Berita ini merupakan salah satu tulisan yang pernah diterbitkan di produk SUPLeMEN edisi PESTA UII 2018

Penambahan atribut lain dalam koreografi Mahasiswa Baru Universitas Islam Indonesia menyita perhatian dari berbagai pihak

Pra-Pesona Taaruf (PESTA) adalah salah satu acara penyambutan mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII). Acara ini dilaksanakan di lingkungan Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang Km. 14,5 pada tanggal 14 Agustus 2018. Pada tahapan ini, ada beberapa rangkaian acara yang diselenggarakan oleh pihak panitia PESTA UII 2018 seperti Koreografi, Social Project dan pembagian co-card.

Lebih jelasnya, Koreografi merupakan agenda tahunan dalam penyambutan mahasiswa baru UII 2018 yang diharapkan dapat lebih memperkenalkan UII kepada masyarakat. Dalam hal ini UII bekerja sama dengan pihak Campus Boys UII (BCS UII) untuk merancang gambar dan juga bentuk koreografinya. Rangkaian acara koreografi pun telah dilaksanakan sebanyak dua kali sebelumnya, yakni pada tahun 2016 dan 2017.

Pada rangkaian acara koreografi yang dilaksanakan di Lapangan Sepakbola UII ini terdapat empat bentuk formasi yaitu 73 tahun, Free Palestine, Support Asian Games 2018, dan Logo UII. Pertimbangan panitia PESTA UII 2018 memilih formasi ini yang diungkapkan oleh Umbu Zisokhi Telaumbanua selaku Koordinator Komisi A (KOM A). “Kalo logo UII udah jelas kita di UII. Kalo 73 tahun kita kan mau memperingati umur dari Indonesia tersebut jadi 73 tahun. Untuk Free Palestine kita sebagai support kepada sesama muslim di Palestina dan untuk support Asian Games itu karena kita kan sudah mendekati Asian Games. Nah kita dari UII menyuport (mendukung) juga Asian Games”.

Baca Juga:  Penyelewengan Dana Triwulan oleh Wakil Mahasiswa

Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini terdapat penambahan atribut pada Logo UII yaitu gambar 3D. Gambar 3D tersebut muncul setelah Logo UII yang merupakan lukisan dari sketsa wajah Muhammad Hatta dan Lafran Pane. “Kalo Moh Hatta itu kan dia sebagai wakil presiden satu (pertama), dia juga sebagai bapak proklamator berdirinya UII. Kalo Lafran Pane ini, itu kan dia mahasiswa atau alumnus dari UII yang telah diangkat menjadi pahlawan nasional,” ungkap Umbu. Perbedaan ini merupakan rembukan dari seluruh panitia Steering Comittee (SC) PESTA UII 2018 yang menginginkan adanya perubahan dari tahun sebelumnya.

Gambar 3D ini menuai kontroversi dari berbagai pihak salah satunya dari mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI). Bima Baranza selaku Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FTI UII mengungkapkan bahwa ia tidak ingin acara orientasi mahasiswa ini digunakan sebagai salah satu “tunggangan” oleh pihak eksternal kampus. Hal tersebut disampaikan oleh Bima pada kegiatan mediasi yang dilakukan antara pihak Rektorat UII dengan perwakilan mahasiswa FTI (14/08/18).

Di sisi lain, dari pihak departemen acara sendiri tidak mengetahui adanya lukisan dari sketsa wajah Muhammad Hatta dan Lafran Pane. Mereka mengaku tidak menerima konfirmasi dari pihak panitia SC PESTA UII 2018. Mengenai hal ini, Komisi 1 Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII, Ilham Prakas Karlesta mengonfirmasi bahwa memang yang mengetahui gambar koreografi itu pihak DPM UII, SC dan BCS sendiri. Ilham menyampaikan bahwa konsep koreografi ini memang tidak dipublikasikan karena sifatnya sebagai kejutan. Hal ini dikarenakan gambar tersebut dibuat oleh pihak Campus Boys UII. Adapun yang menjadi Liaison Officer (LO) BCS dari pihak SC. Berbeda halnya apabila yang menggambar itu dari pihak Organizing Committee (OC), maka boleh dipertanyakan sedangkan dalam hal ini yang berhubungan langsung adalah pihak SC dan BCS.

Baca Juga:  Ketersediaan Fasilitas Ramah Difabel di Kampus FTI

Tim pelaksana koreografi pada acara PESTA UII 2018, Campus Boys UII mengonfirmasi mengenai gambar sosok Lafran Pane. Mereka berkata bahwa tim ini hanya sebagai pelaksana teknis, tidak sampai pada perencana. Mereka mengaku memiliki bukti berupa sketsa wajah Lafran Pane dan Muhammad Hatta.

Menanggapi hal ini, Barik Wahyu Romadlon selaku Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komisariat Wahid Hasyim berkata “Tidak ada hak istimewa apapun, karena di sini para pendiri UII terutama Bung Hatta, K. H. Wahid Hasyim, Mas Mansyur, Roem, Kahar Muzakir, dulunya mereka adalah pejuang-pejuang bangsa kan founding father negara sekaligus UII”. Barik pun menambahkan sebagai sesama organisasi eksternal kampus harus sadar bahwa mereka adalah organisasi eksternal tidak akan menjadi lembaga internal kampus. Di lain pihak, Rohidin selaku Wakil Rektor 3 UII mengatakan bahwa ia tidak mempermasalahkan adanya lukisan dari sketsa wajah dua tokoh tersebut dalam koreografi. Hal ini disebabkan sulitnya untuk menentang hal itu mengingat kedua tokoh tersebut sangat berjasa bagi Indonesia.

Baca Juga:  Lahir Lagi, Antologi Karya Anak Negeri

Barik berharap pada PESTA UII untuk dapat menempatkan posisi antara intra ataupun ekstra kampus. Tidak ada istilah anak emas atau alasan apapun. “Semua mempunyai peran dan fungsi masing-masing, semuanya mahasiswa, semua organisasi ekstra mempunyai peran masing-masing” ia melanjutkan. Ia pun berharap siapapun tokohnya, siapapun pemimpinnya, pemimpin dalam lembaga maupun rektorat mampu bersikap bijaksana. Lebih lanjut, seorang pemimpin harus bertindak adil untuk antar golongan demi mengurangi konflik-konflik yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi.

Tim Reportase: Fariza Halidatsani A, Siti Umi Nurhavizza.

Hak Koreksi: Redaksi meminta maaf atas kesalahan penulisan nama tim yang mengerjakan Koreografi PESTA UII 2018. Sebelumnya kami menuliskan Brigata Curva Sud (BCS) UII yang menjadi tim pengerjaan Koreografi PESTA UII 2018. Akan tetapi DPM UII meminta hak koreksi untuk mengganti kesalahan penulisan tersebut. Pengerjaan Koreografi PESTA UII 2018 dilakukan oleh Campus Boys UII.

Bagikan: