidang umum ke XXXVIII, khususnya mahasiswa FTI. “SU ini enggak perlu ada orang yang pintar ngomong. Percuma saja kalau dia pintar berdialektika dan pintar ngomong tapi eksekusinya enggak ada. Sama aja nol kosong. Diharapkan SU ini memiliki 2 sisi yaitu tidak hanya paham secara materi tetapi juga mengerti dalam implementasinya,” begitu ujar Tahmid selaku presidium satu ini. “Nilai jual SU ini memang tidak ada, tetapi SU dijalankan untuk kepentingan bersama, tidak hanya untuk lembaga dan himpunan saja, tetapi mahasiswa khususnya FTI yang tidak berlembaga sekalipun merupakan elemen penting dalam KM UII ini,” Kata Bima selaku peserta sidang umum.

Baca Juga:  TOLAK SAJA ITU

Ralat:
Sebelumnya kutipan Tahmid Ksatria Suci pada paragraf terakhir berbunyi “Entah kenapa saya gak suka dengan orang apatis” diubah menjadi “SU ini enggak perlu ada orang yang pintar ngomong. Percuma saja kalau dia pintar berdialektika dan pintar ngomong tapi eksekusinya enggak ada. Sama aja nol kosong. Diharapkan SU ini memiliki 2 sisi yaitu tidak hanya paham secara materi tetapi juga mengerti dalam implementasinya”.

Bagikan: