Santiago Berdebu, julukan yang seringkali kita dengar entah oleh siapa disematkan pada lapangan di Universitas Islam Indonesia (UII) kini memiliki wajah baru. Renovasi pada lapangan tersebut pun telah dilakukan dan mencapai tahap akhir. “Mulai dari perataan tanah, penggantian rumput, pemasangan drainase, pembuatan ruang ganti disertai toilet,tutur Budi selaku pekerja lapangan.

Pada awalnya, renovasi ini merupakan usulan dari pihak rektorat dan kelembagaan serta civitas akademika sejak tahun 2016. Mereka menginginkan adanya lapangan yang layak untuk digunakan dalam rangka menunjang kegiatan mahasiswa. Tiga tahun berlalu, akhirnya pihak yayasan pun menyambut baik gagasan tersebut. Bersamaan dengan dibangunnya Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Agama Islam, renovasi lapangan pun diberlakukan, tujuannya ialah efisiensi kerja. Renovasi lapangan tersebut bekerja sama dengan vendor lokal yang mumpuni dan memiliki track record yang baik”, tegas Suharyatmo, Kepala Departemen Infrastruktur Pengelola Fasilitas Kampus (PFK) UII.

Pihak PFK UII pun menjamin bahwa pemilihan vendor berlangsung selektif. Menurut Ahmad Irsan selaku Arsitek sekaligus Staff Pelaksanaan dan Perencanaan PFK UII, bahwasanya untuk pemilihan vendor harus memenuhi beberapa kriteria yaitu memiliki track record yang baik, harga bersaing, dan memiliki nursery sendiri sehingga bisa memudahkan proses perawatan apabila terdapat masalah dengan lapangan terkhusus untuk rumputnya. Salah satu proyek yang telah dikerjakan oleh vendor ialah lapangan sepakbola milik Yogyakarta Independent School (YIS).

Baca Juga:  Tahun ini Pesta Tampil Beda

Renovasi ini berlangsung sejak bulan November dengan konsep lapangan berupa training ground. Pada tahap awal, diberlakukan pemerataan tanah dengan ketinggian 1,2 meter di bawah jalan utama. Kemudian pemasangan pasak drainase serta penanaman rumput. “Rumput yang digunakan ialah Cynodon Dactylon, sama seperti yang digunakan di stadion Bantul,” jawab Suharyatmo ketika ditanya perihal rumput apa yang digunakan. Beliau juga menyampaikan bahwa rumput tersebut telah memenuhi standar nasional. Bersamaan dengan penanaman rumput, dilakukan juga pembangunan ruang ganti dan toilet. Sebenarnya, proses penanaman rumput telah rampung. Namun, lapangan belum dapat digunakan dikarenakan rumput masih perlu penyuburan selama kurang lebih tiga bulan ke depan. Saat diwawancara mengenai kendala, ketiganya sepakat bahwa tidak ada kendala berarti sejauh ini selain cuaca di Sleman yang kerap kali hujan. Proses renovasi lapangan tersebut berlangsung lancar. Secara keseluruhan, proses renovasi tersebut menghabiskan dana sekitar 900 juta rupiah lebih. Pihak yayasan memastikan bahwa anggaran yang digunakan untuk renovasi lapangan tersebut tidak sampai satu milyar rupiah.

Sasaran dari dibangunnya lapangan ini adalah untuk civitas akademika sebagai prioritas utama dan juga akan disewakan kepada masyarakat umum. Menurut Ahmad, penyewaan ini bertujuan untuk memenuhi anggaran dalam hal perawatan lapangan yang menghabiskan dana sekitar enam sampai delapan juta rupiah sekali perawatan.

Baca Juga:  Ironi Antini, Penjual Jasa Ketik Manual

Menariknya, lapangan tersebut tidaklah bersifat permanen, melainkan hanya sementara saja. Renovasi lapangan UII ini diproyeksikan hanya untuk lima tahun ke depan mengingat dalam master plan yayasan, tanah tersebut akan digunakan sebagai tanah Fakultas Ekonomi UII. Sesuai master plan, lapangan asli akan terletak di sebelah barat GOR (Gelanggang Olahraga), ujar Suharyatmo lagi. Untuk saat ini, lapangan tersebut belum bisa dibangun pada lahan yang telah direncanakan dikarenakan masih dalam proses perizinan alih fungsi lahan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Sleman. Diperkirakan, lapangan yang nantinya akan dibangun di sebelah barat GOR tersebut akan memiliki kualitas yang lebih baik disertai dengan tribun. Namun, untuk sementara pihak yayasan masih belum mematangkan grand design lapangan tersebut dan fokus pada renovasi lapangan dengan proyeksi lima tahun ke depan.

Pihak Yayasan Badan Wakaf selaku penanggung jawab pembangunan menyampaikan bahwa pengelolaan lapangan selama lima tahun ke depan merupakan tanggung jawab Rektorat. Begitu pun perihal regulasi seperti apa yang akan diberlakukan terhadap lapangan tersebut. Pihak yayasan baru akan turun tangan apabila terdapat kerusakan yang berarti. Pihak yayasan juga berpesan agar pengelolaan lapangan tersebut dilakukan dengan bijak, seperti tidak mengizinkan lapangan tersebut digunakan sebagai lahan parkir. Pihak yayasan, dan pengelola berharap agar lapangan ini dapat menjadi salah satu icon UII. “… sesuatu yang menjual UII sendiri dan nantinya ini akan menjadi ikon UII. Kalau dulu kan orang bilang lapangan UII, oh lapangan santiago berbatu dan berdebu, tapi sekarang sudah bagus,” jelas Ahmad. Ia menambahkan bahwa perbaikan lapangan ini sebagai bentuk apresiasi dari civitas akademika supaya bisa menyalurkan hobi dan bakat mahasiswa. Ia juga berharap dengan adanya fasilitas ini mahasiswa khususnya tim-tim olahraga UII memiliki wadah dan kebanggaan sendiri.

Baca Juga:  Prahara Key-in Manual

Mahasiswa UII pun menyambut dengan antusias lapangan UII ini. Hal ini diungkapkan Aditia Ilham Pratama seorang mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2017, “pendapat saya bagus ya, karena bila direnovasi maka kita bisa tau bahwa lapangan sebelumnya itu penggunaannya kayak terbatas gitu, orang-orang juga bakal mikir sih sebenarnya mau gunainya gimana. Apalagi kalau misalnya aku pengen main bola, lapangannya jelek kayak gitu jadi takut cidera juga”. Aditia berharap setelah renovasi lapangan UII selesai, agar lapangan tetap bagus mohon untuk dijaga bersama-sama supaya semua mahasiswa UII dapat memakainya dan Unit Kegiatan Mahasiswa diharapkan semakin meningkat prestasinya.

Catatan: Dalam penulisan, penulis dibantu oleh Nur Abdillah Bagus P.*

Tim Reportase: Dewi Nadhiroh, Muhammad Haliq Rizki, Nur Abdillah Bagus P.*, Wisnu Agung Nugroho*, dan Ibnu Zakha*.

Editor: Tengku Auni Syazana

*Magang LPM PROFESI FTI UII

Bagikan: