Di negara maju seperti Jepang, kebiasaan mengantre sudah cukup membudaya di kalangan mereka. Bagaimana dengan negara kita? Bahkan kampus kita? 

Saya terkadang iri pada negara lain yang menerapkan budaya tertib dengan baik, contohnya Jepang. Orang-orang yang sangat peduli tentang berharganya waktu yang jika terlambat sedikit, meminta maaf berulang kali. Manusia yang berjejer panjang dan rapi demi mengantre barang yang diinginkannya. Barangkali, itu hal yang utopis untuk terjadi di Indonesia. Saya pun tidak mau terlalu banyak berharap dengan budaya tertib di sini. Pasalnya, kita hanya dididik untuk menjadi cerdas dalam urusan akademik, tapi tidak untuk menjadi disiplin dalam berbagai hal. 

Kita ambil salah satu contoh yang ada di kampus kita, parkiran kendaraan roda dua. Lebih tepatnya antrean keluar dari parkiran kampus Fakultas Teknologi Industri (FTI) dan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Mungkin pembaca sekalian sudah sadar akan hal ini. Tapi izinkan saya untuk mengulangnya.   

Kalian tahu kan bahwa setiap menjelang asar dan magrib antrean untuk keluar dari parkiran kampus selalu panjang? Apalagi ketika menjelang salat Jumat. Antrean mengular, mungkin mencapai 30 motor berjejer. Maaf, bukan berjejer rapi. SEMRAWUT. 

Mengapa bisa saya katakan semrawut? Pengalaman berkali-kali sudah saya dapatkan sewaktu mengantre dengan tertib ketika antrean panjang. Bahkan, saya rela memutar arah dan mencari celah dari parkiran motor untuk mendapatkan antrean paling belakang sesegera mungkin. Dengan sabar dan wajah berseri-seri menantikan kepulangan. Tiba-tiba seorang (atau beberapa) langsung memotong barisan dari tengah tanpa merasa berdosa. Apakah mereka bahkan menganggap bahwa hal itu adalah hal yang wajar dan patut dimaklumi? Siapa yang tidak dongkol dengan hal ini? Ketika kita sudah membuang waktu dengan mengantre barisan, lalu ada beberapa orang memotong barisan untuk mendapatkan antrean bagian depan dengan instan. 

Ah, mungkin birokrat kampus yang maha benar tidak mengerti atau bahkan tak akan peduli akan hal ini. Bagaimana tidak? Parkiran kendaraan mereka sudah dispesialkan. Tak boleh mahasiswa yang memarkir kendaraannya pada jatah parkir mereka. Seolah yang boleh terlambat dan tidak mematuhi aturan hanya mereka. Tidak dengan kami, mahasiswa rendah yang hanya mengendarai kendaraan roda dua. Rela mengantre untuk pulang dan beristirahat namun menghadapi masalah seperti ini. Senang rasanya menjadi petinggi di kampus yang rahmatan lil alamin ini. 

Sebenarnya, ini salah siapa? Orang yang tidak mematuhi aturan? Sistem parkiran kendaraan roda dua? Atau para pembuat aturan kampus? 

Wahai birokrat kampus, apakah kalian hanya menunggu datangnya mukjizat dari Tuhan untuk menyadarkan mahasiswa bodoh tak tahu malu tersebut untuk disiplin dalam mengantre? Apakah kalian tidak mau berbuat apa-apa dan membiarkan saja hal ini hingga ada suatu kejadian yang meresahkan kalian? Tidakkah kalian merasa bersalah kepada kami yang sudah sadar disiplin dalam mengantre yang merasa dongkol karena ulah para mahasiswa itu? Tak patutlah kalian berbuat seperti itu di instansi pendidikan seperti kampus ini.

Baca Juga:  Lafran Pane ku Sayang, Lafran Pane ku Malang

Tidakkah kalian sadar apabila hal seperti ini dibiarkan begitu saja, maka kebiasaan ini akan membudaya? Tentunya hal ini akan memiliki dampak berkelanjutan dan berantai pada tiap individu. Bagaimana kalian akan memperbaiki hal-hal besar apabila hal sepele seperti ini pun tidak kalian indahkan? Sadarkah kalian pada kebiasaan dan budaya masyarakat Indonesia yang harus diatur agar tertib? Untuk mencapai pada tingkat orang-orang sadar akan pentingnya disiplin, butuh proses yang cukup lama. 

Saya rasa, untuk memperbaiki sistem parkiran kendaraan roda dua tidaklah sulit. Cukup jadikan parkiran menjadi satu jalur yang sangat panjang dan menutup jalur yang akan menyebabkan orang memotong jalan. Terkendala biaya? Saya rasa pun tidak. Cukup beberapa batang kayu dan tali rapiah pun cukup untuk merealisasikannya. Hanya tersisa niat dan hati nurani yang perlu untuk ditingkatkan. Atau mungkin perlu untuk dirombak ulang sistem parkiran roda dua di kampus FTI dan FTSP. Saya tidak menuntut fasilitas yang bagus atau “wah”. Saya hanya ingin kampus sadar akan pentingnya disiplin dan membiasakan mahasiswanya. 

Saya tidak dapat membayangkan apabila seorang mahasiswa atau alumni UII yang berada di luar negeri. Lalu ia sudah terbiasa dengan budaya yang tidak tertib di Indonesia dan menerapkannya pada negara yang disiplinnya sangat ketat. Ketika ditanya mengapa ia bisa begitu, ia akan menjawab, “Karena kami sudah terbiasa melakukan ini di kampus kami.” Siapa yang akan malu? 

Penulis adalah mahasiswa jurusan Teknik Informatika angkatan 2016 dan Staf Redaksi LPM Profesi FTI UII periode 2017/2018 

Bagikan: