Berita ini merupakan salah satu tulisan yang pernah diterbitkan di produk SUPLeMEN edisi April 2018

Tidak banyak mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) yang memahami bagaimana detail remediasi yang berada di kampus. Hal ini memunculkan berbagai kekhawatiran dan pertanyaan di dalam pikiran mereka.

Pada tahun 2014, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) mengeluarkan Peraturan Rektor nomor 05/PR/ REK/BPA/III/2014 tentang Pedoman Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa Program Strata Satu dan Diploma III di Lingkungan UII. Peraturan tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa berhak mendapatkan perbaikan nilai dengan mengulang mata kuliah dan/atau melalui ujian remediasi.

Dari delapan fakultas yang ada di UII, hanya Fakultas Ekonomi yang tidak mengikuti aturan tersebut. Fakultas tersebut menggunakan sistem remediasi plus. Imam Djati Widodo selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII periode 2014-2018 mengatakan bahwa peraturan yang disepakati bersama adalah remediasi. Semester pendek hanyalah istilah untuk remediasi plus. “Cuma itu (remediasi plus) nanti jadi masalah di administrasi, ketika nanti pelaporan ke dikti (KEMENRISTEKDIKTI) dan sebagainya jadi masalah,” lanjutnya.

Peraturan ujian remediasi sendiri tertuang dalam Peraturan Rektor nomor 22/Rek/PR/20/ DA/VII/2011 tentang Revisi Pedoman Penyeleggaraan Ujian Remediasi Pada Program Studi Strata-1 UII. Isi peraturan tersebut menjelaskan bahwa remediasi bisa dilaksanakan apabila bobot nilai akhir dari Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) minimal 50%. Pembobotan tersebut berdasarkan kesepakatan antara dosen dengan mahasiswa pada kontrak belajar di awal perkuliahan. Nilai maksimum yang dapat dicapai melalui Ujian Remidiasi adalah A. Nilai akhir yang dipergunakan adalah nilai yang terbaik.

Baca Juga:  Suwarti, Wanita Konstruksi

FTI sendiri masih menggunakan aturan baku remediasi berdasarkan Peraturan Rektor nomor 22/Rek/PR/20/DA/ VII/2011. Hal berbeda berlaku pada mahasiswa program studi Jurusan Teknik Elektro angkatan 2017 dan Teknik Informatika angkatan 2016. Kedua jurusan tersebut telah menggunakan kurikulum baru di mana terdapat Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Hendrik, selaku Ketua Jurusan Teknik Informatika, menjelaskan perihal CPMK. Ia mengatakan bahwa yang diujikan dalam remediasi bukan model komponen UTS dan UAS. Tetapi, komponen Capaian Pembelajaran Lulusan yang kurang dari mahasiswa. Sehingga, untuk memperbaiki nilai, mahasiswa hanya perlu mengerjakan soal ujian CPMK yang belum lulus.

Sedangkan untuk program studi Teknik Kimia, Teknik Industri, dan Teknik Mesin masih menggunakan kurikulum lama. Untuk Teknik Kimia sendiri, semua dosen diwajibkan untuk mengadakan remediasi. Ketua Jurusan Teknik Kimia, Faisal R.M., membenarkan perihal remedial ini. “Karena apabila tidak maka akan ada teguran dari saya,” tambahnya. Dosen diperbolehkan tidak mengadakan remediasi untuk alasan tertentu, seperti sakit dan tidak sempat membuat remediasi, sakit, harus berobat, dan meninggal dunia. Menurutnya remedial merupakan hal yang sangat perlu dilaksanakan, karena remediasi diadakan untuk membantu mahasiswa.

Baca Juga:  Kegiatan Konsolidasi, Ruang Diskusi Bagi Lembaga Mahasiswa FTI

Dibandingkan dengan program studi lain, Teknik Informatika memiliki persentasi nilai yang berbeda. Hendrik mengatakan dalam satu program studi antar mata kuliah dan antar dosen pun dapat berbeda. Ia meneruskan mata kuliah di Teknik Informatika lebih banyak menggunakan model pembelajaran team teaching. “Misal, kita (mengadakan) kelas paralel empat atau lima kelas, ya semua dosen harus memiliki komponen nilai yang sama,” jelasnya. Hal yang sama berlaku untuk mata kuliah yang menggunakan model tersebut. Semua dosen yang mengampu mata kuliah tersebut harus memiliki komponen nilai yang sama bahkan soal ujian pun sama.

Hasil dari ujian remediasi, Imam mengatakan umumnya untuk jumlah 100 mahasiswa adalah satu minggu. Sedangkan untuk jumlah mahasiswa di atas 100 adalah 10 hari. Ia menjelaskan perihal keterlambatan dosen memberikan nilai remediasi. Hal tersebut tergantung program studi masing-masing. Untuk Teknik Informatika dan Teknik Elektro nilai sementara akan otomatis menjadi B. Apabila mahasiswa mendapatkan nilai lebih dari B, maka dapat diperbaiki. “Tapi setiap dosen memiliki waktu 7-10 hari itu untuk mengoreksi itu,” lanjut Imam. Ketika ada dosen yang terlambat memberikan nilai, merka akan mendapat teguran.

Baca Juga:  Inovasi Konsep Pekan Taaruf (PETA) FTI 2014

Terkait hasil dari ujian remediasi, Hendrik mengatakan nilai harus diserahkan ke jurusan atau ke bagian akademik dua samoai tiga hari sebelum masa yusidium semester. Apabila mendapatkan jadwal di akhir masa ujian, dosen diberikan waktu tujuh hari. Ketika dosen melewati tenggat tersebut, ia akan mendapatkan sanksi yang dapat berupa teguran atau hukuman yang lain seperti pengurangan jatah Satuan Kredit Semester (SKS).

Mengenai biaya ujian remediasi yang berbeda-beda pada tiap angkatan, Faisal, menjelaskan bahwa biaya tersebut diukur dengan uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Uang tersebut disesuaikan dengan SPP tiap angkatan, sehingga berbeda besarnya. “Karena tidak mungkin apabila ada kenaikan SPP, uang remediasi per SKS angkatan sebelumnya dinaikkan, takutnya akan menimbulkan halhal yang tidak diinginkan seperti demo dan lain-lain,” pungkasnya.

Selanjutnya, biaya tersebut akan disalurkan untuk operasional, panitia, pengawas, dan dosen yang membuat soal. Hendrik mengatakan, tidak ada sisa dari biaya tersebut yang dimanfaatkan untuk keperluan lain. “Karena kita kan sudah ada komponen untuk yang lain, misal Catur Dharma untuk fakultas, untuk lab ya lab ada untuk lab, sepanjang yang saya ketahui,” ujarnya.

Reportase bersama: Tiara Habiba J. dan Syaffa Maila H.F..

Bagikan: