Renovasi yang ada pada gedung K.H. Mas Mansyur diharapkan dapat membantu mahasiswa difabel dalam menjalani aktivitas kampus.

Berbeda dari sebelumnya, tampak beberapa proses pembangunan fasilitas di Gedung K.H. Mas Mansyur. Seperti pembangunan di pintu masuk timur dan toilet yang terletak di lantai satu, tepatnya ruang 01.06. Pembangunan ini ditujukan agar Fakultas Teknologi Industri ramah difabel.

Terkait pembangunan tersebut, Imam Djati Widodo, selaku Dekan Fakultas Teknologi
Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), menjelaskan ingin memberikan kenyamanan bagi semua mahasiswanya. Selain itu, pengadaan fasilitas ini juga sebagai langkah untuk sertifikasi yang lebih tinggi. “Terlepas dari itu, kita ingin memberikan kenyamanan bagi yang membutuhkan,” jelas Imam. Selaras dengan deklarasi kampus ramah difabel yang ditandatangani oleh Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) pada 16 Desember 2017 di Fakultas Hukum. Di mana di dalamnya UII menyatakan diri sebagai kampus inklusi bagi semua.

Rakhmat Ramadhan adalah mahasiswa jurusan Teknik Kimia. Ia merupakan mahasiswa
angkatan 2017. Rakhmat termasuk salah satu penyandang difabel yang ada di FTI. Hingga saat ini ia

Baca Juga:  Tak Penuhi Aspek, LPJ LEM FTI Ditolak

hanya menggunakan alat bantu berjalan yang berupa kruk. Perihal fasilitas bagi difabel yang diberikan fakultas, ia tidak tahu mengenai hal tersebut. “Cuma kalau menurut saya ada tapi kalau sekarang mungkin belum diberikan,” tambahnya. Ketika ditanya terkait pembangunan fasilitas ramah difabel, seperti toilet di lantai satu, ia menanggapi bahwa hal tersebut merupakan hal yang positif. Menurut Rakhmat, dengan dibangunnya fasilitas ramah difabel, dapat mempermudah penyandang difabel untuk berkuliah di FTI.

Ada pula, Amalia Rachel, salah satu mahasiswa yang pernah menggunakan kruk dikarenakan kecelakaan. Ia mengungkapkan, dahulu ketika masih menggunakan alat bantu, kesulitan ketika menaiki tangga. Mahasiswa jurusan Teknik Kimia angkatan 2016 ini juga menambahkan kesulitan untuk mengakses toilet yang ramah difabel. Menurutnya toilet yang ramah difabel adalah toilet duduk dan toilet yang seperti itu di FTI hanya ada di lantai dua. “Jadi itu kesusahan begitu kalau ke kamar mandi harus kayak nahan-nahan dulu buang airnya,” pungkasnya.

Wacana terkait pembangunan lift di Gedung K.H. Mas Mansyur sebenarnya telah direncanakan. Lokasi untuk lift sendiri sudah ada. “Depan itu kan sebetulnya ruang lift, sebelah pojok yang biasa dipakai untuk satpam (Satuan Pengamanan) ke atas itu. Kalau Anda masuk, kirinya itu ada kotak, kotak dari awal itu sebenarnya diset untuk lift,” jelas Imam. Menurutnya, untuk beban listrik tidak menjadi masalah. Pembangunan lift ini, tambahnya, terkendala biaya dalam proses pengadaan lift itu sendiri. Imam mengatakan dari pihaknya sudah meminta dana ke (Pusat Fasilitas Kampus/Badan Wakaf) untuk pengadaan lift tetapi belum ada. "Belum ada uang jadi belum bisa
karena harganya cukup mahal sekitar 400-500 juta”.

Baca Juga:  Babak Baru Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika

Untuk lift sendiri, sebenarnya sudah ada di Gedung Barat yang juga digunakan bersama
dengan Fakultas Ilmu Agama Islam. Gedung yang notabene digunakan oleh mahasiswa FTI untuk keperluan praktikum, selain untuk kegiatan perkuliahan formal. Namun, lift tersebut diperuntukan untuk barang. Imam menjelaskan, “Itu (lift) sudah ada sejak kita tahun 96 itu sudah ada liftnya cuma lift barang. Karena tak terawat seperti itu jadi kadang-kadang kalau naik itu lantainya enggak tepat.” Ia bercerita dahulu pernah ada kejadian, salah seorang mahasiswa yang mencoba lift tersebut. Kampus dibuat gempar karena lift yang dinaiki berhenti di lantai dua setengah.

Saat penerimaan mahasiswa baru, fakultas tidak memberikan batasan bagi mahasiswa
berkebutuhan khusus. Imam mengatakan bahwa adanya mahasiswa berkebutuhan khusus tidaklah menjadi masalah. “Kita itu memberi kesempatan bagi mereka semua.” Rakhmat mengamini hal tersebut. Ia mengatakan hanya tes buta warna saja yang diuji ketika akan mendaftar, di mana tes tersebut khusus untuk calon mahasiswa jurusan Teknik Kimia. Terkait fasilitas difabel di FTI untuk ke depannya, Rakhmat menambahkan, sebaiknya diperbanyak. “Saya enggak masalah kalau dibantu- bantu gitu enggak masalah. Saya bisa sendiri. Tapi kalau yang lain mungkin setengah mati harus pakai tongkat harus pakai kursi roda, mungkin ya, itu mungkin menurut saya. Tergantung pribadinya” imbuhnya.

Baca Juga:  Upaya Keraton Mempertahankan Makna Perayaan Sekaten

Reportase bersama: Dimas Bintang P., Yuniar Trias F.

Bagikan: