“Semua  bisa jadi mawapres, tinggal kita punya keinginan dan usaha yang maksimal atau tidak.

Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) adalah suatu ajang bagi mahasiswa program sarjana maupun diploma yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) setiap tahunnya. Para mahasiswa berprestasi dari universitas di seluruh Indonesia, baik universitas negeri maupun swasta akan bersaing untuk menjadi yang terbaik.

Untuk menjadi mahasiswa berprestasi tentunya butuh usaha dan proses yang besar pula. Seperti yang  dijelaskan pada buku Panduan Pemilihan Mawapres, terbitan Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), definisi mawapres adalah mahasiswa yang berhasil mencapai prestasi tinggi, baik di bidang kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

Menjadi mawapres tidak pernah terlintas di pikiran Rafik Prabowo, mahasiswa kedokteran angkatan 2015 ini. Ia awalnya tidak tahu menahu mengenai mawapres dan  ia hanya aktif di organisasi seperti lembaga penelitian, hingga akhirnya membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan mempublikasikannya di Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) maupun konferensi-konferensi internasional. Siapa sangka, prestasi-prestasinya itu mengantarkan ia menjadi perwakilan fakultas kedokteran dan dinobatkan menjadi mawapres Universitas Islam Indonesia (UII) tahun 2018.

Baca Juga:  Periodisasi Selesai, Laporan Pertanggungjawaban LEM FTI UII Diterima

“Semua  bisa jadi mawapres, tinggal kita punya keinginan dan usaha yang maksimal atau tidak,” ujar Rafik Prabowo atau yang akrab disapa Bowo ini. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan untuk tidak menjadikan mawapres sebagai tujuan utama, namun tetap lakukanlah yang terbaik sesuai bidang dan kemampuan diri sendiri. “Menurut saya, jangan jadikan mawapres sebagai sebuah tujuan utama, tetaplah lakukan semaksimal mungkin yang temen bisa sesuai dengan bidang kalian.”

Sebagai seorang MAWAPRES UII dan lolos menjadi finalis Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional (PILMAPRES) tahun 2018. Ia memaparkan tips yang harus dipersiapkan agar dapat mengikuti ajang mawapres ini. Berikut penjelasannya.

Pertama; Prestasi Akademik. Dalam ajang mawapres, mahasiswa harus memiliki nilai akademik baik yang ditunjukkan dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tidak kurang dari 3,00. Ia mengatakan jika poin ini merupakan poin yang lebih rendah dibandingkan indikator penilaian lainnya. Sehingga ia menyarankan untuk tidak merasa minder dengan IPK yang kita punya. “Jangan minder dengan IPK, tapi jalani saja selagi temen-temen punya prestasi yang lebih banyak,” tutur Bowo.

Baca Juga:  Telisik Dana PESTA UNISI 2017

Kedua; Karya Tulis Ilmiah (KTI). Ia menyarankan untuk membuat KTI yang memuat unsur novelty atau kebaruan. Selain itu, KTI yang dapat lebih mudah untuk diaplikasikan juga merupakan hal yang penting. Ia juga menambahkan, “KTI mawapres ini bersifat gagasan, bukan dalam bentuk penelitian. Jadi buatlah gagasan, yang analisisnya sebagus mungkin, yang noveltynya dapet dan juga kreatifitasnya dapet,” ujar pria yang berasal dari Rokan Hulu, Riau ini.

Ketiga; Prestasi. Aktif ikut serta dalam berbagai lomba antar mahasiswa sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab, seorang calon mawapres akan diminta untuk mencantumkan sepuluh prestasi terbaiknya saat menjadi mahasiswa. Untuk mendapatkan poin yang optimal pada penilaian ini, prestasi yang dikumpulkan juga harus sesuai dengan jurusan masing-masing, kemudian usahakan lomba yang diikuti minimal tingkat nasional dan prestasi tersebut dicapai secara individu.

Baca Juga:  Penyelewengan Dana Triwulan oleh Wakil Mahasiswa

Keempat; Kemampuan Berbahasa Asing. Seorang calon mawapres akan mempresentasikan KTI-nya dengan menggunakan bahasa Inggris. Dalam hal ini, Bowo menyarankan agar mahasiswa untuk latihan presentasi dan melakukan tanya jawab dengan sesama teman, menurutnya hal ini dapat membantu untuk meningkatkan kemampuan presentasi jika dilakukan secara rutin.  “Untuk temen-temen yang seperti saya yang tidak lancar bahasa Inggrisnya, tapi ketika punya semangat untuk latihan, untuk belajar, untuk terus mengasah bahasa Inggrisnya insyaallah, bisa,” ucapnya.

Selain itu Bowo juga memberikan saran agar bergabung dengan organisasi yang selinier dengan bidang dan juga sesuai dengan kemampuan maupun potensi yang kita punya.

Bagikan: