Berita ini merupakan salah satu tulisan yang pernah diterbitkan di produk GONJANG-GANJING edisi April 2018

Menuntut ilmu di luar kota sudah menjadi hal lumrah bagi sebagian orang. Hal itu disebabkan oleh pendidikan yang menjadi prioritas utama saat ini. Untuk tinggal berjauhan dari orang tua pun tidak lagi menjadi halangan untuk menggapai cita-cita. Namun, bukan berarti risiko dan tantangan yang muncul akan mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan dengan matang sebelum memulai perjalanan.

Berbicara mengenai persiapan, salah satu hal yang menjadi kebutuhan pokok adalah tempat tinggal. Indekos, rumah kontrakan, apartemen, atau membeli rumah dapat menjadi alternatif bagi para perantau. Dari sekian alternatif tersebut, pilihan yang paling banyak digandrungi adalah indekos dan rumah kontrakan. Dari segi kebutuhan, kedua tempat inilah yang dianggap pas untuk porsi pelajar. Mereka tentu tidak membutuhkan rumah yang terlalu luas untuk hidup sendiri. Terlebih, harga yang harus dibayar untuk satu kamar kos atau rumah kontrakan pun lebih terjangkau.

Baca Juga:  TIdak Butuh Orang Pribumi, Bumi Hanya Butuh Orang Probumi

Ada beberapa mahasiswa yang menceritakan pengalaman mereka ketika memilih tempat tinggal di kota pelajar ini.

Cut Rizky, Mahasiswa Jurusan Teknik Industri angkatan 2017 memilih untuk mengontrak rumah. Hal ini dikarenakan, ia tinggal di Yogyakarta bersama kakaknya. “Jadi, kalau ngekos entar malah jarang ketemu,” jelasnya. Selain itu, ia juga menambahkan dengan mengontrak rumah bersama kakaknya, ia dapat menghemat biaya karena ditanggung bersama. Rizky mengatakan lebih nyaman mengontrak daripada indekos. “Soalnya enggak terikat aturan sama kalau ada keluarga datang, bebas,” pungkasnya.

Ada pula Fahrul Asshiddiqqi, Mahasiswa Jurusan Teknik Industri angkatan 2017. Ia memilih untuk Indekos dibandingkan untuk mengontrak rumah. Menurutnya, indekos lebih dipilih laki-laki. Hal tersebut dikarenakan ketika memilih untuk mengontrak, harus membersihkan rumah. “Kalau ngekos sudah ada jasa cleaning service yang bersihin dan enggak harus persiapin segala kebutuhan kamar sendiri,” jelasnya.

Baca Juga:  Saya Indonesia atau Indonesia untuk Saya

Mereka juga berbagi tentang kriteria tempat tinggal yang mereka pilih. Cut Rizky menyampaikan kriterianya dalam memilih rumah kontrakan adalah yang dekat dengan kampus. Sehingga hanya perlu jalan kaki. Selain itu, fasilitas lengkap dan dekat dengan tempat makan. Sedangkan untuk indekos, Fahrul memilih yang sesuai dengan keadaan keuangan. Lingkungan yang bersih juga menjadi salah satu kriteria baginya. “Dekat kampus, dekat masjid,” imbuhnya, “WiFi cepat, tempatnya strategis, dekat jalan.”

Itulah pendapat beberapa mahasiswa perihal tempat tinggal. Apa pun jenis tempat tinggal, semua tergantung pribadi masing-masing. Selama kita berpegang pada prinsip dan selalu berusaha untuk merasa nyaman dan betah di lingkungan tersebut semua tidak akan menjadi masalah. Walau sebenarnya memang tak ada tempat yang lebih nyaman dibanding rumah sendiri.

Baca Juga:  Resensi Buku “Pendidikan Kaum Tertindas”

Tim Reportase: Ardhanariswara Fika Mahartian dan Yuni Nur Anggraini

Bagikan: