Pasar Beringharjo, pasar tradisional di Yogyakarta yang terletak di Jalan Malioboro selalu ramai dipenuhi oleh penjual dan pembeli. Kegiatan transaksi jual beli yang terjadi di pasar tradisional ini menarik minat pengunjung Jalan Malioboro. Selain tersedianya berbagai macam barang dagangan untuk dipilih, harga barang di pasar ini relatif murah. Melihat ramainya transaksi jual beli antara pelanggan dan pembeli, menarik jika kita juga menyoroti sistem penyewaan lapak di pasar ini.

Secara umum, sistem pengelolaan pasar berbeda di setiap lantai. Badan pengelola Pasar Tradisional Beringharjo dibagi menjadi dua, lantai satu dikelola oleh Dinas Perindustrian. Lantai dua dan tiga dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis yang dibawahi oleh Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Pengelola penyewaan lapak Pasar Beringharjo lebih mengutamakan penjual lama dibandingkan dengan penjual baru. Hal ini disebabkan sistem sewa yang mendahulukan waiting list yang telah terdaftar. Setelah waiting list kosong, maka penyewa lain yang tidak termasuk dalam daftar atau waiting list akan mendapat tempat. Dampaknya pedagang baru butuh waktu lama untuk mendapatkan lapak. Kebanyakan penjual di Pasar Beringharjo merupakan pedagang turunan, dari generasi ke generasi. “Orang lama aja susah apalagi orang baru,” ungkap Denti, pedagang aksesoris di lantai tiga Pasar Beringharjo.

Baca Juga:  Mahasiswa di tengah Polemik Pembangunan Bandara NYIA

Lantai dua dan tiga Pasar Beringharjo memiliki dua jenis lapak, yaitu kios dan konter. Ada hal-hal yang menjadi pembeda antara kios dan konter. Kios adalah toko yang ukurannya besar sedangkan konter adalah lapak yang disediakan di pinggir lorong dan berukuran lebih kecil. Jika kios memiliki tembok pembatas di antara pedagang yang satu dan lainnya, konter tidak memiliki itu. Perbedaan lainnya terletak pada ukuran lapak. Kios memiliki ukuran yang bermacam-macam, sedangkan konter tidak. Oleh karena itu, tarif yang ditetapkan untuk setiap kios variatif tergantung letak kios tersebut.

Terdapat tiga jenis kelas kios di lantai dua dan tiga. Kelas strategis satu adalah kios yang terletak di jalan utama. Untuk kelas strategis dua persis di belakang strategis satu, sedangkan untuk strategis tiga bertempat di pojok-pojok dan jarang dilewati calon pembeli. Biaya sewa kios kelas strategis satu lebih mahal dibandingkan dengan strategis dua dan tiga. Tempat penyewaan lapak ditentukan berdasarkan dua hal, seperti yang diutarakan oleh Trilinga selaku staf bagian kerjasama UPT Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, “Kami mengutamakan satu, sesuai zona. Kedua, mungkin kemampuan si pedagang itu untuk membayar karena  keluasan. Semakin luas berarti semakin mahal. Semakin dia di tempat yang strategis dia juga semakin mahal. Jadi dia tidak bisa memilih.”

Baca Juga:  Warisan Budaya Raja Pertama Kasultanan Yogyakarta

Sementara itu, sistem sewa yang diterapkan UPT Pusat Bisnis Pasar Beringharjo mengharuskan penyewa lapak membayar terlebih dahulu sebelum menggunakan lapak. Rentang waktu penyewaan lapak adalah tiga tahun. Apabila setelah melewati tenggat waktu itu para pedagang tetap ingin menyewa, maka mereka harus melakukan proses perpanjangan penyewaan. Prosedur pembayaran yang diterapkan adalah pembayaran dilakukan tiap bulan. Dalam pengelolaan penyewaan lapak, tidak diterapkan aturan denda yang diberikan kepada penyewa apabila telat dalam membayar uang sewa. Namun, penyewa diberikan Surat Peringatan (SP) dari satu hingga tiga. SP satu diberikan ketika penyewa telat membayar uang sewa lebih satu hari dari tanggal yang ditentukan, SP dua diberikan hari kedua, dan SP tiga diberikan hari ketiga. Jika setelah diberikan SP ketiga penyewa tetap tidak bisa membayar, maka pihak pengelola akan mencabut izin berjualan mereka.

Secara garis besar rentang biaya penyewaan kios-kios yang memiliki ukuran dua belas meter persegi sekitar 12 juta rupiah per tahun. Sedangkan untuk ukuran yang mencapai 40 meter persegi memiliki harga sewa sekitar 26 juta per tahun. Untuk menyewa lapak, terlebih dahulu diharuskan membayar uang muka 30 persen dari harga sewa. Kemudian sisa pembayaran dicicil setiap bulannya. Sementara itu, untuk penyewaan konter tidak diperlukan uang muka. Tarif untuk menyewa konter rata-rata 700 ribu rupiah tiap bulannya. Biaya yang harus dibayarkan tersebut sudah termasuk service charge yang meliputi eskalator, toilet, kebersihan selasar, dan uang sapu.

Baca Juga:  Penjaja soal UPCM Hiasi UII

Tingkat kepatuhan pembayaran di lantai dua dan tiga dinilai baik, hal itu terbukti ketika pihak UPT Pusat Bisnis hanya melakukan pencabutan lapak sebanyak tiga kali dalam masa pengelolaannya. “Tingkat kepatuhannya bagus kok di sini, pembayarannya tidak pernah lewat bulan,” ungkap Trilingga. Untuk penjual ilegal yang berjualan tanpa memiliki lapak tidak ditemukan di lantai dua dan tiga karena petugas keamanan memiliki data setiap pedagang di sana sehingga dapat dikontrol setiap saat. Selain itu sebagian besar dari mereka adalah orang lama yang telah berjualan sehingga sudah dikenal oleh para penjaganya.

Reportase bersama: Yahya, Luna, dan Diana

Bagikan: