Dalam setiap masa periode baru, Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (DPM FTI) melaksanakan sebuah Sidang Umum (SU) tingkat fakultas. SU ini sebagai titik awal untuk menetapkan akan bagaimana jalannya lembaga-lembaga di FTI. “Di SU ini monggo dari teman-teman lembaga ada pandangan, ya itu tempatnya, bukan sebagai wadah aspirasi sepenuhnya, tapi cuma lebih ke menekankan teman-teman legislatif. Ini tanggung jawabnya di ketetapan semuanya, tapi dari teman-teman di lembaga kalau mau ada yang disampaikan di SU, ya itu titik awal,” ungkap Pimpinan Sidang Satu, Zul Fathi Fuad Muhammadiy. SU Fakultas (SU F) FTI ke-39 ini dilaksanakan sejak tanggal 9 Januari 2019 dan diharapkan akan selesai selama sepuluh atau sebelas hari. Hal ini diungkapkan Pimpinan Sidang Satu, Zul Fathi Fuad Muhammadiy dan salah satu tim kerja, Ade Muh Akbar. Pada sidang ini akan membahas tujuh materi, yaitu Tata Tertib SU, Garis Besar Program Kerja (GBPK), Tata Tertib DPM, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Mekanisme Kepanitian, dan Protokoler. Seluruh materi itu disusun oleh Tim Kerja. Tim Kerja terbentuk dari perwakilan paling sedikit satu orang setiap lembaga di FTI.

Baca Juga:  UII International Day 2018, Wadah Ta’aruf Mahasiswa Lokal dan Internasional

Saat ini SU F FTI ke-39 telah mengesahkan materi Tata Tertib Sidang Umum, GBPK, dan Tata Tertib DPM FTI UII. Pria yang kerap disapa Ade ini menuturkan, untuk pengesahan hanya dapat dilakukan jika forum menyetujui, lalu pengesahan dilakukan melalui Presidium Sidang. Sementara itu, Fuad menjelaskan Presidum Sidang terdiri dari Pimpinan Sidang Satu, Pimpinan Sidang Dua, dan Notulen Sidang yang merupakan tiga orang dari tujuh legislatif terpilih. Ia pun mengatakan bahwa mekanisme penentuan kedudukan dari ketiga presidium sidang itu dipilih berdasarkan suara terbanyak dari legislatif terpilih bersama dengan tim kerja. SU F FTI ke-39 ini terdiri dari peserta, peninjau dan pengunjung. Peserta merupakan empat orang dari tujuh legislatif terpilih yang bertugas menjelaskan isi dari seluruh pembahasan dalam sidang. Peninjau adalah perwakilan dari setiap lembaga di FTI. Sedangkan pengunjung merupakan mahasiswa dari FTI yang dapat mengikuti jalannya sidang.

Baca Juga:  Ada Apa di Balik Koreografi?

Menurut Ade, sejauh ini kendala pada SU F FTI ke-39 adalah lambatnya kuota forum (kuorum) terpenuhi sesuai ketetapan. Sedangkan di sisi lain, Fuad mengatakan bahwa kendala utama adalah cara berpikir. “Cuma kalau aku nyorotinnya cara mikirnya sih, cara berpikirnya masalah ini nih penting loh kayak gitu,” jelasnya. Jadi, menurut Ade dan Fuad, SU ini sangat penting, di mana jika tidak adanya SU maka kelembagaan di FTI tidak dapat berjalan.

Terkait seberapa penting SU ini untuk dilaksanakan, ada tanggapan langsung dari beberapa mahasiswa. Amalia Nur Hasanah mahasiswa dari Jurusan Informatika angkatan 2017 mengatakan bahwa SU ini penting bagi kemahasiswaan UII, tetapi bagi mahasiswa yang tidak mengetahui SU ini menganggap tidak begitu penting. Menurut Amalia Nur Hasanah, SU F FTI juga sepi yang menurutnya disebabkan karena kurang tersosialisasikan. Tanggapan lain dari Dinastutysakti Bening mahasiswa jurusan Informatika angkatan 2017 yang mengatakan bahwa sidang umum fakultas itu penting untuk bagaimana jalan ke depannya fakultas itu sendiri.

Baca Juga:  Belajar Manajemen Supply Chain dari Raksasa E-Commerce Amazon

Dari semua kendala yang terjadi pada SU F FTI ke-39, ada beberapa harapan dari Ade dan Fuad. Dari Ade berharap, agar kourum cepat terpenuhi agar tidak lagi menjadi kendala dalam sidang. Sedangkan dari Pimpinan Sidang Satu mengharapkan agar cara berpikir dapat berkembang dan semoga SU F FTI ke-39 dapat segera terselesaikan.

Tim Reportase: Adelia Sukma Ardhana, Widi Mustika W*, Amelia*, Nadia Martha N.*

Editor: Vebri Satriadi

*Magang LPM PROFESI FTI UII

Bagikan: