Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk membuka pikiran mahasiswa yang masih memandang Lembaga Pers Mahasiswa sebelah mata, untuk mereka yang memandang remeh Pers Mahasiswa (Persma) dan menganggap kami adalah musuh. Memang harus diakui bagi sebagian mahasiswa, Persma merupakan sebuah ancaman. Mengapa? Karena kami menulis kebenaran. Mata kami melihat kebenaran dan tangan kami dilatih menuliskan kebenaran tersebut kemudian menyebarkannya.

Lembaga Pers Mahasiswa atau sering pula disebut Persma merupakan suatu lembaga di tingkat mahasiswa yang memiliki fungsi sebagai sarana mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan pikiran seputar isu-isu di lingkungan kampus. Persma ini menjadi suatu lembaga yang penting karena dalam sebuah pemerintahan, yang termasuk di dalamnya adalah universitas, diperlukan adanya lembaga yang dapat mengawasi dan mengkritik serta memberi saran atas jalannya roda pemerintahan. Selain itu, Persma juga memegang peran penting dalam menyebarkan informasi mengenai kegiatan di dalam sebuah perguruan tinggi. Namun di balik
fungsi Persma sebagai penyebar informasi tersebut, sering kali terjadi pro dan kontra bagi civitas perguruan tinggi yang menaunginya. Tak jarang anggota Persma dianggap sebagai mata-mata dan penyebar informasi gelap di lingkungan kampus.

Baca Juga:  REPLICAS : Membangkitkan Keluarga yang Telah Tiada

Sebagai civitas sebuah perguruan tinggi, kita perlu mengetahui perkembangan dari setiap kegiatan di kampus tempat kita menuntut ilmu. Walaupun masih berstatus sebagai mahasiswa, seseorang tetap perlu mengawasi setiap kegiatan yang terjadi di kampus mereka. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari ketidakpastian dan kesewenang-wenangan dalam kebijakan kampus. Untuk itu Persma berperan andil dalam melihat, mengawasi, menelusuri, dan menyebarkan setiap kegiatan yang terjadi di dalam universitas.

Sebagai anggota Persma, sinisme dan penolakan merupakan hal biasa yang diterima dari orang lain. Beberapa pihak merasa ogah berurusan dengan anggota Persma. Kadang Persma harus menerima penolakan wawancara karena mereka takut jikalau salah dalam berbicara kemudian perkataan mereka dijadikan bahan untuk membuat berita. Kadang kami juga melihat anggota Persma “dianak tirikan” dalam kegiatan kampus. Pihak-pihak tersebut merasa terganggu apabila ada anggota Persma yang berpartisipasi dalam kegiatan kampus yang mereka adakan. Tidak hanya di dalam kegiatan kampus, bagi sebagian mahasiswa, berteman dengan anggota Persma dalam kehidupan pribadi pun tidak ingin dilakukan. Mereka takut kehidupan pribadi mereka ataupun perbuatan yang mereka lakukan akan dijadikan berita dan disebarkan kepada khalayak umum.

Baca Juga:  Resensi Novel “Aroma Karsa”

Lalu apakah benar anggota Persma merupakan mahasiswa mata-mata yang hanya menulis berita heboh untuk menarik minat pembaca lantas menyebarkannya begitu saja? Tentu saja tidak. Persma harus melalui beberapa tahapan untuk bisa menerbitkan sebuah berita. Tahap pertama dimulai dari rapat isu. Tahap ini bertujuan untuk menentukan isu apa saja yang layak untuk diangkat di dalam berita yang akan terbit. Setelah itu kami harus mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan isu yang telah diangkat tersebut. Pengumpulan informasi ini macam-macam bentuknya. Bisa dengan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait maupun dengan mencari fakta-fakta di jejaring sosial. Setelah informasi yang dibutuhkan dirasa cukup, barulah berita itu akan dibuat. Berita yang sudah jadi pun tidak langsung diterbitkan begitu saja. Masih ada tahap editing sebagai sentuhan akhir dari pembuatan berita. Jadi berita yang sudah terbit itu telah melalui prosedur dan pertimbangan yang matang sebelum akhirnya bisa dinikmati oleh para pembaca. Semua berita yang diterbitkan ini harus melalui tahapan tadi agar berita yang terbit benar-benar berita yang dapat diyakini kebenarannya.

Baca Juga:  Drama Tempat Parkir di Universitas Islam Indonesia

Jadi, masih pantaskah kami dianggap sebagai lembaga hitam? Perlu ditekankan bahwa kami tidak membuat berita yang hanya menghebohkan saja. Kami menulis fakta dalam setiap kegiatan yang kami muat dalam tulisan dan kami bertanggung jawab penuh atas semua tulisan yang kami terbitkan. Tulisan yang kami buat sesuai dengan kejadian yang terjadi di lapangan. Lantas jika terjadi kekeliruan dalam melaksanakan kegiatan kampus, kami harus diam saja melihat semuanya? Tentunya tidak. Seorang mahasiswa tidak hanya boleh melihat dan mendengar. Tetapi juga harus berani berbicara. Cara kami berbicara dan menyuarakan hak kami lewat tulisan. Tulisan yang akan dibaca semua orang. Bukan bertujuan untuk menjatuhkan pihak tertentu. Tetapi untuk mendapatkan keadilan.

Penulis adalah mahasiswi Teknik Informatika angkatan 2017 dan Staf Bidang Perusahaan LPM PROFESI FTI UII periode 2018/2019

Editor: Tengku Auni Syazana

Bagikan: