Berita ini merupakan salah satu tulisan yang pernah diterbitkan dalam produk SUPLeMEN edisi PESTA UII 2018

Pelaksanaan Social Project yang berlangsung pada hari Selasa 14 Agustus 2018, diwarnai dengan beberapa masalah.

Kegiatan Social Project (Sospro) merupakan rangkaian acara pra pelaksanaan Pesona Ta’aruf (PESTA) UII yang diadakan pada hari Selasa (14/8/2018). Social Project sendiri dibagi menjadi dua kegiatan, yaitu membersihkan masjid dan berbagi sembako kepada warga yang kurang mampu. Tujuan dari kegiatan ini adalah timbulnya kesadaran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat dan terciptanya kebersihan publik. Tahun ini, Sospro mengambil tema “UII Mengabdi untuk Negeri”.

Untuk konsep Social Project, mengalami sedikit perubahan dibandingkan dengan tahun lalu. Perubahan tersebut terletak pada pembagian jamaah yang mengikuti sospro dan koreografi. Hal ini diungkapkan oleh Falah Ferdan Denita Putra selaku Koordinator Divisi Acara Organizing Comitee. Ia mengatakan, “Secara garis besar sebenarnya itu pembagiannya acak.” Ia menambahkan tiap jamaah diambil lima orang. Lanjutnya, hal tersebut dikarenakan divisi acara lebih memfokuskan kepada mahasiswa baru yang mempunyai riwayat sakit. Ia mengkhawatirkan mereka yang sakit ketika mengikuti koreografi jatuh sakit atau pingsan. Sehingga, lebih baik untuk ditempatkan di pos-pos sospro.

Baca Juga:  Mempertanyakan Demokrasi Melalui Aksi Diam Kamisan

Panitia telah menyiapkan lokasi sospro sebanyak dua puluh titik yang tersebar di daerah Lodadi dan Pakem. Masing-masing daerah ada sepuluh titik meliputi masjid, panti asuhan, dan warga kurang mampu. Khusus untuk daerah Pakem, lokasi yang dipilih adalah Dusun Pakem Tegal, Desa Pakembinangun tepatnya di RT 36 hingga 41. Barang-barang yang dibagikan adalah beras, mi instan, dan alat tulis. Untuk beras dan mi instan disiapkan oleh mahasiswa baru sedangkan untuk alat tulis disiapkan oleh panitia. Masing-masing mahasiswa membawa beras sebanyak dua kilogram dan mi instan tiga bungkus.

Namun dalam pelaksanaannya, kegiatan ini mengalami beberapa kendala. Diantaranya adalah waktu yang molor, kurangnya koordinasi, hingga panitia yang masih kebingungan mencari lokasi.  Kendala pertama yang dihadapi adalah mulai kegiatan yang molor lebih dari setengah jam. Seharusnya, kegiatan dimulai sejak pukul 08.45 WIB, tetapi hingga pukul 09.30 WIB mahasiswa dan panitia pendamping belum sampai di lokasi. Bahkan, panitia yang bertugas untuk mendampingi mahasiswa pun masih belum tahu lokasi pasti pelaksanaan kegiatan.

Selain itu, antara panitia dengan ketua RT lokasi pelaksanaan sospro terdapat kekurangan koordinasi. Hal tersebut menyebabkan para ketua RT merasa kebingunan terkait kegiatan yang akan dilaksanakan. Rintu Handoyo, selaku ketua RT 41, mengiyakan hal tersebut. “Kemarin ini teknisnya mau seperti apa? Apakah RT-nya ikut langsung atau pak RT-nya diam di rumah atau mahasiswanya bergerak sendiri?” Ia menambahkan panitia hanya sebatas memberi surat permintaan izin pelaksanaan kegiatan. Terkait teknis, dari pihak panitia nanti akan menghubunginya, tetapi hingga kegiatan berlangsung belum ada yang menghubungi. “Ya makanya saya tinggal,” ujarnya. Koordinasi yang terjadi adalah sebatas pemberian izin untuk membersihkan masjid dan daftar warga kurang mampu yang ada di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Inovasi Konsep Pekan Taaruf (PETA) FTI 2014

Untuk kegiatan berbagi sembako, masalah timbul ketika barang akan dibagikan kepada warga. Mahasiswa hanya memberikan sembako di beberapa titik saja, tidak menyeluruh di semua titik. Lokasi lain yang tidak sempat terjamah mahasiswa, sembako dibagikan oleh panitia. Namun, hal ini menimbulkan kebingungan di dalam panitia. Hal ini terjadi karena kurangnya koordinasi antara divisi acara dan divisi hubungan masyarakat dan transportasi (humstrans). Akibatnya staf humstrans harus berkeliling mencari lokasi pembagian sembako. Kendala juga muncul ketika mahasiswa yang mengikuti sospro akan pulang ke kampus. Mereka harusnya mendapat kudapan terlebih dulu sebelum kembali ke kampus. Tetapi, panitia yang membawa kudapan terlambat datang sehingga mahasiswa baru juga terlambat kembali kampus. Mahasiswa yang mengkuti kegiatan sospro di daerah Pakem baru sampai di kampus ketika mahasiswa yang mengikuti koreografi sudah selesai makan siang. Akibatnya kegiatan koreografi dan sospro yang harusnya telah dijadwal berakhir secara bersamaan tidak berjalan sesuai jadwal.

Baca Juga:  Bakti Sosial dari alumni FTI UII

Meskipun mengalami kendala, mahasiswa baru yang mengikuti sospro mengaku senang dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Walaupun diminta untuk membawa beras dan mi instan, mereka tidak merasa keberatan sama sekali. Karena dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini mereka bisa membantu warga sekitar yang kurang mampu. Selain itu, mereka juga bisa membersihkan tempat ibadah. “Seneng sih. Enggak kalau capek, soalnya kan dikerjain bareng-bareng. Jadi cepet selesai juga,” ungkap Risma, mahasiswa baru jurusan Ilmu Kimia. Ia berharap, kegiatan seperti ini terus ada karena sangat bermanfaat dan bisa meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Reporter: Luna

Bagikan: