Seiring berlangsungnya era globalisasi, banyak perkembangan yang dapat kita temui di zaman ini. Teknologi yang semakin canggih mampu merubah sesuatu yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Dengan kata lain, temuan manusia yang terus diriset dan dikembangkan semakin hari semakin maju dan memberikan dampak yang besar pada kehidupan manusia. Teknologi didesain khusus untuk mempermudah pekerjaan. Tidak menutup kemungkinan beberapa tahun kedepan manusia akan menggantungkan hidupnya pada kecanggihan teknologi.

Teknologi juga memberi perubahan besar pada cara manusia berkomunikasi. Seperti internet yang dapat kita akses melalui komputer dan telepon genggam, memungkinkan kita dapat terhubung dengan banyak orang di seluruh belahan dunia. Kemudahan-kemudahan tersebut secara tidak langsung menjadi fenomena yang menarik seluruh pihak untuk berlomba-lomba memanfaatkannya. Salah satu contoh terpopuler adalah penggunaan sosial media. Sudah menjadi hal yang lumrah ketika instagram.facebook,twitter,dan lain-lain sangat lekat pada kehidupan manusia saat ini. Mungkin akan terasa aneh ketika seharian kita tidak stalking Instagram artis idola atau cek instastory mantan ,hehe.

Banyak hal menarik yang layak dibahas pada fenomena ini. Namun di sini saya akan menitikberatkan pada gaya berkomunikasi baru ala pengguna aktif sosial media (sosmed). Rupanya aktivitas di sosmed juga memunculkan istilah-istilah baru yang unik loh!

Saat berkomunikasi dengan teman-teman di sos med, obrolan dengan bahasa Indonesia yang sesuai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) dirasa terlalu kaku dan kuno. Maka dari itu dengan kreatifitas dan ide kekinian , munculah istilah-istilah baru yang sering digunakan, di mana istilah tersebut juga dibawa ke kehidupan nyata.  Berbagai istilah baru pun bermunculan layaknya jamur di musim penghujan, misalnya saja kata “kuy” yang merupakan kebalikan “yuk” hingga kata “mager” yang merupakan singkatan dari “malas gerak”.

Baca Juga:  Resensi Buku “Pendidikan Kaum Tertindas”

Kali ini, ada satu istilah baru yang masih populer hingga sekarang, yaitu kata “baper”. Awalnya kata baper mulai muncul dan populer pada tahun 2015. Baper sendiri berarti “bawa perasaan”.

Inilah pokok utama yang menjadi pemikiran saya ketika menulis ini, sebab istilah ini cukup membingungkan, bukankah kita kemana-mana membawa perasaan kita? Saat mandi kita bawa perasaan, saat makan kita bawa perasaan. Bukankah perasaan adalah fitrah? Di mana letak salahnya? Bawa perasaan ini digunakan untuk melabeli seseorang yang terlalu banyak menggunakan perasaannya dalam berinteraksi. Pada awalnya bawa perasaan digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sering kali galau, bimbang, hingga susah mengambil keputusan karena ia tidak hanya menggunakan pikiran dalam bertindak namun juga menggunakan perasaannya.

Akan tetapi, bawa perasaan mengalami perubahan makna seiring berjalannya waktu. Kata baper sekarang lebih sering digunakan ditujukan kepada orang yang mudah tersinggung atau marah, akibat “terlalu mengambil hati” atau “terlalu peduli” pada setiap candaan verbal dan candaan lain yang ditujukan kepada seseorang.

Baca Juga:  Menggusur Budaya Apatis dengan Budaya Menulis

Dalam perkembangannya, kata baper sering digunakan dalam kehidupan sosial pada saat berinteraksi. Seperti saat seorang teman melontarkan candaan yang baginya biasa saja, namun bagi si penerima candaan itu, bisa saja kata-kata yang dilontarkan sudah melewati batas wajar. Tidak ada parameter yang pasti tentang batas wajar dalam bercanda dengan seseorang dan tidak bisa kita pungkiri ada perbedaan batas candaan setiap individu manusia. Apabila batasan ini terabaikan, biasanya  menimbulkan rasa tidak suka dan akan berujung pada tersinggungnya salah satu pihak. Sekali orang tersinggung, kemudian orang lain dengan mudahnya mencap dia baperan. Hal ini lama kelamaan menyebabkan kata baper menjadi suatu indikator menilai seru atau tidaknya seseorang, dan secara tidak langsung kita sudah membuat stigma negatif terhadap orang tersebut. Kalian setuju enggak kalau baper dijadikan parameter seru atau tidaknya seseorang dalam pergaulan?

Lucunya, fenomena ini secara perlahan juga menggeser beberapa budaya dan kebiasaan masyarakat. Dahulu ketika seseorang tersinggung oleh ucapan seseorang, maka pihak yang berbuat salah tentu akan meminta maaf. Namun saat ini, ketika kita menemui persoalan-persoalan kecil semacam itu. Dengan mudah kita menyebutnya baperan “Ah,baperan lu,gitu aja marah”. Justru hal tersebut menurut saya mengurangi attitude atau memberikan banyak kesempatan bagi seseorang untuk mengeluarkan statement dengan tujuan menyakiti hati pihak lain. Setelah itu cukup mencap pihak tersebut dengan istilah “Baper”.

Baca Juga:  Ketika Mesin Waktu dan Lubang Hitam Bertemu

Perasaan merupakan sesuatu yang Allah anugerahkan kepada kita sebagai manusia. Pada dasarnya setiap manusia pasti memiliki perasaan. Seperti perasaan suka, sedih, kasihan, dan lain-lain. Perasaan bisa mengekspresikan apa yang kita rasakan. Namun, sekarang apabila kita menunjukkan perasaan membuat kita dicap baperan. Sehingga banyak yang lebih memilih diam dan bungkam. Memang menggunakan perasaan di beberapa situasi itu tidak baik. Apalagi ketika hal tersebut terlalu mempengaruhi kita dalam bertindak dan mengambil keputusan. Jadi, yang menjadi tujuan dan harapan saya di sini kita harus mampu menyeimbangkan antara logika dan perasaan. Apabila salah satunya lebih dominan, maka akan sangat mempengaruhi benar atau salahnya kita bertindak dalam hidup,sebab kita akan dihadapi dengan berbagai macam pilihan setiap harinya. Manusia yang terlalu menitikberatkan logika, sifatnya akan keras kepada orang lain. Sebaliknya manusia yang terlalu menitikberatkan perasaan, sifatnya terlalu lembut dan sensitif. Keseimbangan dari keduanya akan membuat kita memiliki bekal yang cukup dalam menghadapi kehidupan.

Maka dari itu, alangkah lebih baik apabila kita saling menghargai dalam hubungan pertemanan. Terutama saat berkomunikasi dan bersenda gurau. Mungkin saya juga sedang baper waktu nulis ini. Semoga bermanfaat!

 

Bagikan: