Berbeda dengan periode sebelumnya, pada periode ini, LPJ LEM FTI UII diterima oleh DPM FTI UII.

Tanggal 9 Januari 2019, bertempat di Auditorium Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FTI menyatakan bahwa Laporan Pertanggungjawaban Lembaga Eksekutif Mahasiswa FTI (LPJ LEM FTI) periode 2017/2019 diterima. Hal ini berbeda dengan periode sebelumnya, bahwa LPJ LEM FTI UII ditolak oleh DPM FTI UII periode sebelumnya.

Fachrizal Tirtana Hadi Nugraha, selaku Ketua Umum LEM FTI UII periode 2017/2019 mengaku terkejut mendengar keputusan dari DPM FTI UII tersebut. Ia merasa, bahwa pada periode ketika ia menjabat, eksekutor yang ia bawahi masih sangat kurang optimal dalam menjalankan kepengurusan. Menurutnya, kurang optimalnya para eksekutor meliputi ketidaksesuaian dengan birokrasi, kelembagaan, kesesuaian proker, dan lain-lain. “Banyak sekali yang saya memang merasa pribadi kurang optimal,” ia menambahkan.

Bahkan, ia mengaku “optimis” bahwa LPJ mereka akan ditolak oleh DPM FTI UII. Hal ini ia lihat dari beberapa evaluasi yang ia cantumkan pada LPJ-nya. Pertama, ia mengaku bahwa ia terlalu memanjakan eksekutornya. Hal ini dilakukan untuk menjaga harmonisasi lembaga. Dampak yang ia rasakan adalah eksekutor di bawah kepemimpinannya sangat bengal dan sering kontra kepada DPM FTI UII. Kedua, ia merasakan bahwa sumber daya mahasiswa yang sangat kurang dari sisi pengetahuan maupun kemampuan. Ketiga, ia menganggap bahwa minat berlembaga di FTI UII cenderung menurun tak hanya di LEM FTI UII, namun hingga Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). “Saya rasa untuk periode ini ya itu kurangnya. Saya tidak tahu bahwa ini bisa dibilang dosa saya atau tidak, tapi memang imbasnya seperti ini,” tambahnya.

Baca Juga:  Sekilas Tentang Atribut

Namun, pria yang kerap disapa Ical ini mengaku bahwa ia sangat puas terhadap orientasi berlembaga di tubuh LEM FTI UII yang ia bawahi. Orientasi yang dimaksud adalah berubahnya orientasi berlembaga yang dapat memberikan kebermanfaatan. Hal ini ia rasakan pada fungsionaris LEM FTI UII sendiri maupun HMJ. Tidak hanya berbicara mengenai kepuasan, ia pun berbicara tentang ketidakpuasan terhadap LEM FTI UII pada periodisasinya. Hal-hal yang menjadi ketidakpuasannya adalah tentang kurangnya loyalitas. Selain itu, ia melihat beberapa anggotanya kurang termotivasi terhadap keuntungan ikut berlembaga dan pengetahuan berlembaga beberapa anggotanya masih terkesan kurang baginya. Memang, Ical menyesalkan belum tercapainya memberikan edukasi berlembaga kepada para eksekutor. Namun, pengetahuan tersebut sudah diberikan ke setiap Kepala Bidang di LEM FTI UII.

Baca Juga:  Belum Sejahtera, Buruh Yogyakarta Merana

Ketua DPM FTI UII periode 2017/2019, Wahyu Bima Baranza mengatakan bahwa terdapat beberapa penilaian yang menjadi acuan dalam penerimaan atau penolakan LPJ LEM FTI UII. Beberapa di antaranya adalah mengenai kelembagaan, internal kelembagaan, hingga sumber daya mahasiswa. Penilaiannya pun dilakukan secara keseluruhan periodisasi, dimulai dari awal hingga akhir periodisasi. Penilaian yang dilakukan pun tidak secara numerik, namun secara bermusyawarah dengan anggota legislatif FTI UII. Penerimaan ataupun penolakan LPJ LEM FTI UII pun dilakukan secara mandiri oleh DPM FTI UII, dengan kata lain, tidak merujuk kepada pihak lain.

Ketika diwawancarai (16/01), Ical belum menerima informasi penilaian yang mendasari diterimanya LPJ LEM FTI UII dari DPM FTI UII. Namun, ia menilai penerimaan LPJ ini sebagai motivasi untuk dapat membenahi hal-hal yang kurang pada periode sebelumnya. Hal yang menjadi kekhawatirannya ketika LPJnya diterima adalah muncul stigma-stigma bahwa penerimaan ini hanya atas dasar kasihan. Mengingat pada periode sebelumnya, LPJ LEM FTI UII ditolak. Selain atas dasar kasihan, penerimaan LPJ ini pun ia khawatirkan akan menimbulkan rasa puas. Alhasil, untuk periode depan, Ical mengkhawatirkan anggota yang melanjutkan akan lebih bermalas-malasan. Namun, sekali lagi, ketika Ical diwawancarai, ia belum mendapat informasi mengenai penerimaan LPJ LEM FTI UII dari DPM FTI UII.

Baca Juga:  PROYEK 10.000 WATT SEL SURYA FTI UII

Ia pun menilai, bahwa penolakan sebuah LPJ bukanlah merupakan hal yang buruk baginya. Ia hanya menganggap bahwa hal tersebut merupakan penilaian. “… dan penilaian, di situ timbul harapan-harapan. Saya cuma pengen secara obyektif aja lah (penilaiannya),” tambahnya.

Reportase Bersama: Muhammad Farhan*

Editor: Chrisna Mahendra Utama

*Magang LPM PROFESI FTI UII

Bagikan: