Tidak terasa PEMILWA KM UII sudah datang lagi, periode pendek yang terburu-buru ini akhirnya sampai juga di akhir periode. Bahkan saat saya menulis tulisan ini beberapa tahapan PEMILWA sudah dilaksanakan. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya, PEMILWA KM UII hadir di tengah kesibukan mahasiswa dengan urusannya masing-masing. 

Yang ingin saya garis besari di sini perihal PEMILWA KM UII yang belum mempunyai spotlight cukup untuk mengundang antusiasme mahasiswa. Namun, kali ini saya tidak akan membahas kenapa PEMILWA seperti ini ataupun seperti itu. Mungkin masing-masing dari kita mampu melihat kurang dan lebihnya dari sudut pandang yang berbeda. Semua orang berhak menilai dan mungkin mencoba peruntungan untuk mengubahnya ke depan. 

Saya di sini hanya mencoba sedikit beropini tentang calon-calon legislator, khususnya di tingkat Fakultas Teknologi Industri (FTI). Sedikit meracau tentang bagaimana seharusnya dan bagaimana semestinya. Sepakat tak sepakat silakan dikoreksi dan dijadikan bahan diskusi. Sambil ngopi-ngopi mungkin? Karena menurut saya, apa pun masalahnya dapat dibahas secara santai di sudut tempat ngopi. Berbekal poster-poster tentang kampanye PEMILWA dari FTI, saya coba menelaah apa yang teman-teman saya ini ingin sampaikan. Setelah saya mengumpulkan visi-misi teman-teman calon legislatif, saya coba menganalisis keseragaman dari apa yang mereka cita-citakan. 

Ada 2 kata yang paling banyak muncul yaitu “kritis” dan “harmonis”. Kata ini muncul tiga kali dari calon yang berbeda. Saya sedikit menyimpulkan bahwa beberapa orang di sana sudah satu pemahaman tentang apa yang ingin dibawa dalam menjalankan tugasnya nanti. Dalam pengambilan keputusan yang kolektif kolegial saya rasa kesepemahaman adalah hal yang sangat penting. Selebihnya dari visi-misi yang saya baca, berisikan keinginan-keinginan untuk membawa mahasiswa ke dalam impian mereka. Saya yakin dalam menuliskan ini mereka sudah memikirkan dengan matang untuk mewakili kebutuhan mahasiswa secara keseluruhan, pastinya! 

Tapi begini teman, kalau kita bicara soal peran dari seorang legislator yang bertugas untuk membuat peraturan, di mana peraturan tersebut bersifat mengikat seluruh elemen yang ada di dalamnya. Sesederhana itu! Semua mahasiswa pasti ingin hidup dalam mimpi teman-teman yang mau FTI menjadi kritis dan harmonis. Tapi sudahkah terpikir legislasi semacam apa yang dapat mendukung terwujudnya hal tersebut? 

Kitab legislasi kita adalah ketetapan Sidang Umum FTI. Sudah tampakkah apa yang menjadi masalah di dalam kitab tersebut pada periode ini? Sudah adakah tawaran perubahan yang teman-teman pikirkan? Sampai sekarang saya jujur belum mendapat gambaran. Menurut saya ini harus menjadi titik fokus, bagaimana menyelesaikan masalah dengan legislasi, sesuai peran legislator. 

Berkaca pada Sidang Umum ke XXXVIII FTI saya coba mengutip salah satu produk legislasi terbaik menurut saya. Produk legislasi atau peraturan terbaik yang saya temui adalah pemerataan dana Triwulan ke seluruh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang ada di FTI. Peraturan ini saya rasa sangat luar biasa, berangkat dari keresahan HMJ tentang dana kegiatan yang menumpuk di Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) dan HMJ tidak leluasa mengatur keuangan sendiri. Dari keresahan itu muncullah peraturan yang mencoba menyamaratakan hak dari tiap-tiap HMJ. Dan saya di sini berani klaim bahwa produk legislasi tersebut adalah dorongan dari teman-teman HMJ sendiri bahkan diperjuangkan oleh teman-teman HMJ. Bukan dari legislator. 

Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya ingin saya lihat dari calon-calon legislator. Membaca permasalahan dan menyolusikan dengan legislasi. Apa yang ingin diubah kembali lagi pada ketetapan Sidang Umum. Peranan dalam menawarkan solusi legislasi dalam hal ini yang sangat saya tunggu-tunggu. Sepeka apakah teman-teman dalam melihat masalah yang dapat disolusikan dalam peraturan ataupun perubahan peraturan? 

Mungkin kita sudah melihat jelas apa yang menjadi masalah dalam peraturan periode ini. Apa yang menjadi keresahan mahasiswa dalam menjalankan kegiatan dan perannya? Hal ini tentu adalah imbas dari peraturan yang ditetapkan di sidang umum. Saya hanya menunggu sampai mana perubahan dapat dilakukan. Legislator jangan berbicara teknis. Tugasmu serta produkmu adalah peraturan dan kebijakan, kalau masih berbicara bakal bikin hal ini, hal itu dan hal yang sangat-sangat umum mungkin coba diingat lagi peranmu! 

Penulis adalah Mahasiswa Teknik Informatika 2015 dan Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika periode 2017/2018.

Bagikan: