Bagaimana reaksi dulur-dulur sekalian saat baca judul di atas? Dengan menyisipkan kata “Pribumi” pada judul di atas saya yakin banget ini, lur, pasti ada bermacam reaksi yang muncul. Jika Anda tersinggung atau marah itu bisa jadi Anda dulu pernah jadi loyalis si kelompok sumbu pendek. Tapi jika Anda spontan tertawa itu tandanya Anda dulu pendukung si kelompok cebongers alias bani serbet. Terus kalau kalian diam dan melanjutkan membaca tulisan ini artinya bisa jadi Anda lah yang disebut orang “Probumi” itu sendiri. Selamat Anda termasuk golongan waras, bung! 

Di tengah perdebatan yang menurut saya sudah tidak asyik lagi yaitu mengenai pribumi atau bukan dan dapat berpotensi memecah belah persatuan umat, saya menghimbau kepada saudara-saudara sekalian yang dirahmati Allah untuk mulai menghilangkan perdebatan dan pertentangan mengenai pribumi ini karena sesungguhnya ini lebih banyak mudaratnya dan sebaiknya ditinggalkan. Gila asyik enggak tuh? Uwuwuwu ~ 

Oke, sebagai gantinya saya coba perkenalkan satu kata baru yang insya Allah lebih berfaedah dan lebih berguna bagi umat dan alam semesta. Kata itu bernama “Probumi”, iya cuma diganti satu huruf doang sih sebenarnya, tapi percayalah sungguh ini sangat berfaedah lur. Kenapa saya ingin sekali kata Probumi mengalahkan hegemoni kata “Pribumi” yang sekarang ini banyak dimanfaatkan dalam masa kampanye? Karena lebih keren aja sih, Jowo banget, dab! wiuwiuwiu ~ 

Berawal dari seorang seniman jalanan dari Bekasi yang dikenal dengan nama The POPO membuat sebuah karya mural yang sangat sederhana sebetulnya. Namun, satu kata yang menurut saya menarik yaitu ia awalnya menulis kata pribumi lalu selanjutnya mencoret huruf I dan diubah menjadi o sehingga menjadi probumi. Lalu ia menjelaskan karyanya tersebut, menurutnya bumi tidak butuh orang pribumi, yang bumi butuhkan hanya orang-orang yang pro terhadap bumi dengan mau menjaga dan merawat bumi itu sendiri agar tetap lestari. Asyik enggak tuh? Setelah saya renungi dan hayati dengan mendalam sambil diiringi secangkir kopi dan gudang garam, ada benarnya juga nih si POPO. 

Dalam rangka memperingati Hari Bumi Internasional yang jatuh setiap tanggal 22 April, saya ingin mengajak dulur-dulur semua mulai sadar untuk peduli dan pro sama bumi yang kita tinggali ini. Kenapa? Karena bumi sudah memberikan semua kebutuhan kita sebagai manusia, Terus? Artinya sekarang kita manusia juga harus menjaga bumi yang sudah mulai renta ini, supaya apa? Supaya ente enggak durhaka, tong! Masih nanya lagi. 

Bumi di usianya yang senja seperti saat ini, penghuninya malah makin tidak beres saja kelakuannya. Alih-alih melakukan perbaikan terhadap kondisi lingkungan yang sudah rusak di sana-sini justru malah semakin parah. Di mulai dari sekitar kita saja dulu lur, misal contoh sederhana seperti perilaku buang sampah sembarangan di masyarakat yang sudah pada taraf yang sangat menjengkelkan. Tidak terkecuali pada level masyarakat terdidik seperti mahasiswa lho ya. Paling kacau lagi kelakuan mereka jika sudah buang sampah ke sungai, entah mau berapa tinggi banjir yang datang mereka tetap slow saja anehnya.  

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, didapati ada 52 sungai di Indonesia berstatus cemar berat dan 20 aliran sungai berstatus cemar sedang hingga cemar berat. Dari data yang sama ada pula 7 sungai yang mengalami pencemaran ringan hingga cemar berat dan 21 sungai di Indonesia yang berstatus memenuhi baku mutu hingga tercemar ringan. Bahkan salah satu sungai di Indonesia yaitu Sungai Citarum yang berada di Jawa Barat berhasil dinobatkan menjadi sungai paling tercemar di dunia oleh World Bank. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Blacksmith Institute dan Green Cross Switzerland malah lebih ngeri lagi, mereka menemukan kandungan timbal lebih dari 1.000 kali standar United States Environmental Protection Agency (USEPA) dalam air minum. Air di Sungai Citarum memiliki konsentrasi Mangan yang hampir empat kali tingkat yang mereka rekomendasikan. Wih, edan enggak tuh? Itu baru contoh kasus dari pencemaran air ya kawan. Sebelum lanjut ke contoh kasus berikutnya, seruput dulu kopinya bosque biar bacanya lebih asoy. 

Oke lanjut, lur, kerusakan alam selanjutnya yang lagi edan di Indonesia ini yaitu alih fungsi hutan. Hutan lindung yang sejatinya menjadi paru-paru dunia semakin hari semakin memprihatinkan nasibnya. Membuka hutan dengan cara membakar menimbulkan kebakaran hutan yang sangat luar biasa dampaknya. Indonesia sendiri pernah mengalami kebakaran hutan dan salah satu yang terparah di dunia, yaitu pada 1997-1998 berdasarkan laporan BAPPENAS dengan luas wilayah terbakar mencapai 9,75 juta hektar. Juga pada tahun 2015 berdasarkan laporan BNPB yaitu 2,089 juta hektar luas wilayah terbakar. Hutan lindung semakin menipis dan berganti menjadi kebun sawit, kawasan industri, pertambangan, permukiman, dan lain sebagainya. Lagi-lagi alam kembali dikorbankan dengan alasan pembangunan. Ya memang maha benar mereka dengan segala uangnya. 

Jika tadi sudah di hutan, sekarang kita coba main di laut. Kasus terbaru tumpahan minyak yang terjadi di perairan Balikpapan beberapa waktu lalu. Minyak yang tumpah tidak sedikit diperkirakan 4000 ton minyak mencemari teluk Balikpapan dan termasuk ke dalam kategori pencemaran berat. Tumpahan  minyak ke laut tidak kali ini saja terjadi, sebelumnya di tahun 2009 terjadi ledakan kilang minyak Montara di Laut Timor NTT. Alhasil perairan Timor pun mengalami pencemaran yang sangat parah. Laporan komisi penyelidikan Australia menyebutkan terdapat 2000 barel cairan minyak dan gas serta kondensat beracun bocor ke Laut Timor setiap harinya. Bocoran tadi mencemari lebih dari 90 ribu kilometer persegi Laut Timor. Itu baru masalah tumpahan minyak, lur. Belum masalah reklamasi, pencemaran sampah di laut, sampai perusakan terumbu karang yang tidak kalah ngerinya. Piye menurutmu lur? 

Dari beberapa contoh kasus di atas, saya kira penyebab utamanya yaitu arus pembangunan. Lagi-lagi kata sakti ini mampu membuat manusia gelap mata sehingga lupa pada bumi. Demi uang sering kali alam selalu dianaktirikan. Bahkan jika mau dilihat dari segi pendidikan pun minim sekali materi yang bisa membuat kita menjadi seorang yang Probumi. Tidak usah jauh-jauh deh, lihat saja di Fakultas kita ini lur berapa banyak SKS yang mengajarkan tentang pelestarian alam dan lingkungan sekitar? Padahal jelas-jelas konsentrasi kuliah kita di bidang keindustrian yang sangat rentan terhadap perusakan alam. Contoh saya deh, dari seratus lebih SKS yang harus dilalui, hanya 2 SKS saja yang bermaterikan lingkungan, sisanya? Ya jelas tentang meminimalkan biaya untuk keuntungan yang sebesar-besarnya! Gimane komentarnya lur? Uwuwuwu~ 

Di kondisi bumi yang sudah tidak remaja lagi, sudah saatnya kita sebagai manusia mulai sadar betapa kelakuan kita sebagai manusia ini sungguh sangat memalukan. Pernahkah terpikir oleh kalian berapa lama lagi usia bumi di saat kondisi yang sudah sangat memprihatinkan seperti saat ini? Apakah kita masih pantas menyandang gelar khalifah di muka bumi ini jika masih saja berperilaku sebagai perusak bumi? Dan di saat pohon terakhir ditebang, sawah terakhir digusur, sungai terakhir dicemari, apakah kalian sadar jika uang banyak yang kalian miliki tidak ada gunanya? Mari introspeksi diri dan mulailah dari melakukan hal-hal yang kecil untuk menjaga lingkungan dan bumi kita. Tidak perlu dijabarkan seperti apa hal-hal tersebut, karena kalian sudah besar dan ingat kalian mahasiswa! 

Penulis adalah mahasiswa jurusan Teknik Industri angkatan 2014.

Baca Juga:  Suratmu Hambat Ujianku

REFERENSI

  1. https://tirto.id/suramnya-mutu-air-sungai-indonesia-cmnr
  2. https://science.idntimes.com/discovery/eka-supriyadi/menurut-world-bank-citarum-merupakan-sungai-terkotor-di-dunia-c1c2/full
  3. https://tirto.id/suramnya-mutu-air-sungai-indonesia-cmnr
  4. https://tirto.id/kerugian-masif-kebakaran-hutan-indonesia-bG1h
  5. http://disasterchannel.co/wp-content/uploads/2015/10/media_Analisis-luas-hutan-dan-lahan-terbakar-2015_30-Oktober-2015.pdf
  6. https://katadata.co.id/infografik/2018/04/17/9-insiden-tumpahan-minyak-di-laut
  7. https://nasional.tempo.co/read/793541/rakyat-ntt-gugat-montara-di-pengadilan-australia
Bagikan: