Tidak mudah menjadi seorang pemimpin, terlebih memimpin civitas academica. Menjadi rektor takkan semudah memimpin organisasi mahasiswa. Oleh karena itu, saya tidak akan berharap banyak pada rektor baru kita. Namun, ada satu harapan yang semoga dikabulkan oleh rektor kali ini, yaitu lebih memperhatikan pergaulan mahasiswa. Universitas Islam Indonesia (UII) berbeda dengan institusi pendidikan tinggi lainnya. Kampus ini merupakan institusi pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Banyak yang luput dari perhatian kita terkait pergaulan mahasiswa. Sudahkah kita mengetahui apa yang mahasiswa UII lakukan setelah proses belajar-mengajar selesai? Kemanakah mereka bermain ketika akhir pekan?

Sudah menjadi rahasia umum untuk siapa mahasiswa UII. Mahasiswa yang dicap memiliki banyak harta dan senang berfoya-foya. Tak sedikit mahasiswa UII yang berplesiran ke tempat hiburan malam. Mungkin ada yang bilang, “Oh itu hanya sebagian kecil saja,” tapi apakah memang benar seperti itu? Silakan temanteman mencari tahu sendiri kebenarannya. Ada juga yang mengatakan, “Oh itu urusan mereka.” Tidak, ini urusan kita bersama, karena kita ada di dalamnya. Nama kita dipertarukan atas kelakuan mereka.

Baca Juga:  Majalah PROFESI 2016

Inilah tantangan rektor baru, mencari solusi atas mengatasi masalah lama. Apa guna fasilitas yang mewah, tetapi tidak dapat dimanfaatkan. UII harus membangun fasilitas yang tidak hanya sekedar mewah. Namun, lebih daripada itu, UII harus membangun fasilitas yang mempunyai nilai. Ciptakanlah kebijakan yang dapat menjadi sarana menyalurkan minat dan bakat mahasiswa. Wadahilah tanpa membatasi minat mereka. Nilai-nilai keislaman jangan hanya dijadikan dagangan untuk diperjualbelikan. UII bukan syarikat dagang, melainkan wadah berkembangnya mahasiswa. Jangan terus-menerus memperdebatkan hal-hal yang dasar. Kita semua sudah tahu dan teramat bosan dengan penyampaian nilai-nilai dasar tanpa penerapan. Jadikanlah nilai Islam sebagai jalan hidup di UII. Janganlah hanya mengingatkan tentang nilai-nilai dasar, tapi pengimplementasiannya terbatas.

Baca Juga:  SUPLeMEN - Maret 2016

SUPLeMEN – April 2018Mahasiswa perlu pemahaman dan pengimplementasian nilai-nilai Islam dalam menjaga pergaulan. Kembangkanlah ide-ide kreatif untuk memasukan nilai Islam dalam keseharian. Jangan terlalu kaku, karena mahasiswa bukanlah budak pengetahuan. Mahasiswa tidak mempan diberitahu dengan kekerasan. Mungkin mereka yang mempan belum sepenuhnya menjadi mahasiswa. Mahasiswa butuh dialog kritis untuk meyakini nilai-nilai kebenaran. Mereka tidak mudah berkompromi dengan sesuatu, kecuali dalam keadaan tertekan. Mahasiswa tidak ingin memahami sesuatu pemahaman karena tertekan. Hasilnya tak akan semaksimal ketika mereka benar-benar meyakini ketika melalui proses pemikiran sendiri.

Bagikan: