Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Islam Indonesia (UII) merupakan suatu lembaga serta wadah dari sekian lembaga yang ada di tingkat universitas maupun fakultas. Dewan Permusyawaratan Mahasiswa sebagai legislatif—yang juga merangkap sebagai yudikatif dari KM UII—mengatur dan mengawasi banyak hal. Satu di antaranya adalah keuangan lembaga, bersumber dari dana mahasiswa yang dibayar tiap semesternya. Begitu juga dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa di tingkat fakultas sebagai perpanjangan tangan dari legislatif universitas. Keuangan adalah hal yang sangat rawan untuk disalahgunakan oleh siapa pun. Terlebih, apabila pengawasan terhadapnya sangat kurang dan penggunaannya tidak transparan.

Kabar mengenai penyelewengan dana yang terjadi di Lembaga Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri sudah menjadi rahasia publik. Dalam perjalanannya, telah dibentuk kesepakatan oleh pihak-pihak terkait sebagai usaha untuk mengembalikan dana triwulan yang telah dilarikan tersebut. Namun, sempat terjadi kendala ketika salah satu pihak tidak dapat memenuhi kesepakatan yang telah dibuat. Pihak terkait tidak dapat mengembalikan dana hingga batas waktu yang telah disepakati. Hal tersebut mendasari aksi penempelan poster sebanyak dua kali. Poster tersebut menuntut pihak berwenang untuk segera menyelesaikan masalah ini. Pihak yang memasang poster tersebut hingga kini masih menjadi misteri.

Baca Juga:  Gonjang-Ganjing - Juli 2018

Memang, masa ketika menjadi mahasiswa adalah masa untuk belajar kehidupan bermasyarakat sebelum benar-benar melebur dan menjadi bagian di dalamnya. Namun, bukan berarti ikut menjadi bagian yang sudah lestari sejak zaman orde baru: korupsi, kolusi, dan nepotisme. Karena, terlepas dari doktrin usang tentang segala fungsi mahasiswa, apakah perilaku tersebut mencerminkan seorang intelektual. Atau memang hal tersebut merupakan budaya dari kita, mahasiswa, yang mengeksklusifkan diri di atas menara gading?

Kemudian datanglah Pemilihan Wakil Mahasiswa (PEMILWA) KM UII sebagai pertanda akhir dari periode 2017/2018. Lalu, bagaimana dengan kelanjutan kasus penyelewengan dana ini? Siapa yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut? Akan ditujukan ke mana ketika suatu hari nanti dana tersebut kembali? Akankah masuk ke dalam Dana Abadi yang tidak jelas kegunaannya? Ini menjadi tugas kita bersama sebagai mahasiswa untuk mengawasi mereka yang membuat kebijakan. Kalau bukan diri kita sendiri, kepada siapa lagi kita akan menggantungkan harapan?

Baca Juga:  SUPLeMEN - PETA 2015

Silakan unduh pada tautan berikut: SUPLeMEN – November 2018

Bagikan: