Matahari baru saja menampakkan diri dari persembunyiannya. Terlihat seorang wanita paruh baya telah sibuk dengan sapu ijuknya. Tubuhnya yang mungil begitu cekatan membersihkan setiap sudut kantin. Suginem, begitu ibu ini biasa disapa. Tidak banyak yang memperhatikan bagaimanai ibu ini bekerja. Padahal ibu Suginem merupakan kunci dari bersihnya kantin mawar. Sebenarnya, jam kerja ibu Suginem mulai pukul delapan pagi sampai pukul tiga sore. Namun, ia biasanya sudah berada di tempat kerja sebelum pukul tujuh pagi. Hal tersebut dilakukannya supaya ia bisa membersihkan kantin lebih cepat, sehingga ketika ada mahasiswa yang ingin sarapan, kantin sudah dalam keadaan yang bersih.  

Sebelum ibu Suginem mulai bekerja di Kantin Mawar, kantin ini selalu terlihat kotor dan kurang asri. Melihat keadaan tersebut pimpinan kantin meminta untuk dicarikan orang yang ingin bekerja membersihkan kantin ini. Begitulah awal mula ia bekerja di kantin ini. Pekerjaan yang selalu ia lakukan seperti menyapu, mengepel, dan mengelap meja selain itu,  ibu Suginem juga menjaga tanaman yang ada di halaman depan kantin. Terbukti dengan kreatifitasnya ibu Suginem menjadikan plastik bekas minyak goreng sebagai tempat tanaman. Awalnya, ibu Suginem hanya diupah empat puluh ribu dengan uang makan lima ribu per harinya. Namun, seiring berjalannya waktu upah tersebut bertambah menjadi lima puluh ribu dengan uang makan sepuluh ribu per hari.  

Sebelum bekerja di kantin ini, ibu Suginem pernah bekerja di sebuah pabrik garmen. Gaji yang diterimapun lebih besar dari pada sekarang, yaitu sekitar tiga sampai empat juta. Namun, setelah dikaruniai seorang anak ibu ini memilih berhenti karena waktu kerja di pabrik tersebut yang terasa banyak menyita waktunya. Selain itu  ia memiliki alasan khusus untuk bekerja di kantin, “Fokus ngurus anak, ngurus suami, ngurus keluarga. Pokoknya waktunya untuk keluarga. Kalo waktunya dihabiskan untuk kerja, yang di rumah kasian.” Begitulah kata ibu Suginem. Jadwal kerja di pabrik tersebut  yang cukup padat membuat ia memilih untuk berhenti agar bisa lebih menjaga keluarganya. Ibu Suginem lebih memilih bekerja disini karena waktu bekerja yang lebih fleksibel sehingga ia masih memiliki banyak waktu luang untuk mengurus keluarga. Walaupun ia ingin membantu suaminya dalam menafkahi keluarga, tetapi ia selalu berusaha untuk tetap menanjalannkan tugasnya sebagai   seorang istri dan juga seorang ibu. 

Sudah lima tahun lamanya ibu Suginem bekerja dikantin ini. Walaupun dengan gaji yang kecil, ia tetap menerimanya dengan rasa syukur, terlebih lagi ia hanya bekrja sendiri untuk menjaga kebersihan kantin. Ia juga mengatakan bekerja disini tidak merasa begitu melelahkan karena ia dapat bekerjasama, bercakap-cakapa dengan ibu-ibu penjual kantin lainnya. Canda dan tawa itu dapat mengurangi rasa lelahnya membersihkan wilayah kantin yang cukup luas. Ketegaran yang kuat, selalu tertanam dalam diri ibu Suginem. Ia merupakan ibu dari dua orang anak yang salah satu anaknya berkebutuhan khusus. Anak sulungnya yang merupakan anak berkebutuhan khusus sekarang duduk di bangku sekolah menengah atas dan anak keduanya duduk di bangkus sekolah menengah pertama. Meskipun demikian, jarak antara keduanya 14 tahun. “Hamil dulu saya sering sakit-sakitan,waktu lahir terus umur 4 bulan dia koma. Terus habis itu perkembangannya jadi lambat.” Tutur Ibu Suginem. Itulah sebabnya ia sangat mementingkan keluarganya dan memilih bekerja di kantin dengan gaji seadanya dari pada bekerja di pabrik dengan waktu yang banyak tersita oleh pekerjaan.  

Ibu Suginem selalu menjalani semuanya dengan ikhlas dan tulus. Pekerjaan yang sehari-harinya ia jalani dengan sepenuh hati dan dengan rasa tanggung jawab yang besar. Walaupun sudah tak muda lagi, tubuhnya tetap giat dalam membersihkan seluruh bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh salah seorang pemilik kantin ketika ditanya mengenai Ibu Suginem. “Kerjanya lumayan kok, maksudnya bersih gitu loh. Dari pada dulu kotor sekarang bersih gitu,” tutur salah seorang penjual di kantin tersebut.  

Beberapa tanggapan dari mahasiswa angkatan baru yang kami wawancarai hampir keseluruhan tidak mengetahui keberadaan Ibu Suginem sebagai satu-satunya petugas kebersihan kantin, sedangkan beberapa dari mahasiswa angkatan lama sudah ada yang mengetahui bahwa di kantin tersebut hanya ada seorang petugas yang membersihkannya.  

Dilihat dari cukup luasnya jangkauan lingkungan sekitar kantin yang harus ibu Suginem kerjakan setiap harinya, beberapa mahasiswa mengharapkan adanya petugas kebersihan tambahan untuk menjaga kebersihan lingkungan kantin. Beberapa tanggapan mahasiswa mengatakan bahwa, “Perlu ditambah sih. Soalnya itu ibu-ibu. Kasian juga kalo dia bersihinnya sendirian. Padahal kantin kita lumayan besar untuk satu orang. Sebenernya sih butuh sih tambah satu atau dua orang itu setidaknya untuk ngeringanin aja. Walaupun udah dari yang tadi sebelumnya kan saya bilang tiap stand udah bersihin tempat-tempat dagang mereka sendiri.”

Baca Juga:  Bukti AMDAL UII Ada di FTI

Tim Reportase: Siti Asiyah F., Luna Bunga K., Diana Puja A., dan Adelia Sukma A.

Bagikan: